Sejarah Kurikulum Indonesia

BANGSA yang besar adalah bangsa yang mempunyai kurikulum pendidikan yang bagus dan stabil (tidak berubah-ubah) serta memberi motivasi pelajarnya agar bisa meningkatkan standar mutu pendidikannya di kemudian hari.

Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap.

Tahun 1950 ada kurikulum SD yang disebut “Rencana Pelajaran Terurai”. Pada tahun 1960 muncul “Kurikulum Kewajiban Belajar Sekolah Dasar”. Tahun 1968 dikenal “Kurikulum 1968″ pengganti “Kurikulum 1950″. Lalu tahun 1970 muncul “Kurikulum Berhitung” diganti dengan pelajaran matematika modern.

Tahun 1975 disebut “Kurikulum 1975″ yang fokus pada pelajaran matematika dan Pendidikan Moral Pancasila serta Pendidikan Kewarnegaraan. Pada tahun 1984 menyempurnakan Kurikulum 1975 dengan “Cara Belajar Siswa Aktif” (CBSA).

Tahun 1991 CBSA dihentikan lalu muncul “Kurikulum 1994″. Tahun 2004 dikenal “Kurikulum Berbasis Kompetensi” (KBK), yang dipelesetkan jadi Kurikulum Berbasis Kebingungan.

Terakhir tahun 2006 muncul “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP), entah berapa tahun lagi ada kurikulum baru yang membuat bingung semua pihak. Siswa kita jangan dijadikan “kelinci percobaan”. Majulah pendidikan Indonesia.

Wisnu Widjaja
Jln. Sindoro I No. 16
RT 11 RW 02 Panggung
Kota Tegal

diambil dari surat pembaca hU pikiran Rakyat

& Komentar »

  1. aya lynn el-syafa berkata

    asslmlkm
    Sy bkn pengamat apalagi pratkisi penidikan, sy hanyalah seorang pelaku (atau ‘objek’?) pendidikan yang (alhamdulillah) telah merasakan bagaimana ‘nano-nano’nya pendidikan kita selama hampir 16 thn lamanya. duh, sy koq kurang enak ya kalau kita disebut sebagai ‘kelinci percobaannya’ pemerintah. bukan sok pro-pemerintahan, tp mbok ya husnudzon ajalah, mereka bkn bermaksud menjadikan kita kelinci percobaan koq, itu hanyalah usaha mereka untuk mencari yang terbaik_karena kita memang harus terus berusaha mencari itu. yoklah kita dukung usaha dan kerja keras mereka, kalo bukan kita , siapa lagi? ya nggak?
    Buat semua yang pernah bernaung dibawah atap pendidikan formal, bersyukurlah atas nikmat itu.

  2. iim hilman berkata

    jika ingin pendidikan yang lebih baik, kita harus mengetahui ilmunya, bagaimana pendidikan yang baik itu. jika memang kurikulum tidak sesuai engan kemajuan ilmu yang ada saat ini mengapa harus kita pertahankan. bukankah l;ebih baik berusaha mencari yang terbaik ketimbang hanya duduk dan menerima masa lalu yang fakum dan tak ada perkembangan. majulah pendidikan indonesia.

  3. agus al muhajir berkata

    “Inovasi tanpa henti ” memang harus terus dilakukan di dunia pendidikan. Bukankah Pendidikan itu harus menjawab peradaban yang juga terus berkembang ?. Namun ada sebuah pertanyaan yang harus kita jawab tentang hal ini, benarkah kita serius untuk membuat kurikulum yang baik ?.

    Dan seorang sahabat sayapun yang dia adalah kandidat Doktor di bidang kurikulum berkata , ” entahlah kang….kami sudah memberi masukan, tapi kamipun bahkan tidak tahu bagaimana kurikulum-kurikulum itu dibuat ????….”

    Majulah pendidikan Indonesia…!!!!!

  4. dewi berkata

    Nah, itulah Indonesia…

    segala bidang selalu dan pasti dikaitkan dengan dunia politik…
    Bahkan pendidikan pun akhirnya dipolitisasi…
    sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil masih berupa kebijakan instan, reaktif, tanpa memikirkan jangka panjang.

    Pembahasan untuk menetapkan kebijakan (termasuk kurikulum, maybe…), saya yakin sudah melalui pembahasan alot, diskusi panjang, berhari2 hingga berbulan2, dengan melibatkan para pakar di bidangnya.

    Keyakinan saya ini sama besarnya dengan kepercayaan saya bahwa rekomendasi dari kerja panjang tersebut masih dapat dikoreksi oleh ‘ia’ yang berhak mengoreksi, mengubah, dan menentukan.

    Maka dari itu, saat ‘ia’ berganti dengan ‘dia’, kebijakan berubah lagi…bukan meneruskan dan memperbaiki yang ada. Biasanya malah kembali ke nol,mulai dari awal…fyuh!…..

    Satu kesempatan saya pernah berdiskusi dengan salah satu koordinator Badan Penyelenggara Sertifikasi Guru yang mengatakan karya tulis ilmiah guru yang dilampirkan dalam portofolio sangat kurang layak. Bahasa amburadul, kurang sistematis, dan bla bla bla lainnya.

    “Ndak usah guru, mahasiswa S3 Indonesia saja masih kesulitan dalam membuat karya tulis. Misalnya, dalam menulis seringkali mereka mendahului dengan “Sebagaimana kita ketahui….”, lha itu wujud dia sendiri nggak paham, dan menggunakan kata itu sebagai tameng”.

    Menurut si bapak ini, salah satu penyebabnya adalah siswa tak dibiasakan dengan tugas karya tulis. Bahkan biasanya karya tulis baru dikenal di SMA, itu pun bisa dihitung dengan jari, padahal di negara lain (masih menurut si bapak), karya tulis sudah dijadikan satu poin pendukung kelulusan mulai tingkat sekolah dasar.

    “Saya sudah memberi masukan…tapi semua terserah pelaku di dunia pendidikan,” katanya.

    Amin, dunia pendidikan maju….
    Indonesia semakin maju…
    *_*

  5. agus al muhajir berkata

    ada satu hal bidang yang tidak pernah dikaitkan dengan politik ( secara Ilmu ) yaitu politik itu sendiri. Makanya perpolitikan di indonesia ini banyak yang aneh.

  6. Sipam berkata

    Pendidikan Indonesia perlu direfleksi, apa sih yang membuat kurikulum kita sering diganti, faktornya adalah:
    “KEMISKINAN”
    1) Kemiskinan akhlak (moral) : Mengapa setiap ganti menteri pendidikan ganti kurikulum, karena kurikulu baru merupakan proyek besar menteri pendidikan dan departemennya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, belum lama ini kita membaca departemen kita yang terkorup adalah departemen agama dan pendidikan ironis bukan!!!
    2) Kemiskinan SDM : Pergantian kurikulum dengan tujuan yang jelas dan masuk akal dapat dicapai serta berguna untuk kemajuan bangsa, di Indonesia masih belum ditemukan. “Pergantian kurikulum” kita selama ini masih meraba-raba tanpa tujuan yang jelas dan bagaimana cara mencapai tujuan juga tidak jelas, tidak percaya silahkan tanya guru-guru kita dari TK s/d SMA apakah mereka tau tujuan kurikulum KTSP dan bagaimana mencapainya? mengapa tidak jelas karena yang membuat kurikulum tidak kompeten dan tidak tau kebutuhan masyarakat! sosialisasinya juga masih setengah-setengah!
    3) Kemiskinan ekonomi: Kita tau bahwa negeri ini masih jalan ditempat dari jaman penjajah sampai sekarang masih miskin, busung lapar dimana-mana, antrian sembako dimana-mana. bagaimana pendidikan akan berhasil kalo untuk makan saja susah, gurunya pusing dengan urusan pemenuhan kebutuhan rumah tangganya, siswanya kelaparan, apa lagi bayar sekolah, sekolahnya ambruk aduh sial amat negeri kita ini!
    Dari faktor-faktor di atas apakah kita musti pesimis terus bunuh diri, ah itu orang yang konyol dan tidak punya iman kali tul gak!
    Apa sih yang perlu kita benahi dunia pendidikan kita:
    1) kita tiru aja kurikulum di Jerman atau negara maju lainnya dengan penyesuaian disana-sini toh negara-negara maju dulu sama seperti kita prosesnya dari negara agraris juga.
    2) kita tambah porsi APBN untuk pendidikan 20% atau lebih dan di praktekkan tidak janji atau aturan doang, kemudian kita awasi dengan institusi independen untuk mengawasi aliran dana tersebut
    3) kita tingkatkan gaji dan kualitas guru-guru kita, kita tahu bagaimana Jepang, Malaysia bisa maju karena mereka sangat menghargai profesi guru-guru mereka!
    akhirnya TETAP SEMANGAT DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA !

  7. tia berkata

    saya s7 banget dgn tlsan saudara,klw indonesia sering ganti kurikulum mlah akan membuat para guru kebinggungan dalam penerapan kurikulum yang baru itu,lgian klw sering ganti kurikulum butuh APBN jga,dari pda kbuang bwt ganti kurikulum kn mending di pakai bwt membntu masyarakat yg mmerlkan.

  8. alvin-InLAC berkata

    Indonesia memang unik, kabinet kementriannya tak ubahnya seperti lakon senat mahasiswa, ganti presiden ganti program dan kesannya kaderisasi (serta tindak lanjut jangka panjang) hanya berupa siklus tanpa ujung dan perhentian. semoga Indonesia lebih baik lagi di masa depan

  9. ale grafity berkata

    Saya sendiri dari dulu juga bingung tentang kurikulum yang sering berganti, senada seperti yang dikutip oleh saudara Wisnu Widjaja diatas. Namun setelah saya bekerja dan terjung langsung dilapangan ternyata ada rasanya yang keliru tentang persepsi pergantian kurikulum ini. Apakah pemerintah yang kurang peka tentang “kemampuan mengajar” guru atau guru yang tidak mampu “mengembangkan pengajaran” yang dilakukannya. Pengalaman saya sewaktu duduk di SD, SMP dan SMA yang semua statusnya “’sekolah ngeri”‘ rasanya tidak ada metode pengajaran yang berikan oleh guru benar-benar kontekstual, sehingga kemampuan siswanya segitu-gitu juga walaupun terjadi pergantian kurikulum pada saat itu. Apakah kurikulumnya tidak bagus ? Atau gurunya yang tidak kompenten ? Sekarang saya juga berprofesi sebagai guru sehingga membuat persepsi saya tentang pergantian kurikulum semakin berubah, bertambah mantap menurut saya sendiri. Setelah saya jalani dan amati sampai sekarang ini ternyata walaupun kurikulum sudah disempurnakan dengan baik (ktsp) menurut pemerintah, ternyata output yang dihasilkan juga sama saja. Hampir tidak ada beda antara kurikulum terdahulu dengan kurikulum terkini. Coba anda pecahkan masalah ini sesuai dengan pengalaman dan kondisi daerah anda sendiri.
    Menurut saya akar dari permasalahan itu yang menyebabkan pendidikan di indonesia ini jalannya terseok-seok adalah tidak tanggapnya pemerintah tentang kompetensi guru yang masih rendah, yang maunya apa adanya saja dalam mengadakan pengajaran tanpa pernah mau memikirkan metode atau strategi apa yang cocok yang diberikan sehingga membangkitkan kemauan atau semangat belajar siswanya. Belum lagi ketidakdukungan pemerintah atas keberhasilan pendidikan itu sendiri karena tidak menjalankan fungsi kontrol yang maksimal. Ditambah lagi sikap sebagian besar guru, baik yang berprofesi “pegawai ngeri” dan “pegawai swasta” yang memang tidak mau dan tidak mampu memikirkan langkah-langkah terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Siapakah yang harus menanggung dosa atas semua ini !
    Apakah pemerintah atau guru-grurunya ! Semoga apa yang saya tuliskan ini tidak sama seperti di daerah anda.

  10. maria Goreti berkata

    saya seorang mahasiswa yang sedang belajar tentang perencanaan pengajaran. saat ini saya sedang mendalami materi tentang kurikulum. ketika saya membaca banyaknya tanggapan dari pribadi-pribadi yang mempunyai hati terhadap dunia pendidikan. wah rasanya saya ikut prihatin juga nich ….dengan banyaknya keluhan para guru yang mengalami kesulitan dalam menerapkan kurikulum KTSP bagaimana yaa… caranya mengatasi kurikulum yang memiliki tujuan pas untuk diterapkan di Indonesia ini. yang sungguh-sungguh dapat menguntungkan kedua belah pihak antara guru sebagai pelaksana kurikulum dan murid sebagai naradidik yang siap memperoleh hal baru. alangkah indahnya jika banyaknya orang yang lemah, miskin, tersingkir dan tertindas dapat terangkat drajat dan martabatnya dalam bidang pendidikan bukankah mereka adalah generasi penerus bangsa Indonesia ini. saya sebagai calon guru mencoba untuk memahami dan belajar akan pengalaman para pendahulu, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan kurikulum di Indonesia ini. apakah tidak ada kurikulum yang sesuai atau relevan dengan situasi kemampuan anak-anak indonesia dewasa ini?

  11. rifai berkata

    sekali lagi, kita jangan biasa apriori. memang perubahan senantiasa dibutuhkan. tidak ada kemapanan di dunia ini. diam saja berubah koq. ttg kurikulum; sebaik apapun sangat tergantung ‘man behind the gun’. kurikulum yang baik hanya ada di tangan guru yang baik. murid sakti itu pasti dilahirkan oleh guru yang sakti, kata dunia persilatan Ko Ping Ho. mutu murid mutu guru. nah gimana kita punya guru yang bermutu. bagaimana profesi guru menarik dan jadi rebutan anak-anak pinter. Kalau masih begini terus, kesejhateraan guru dijanjiin terus, mana ada tertarik anak-anak pinter untuk jadi guru? Trus kapan majunya pendidikan kita? Kurikulumnya canggih, pendidikan gak maju-maju!

  12. rifai berkata

    Diskusi pendidikan yuk lewat dunia maya: mochammadrifai@yahoo.co.id Saya guru di SMA 2 Genteng, Banyuwangi, Jatim. Mantan Kasek SMP 1 Genteng Banyuwangi (2006-2008), SMP SBI angkatan pertama 2006.

  13. ariefbenua berkata

    perubahan kuriklum yang sering terjadi di Indonesia ini membuat guru-guru menjadi bingung,belum beres kurikulum yang terdahulu datang lagi kurikulum yang baru…..

  14. Deden berkata

    Mas,,,saya lagi nyari alasan kenapa kurikulum berganti-ganti…
    sayang bgt, d blog mas cma ada perjalanan kurikulum tanpa memuat alasan pergantiannya.
    Ini sekedar saran, ntar-ntar tambahin alasan kenapa kurikulum berganti-ganti. Informasi itu akan sgt mbantu org2 yg menggeluti dunia pndidikn, seperti kami ini.
    Wassalm.

  15. Taufik Ikhsan berkata

    Assalamualaikum. Kurikulum kita memang berganti-ganti, kurikulum kita memang terus disempurnakan (diubah). kenapa? karena Waktu juga terus berjalan, karena ilmu pengetahuan juga terus berkembang dan tuntutan zaman semakin banyak. Itu memang alasan klasik yang terus dijadikan masyarakat yang bergerak di bidang pendidikan (khususnya yang bersangkutan dengan kurikulum) untuk menyempurnakan kurikulum. Walaupun itu adalah alasan klasik,tetapi itu adalah alasan utama kenapa individu/manusia harus terus mengembangkan potensinya sesuai dengan tuntutan zaman. Salah satu landsan pengembangan kurikulum adalah Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan tuntutan pembanunan daerah, nasional, dan tuntutan IPTEK dan seni. Kurikulum juga bukan suatu tujuan, tapi adalah suatu jalan menuju tujuan. KTSP juga bukan suatu kurikulum yang baru, tapi KTSP adlah KBK yang sistemnya disempurnakan. Hanya sja alam KTSP, tiap sauan pendidikan dapat mengembankan kompetensi dasar dan indikator sesuai dengan potensi sekolahnya tersebut.

  16. Ahmah baidawi berkata

    Mau tanya pak.? Kurikulum di indonesia sekarang menggunakan apa? Soalnx kt temem2 dah di ubah.

  17. Mahmun Zulkifli berkata

    Perubahan kurikulum wajib terjadi di setiap negara yang ingin maju sesuai dengan perkembangan zaman. rasanya Anda tidakmenguasai hal itu. Di Indonesia perubahan kurikulum kalau di ambil rata-rata mengalami perubahan setiap 8 tahun sekali, di negara maju perubahan kurikulum itu dilakukan setiap 4 tahun sekali atau 5 tahun sekali. Di Inggris perubahan kurikulum dilakukan setiap ada hal-haql yang baru dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semoga bermanfaat.

  18. ILHAM berkata

    sebenarnya ini adalah permasalahan klasik dan memang sulit untuk memecahkan” beton kali”, tapi sebagai penerus bangsa kita tetap harus berusaha yang terbaik, secara pribadi: saya sering berontak dalam diri ketika saya dibuat bingung oleh pendidikan, baik itu diswasta ataupun di negri, karna pendidikan kita yang ada di indonesia ini sudah yidak sesuai dengan tujuan negara, ” mencerdaskan seluruh anak bangsa yng ditanggung oleh negara”.
    posisi anak didik sekarang sangat delematis, dan tidak relistis, sekarang tidak harus menyalakan siapa siapa akan tetapi tanggung jawab bersama. dengan adany perubahan itu ada benarnya pakar pendidikan memikirkan tenteng anak didiknya sesuai pengalamannya ,akan tetapi tidak ahrus menyamaratakan. biar tdak terjdi kasus pembocoran jawaba. biar yang pintar itu muridnya bukan guru.
    betul tdak,,,,,,,,, sekedar masukan sipa tau bisa di rekomendasikan….. beberapa pengalaman yang saya ketahui dan saya pelajari . antara yangpro dan kontra….. yang peraturan pemerintah secara total tdak memikirkan potensi yang dimiliki oleh anak didik, yang kontra langsung banting setir mendirikan lembaga sedi sesuai dengan penelitian sendiri, ktakanlah pendidikan alter natif.
    dan untuk sekarang untuk pintar sngat lah MAHAL. ada apa pendidikan ini. tpi jangan kwatir sekarang dari SD sampai SMA ada progam sekolah gratis, akan tetapi failitasnya tidak memenuhi kebutuhan konteks lokal ataupun masa kekinian. untuk mendapatkan fasilitas mapan lagi2 kita harus kaya dulu, jadiorang MISKIN dilarang sekolah.klo bisa pendidikan ini jangan sampai ada perbedaan kelas, akan tetapi melihat potensi anak didik.toh itu demi kepentingan negara kook.
    dan juga peraturan/ kurikulum kalo bisa disesuikan dengan kbutuhan. jangan dibuat samarata, adil tidak harus sama kok. tpi saling memahami . maka pahamilah kami jangan dipaksa. biar tidak menelan korban lebih banyak lagi.
    MAJULAH NEGRIKU

  19. aji berkata

    Kurikulum, itu mengalami perubahan adalah hal yang wajar. Asalkan perubahan itu menuju ke arah yang baik dan mencerdaskan. Apakah Indonesia telah memiliki kurikulum yang mencerdaskan ?

    Terlepas dari pertanyaan itu, saya apresiasi dengan blog ini dengan berbagai komentar yang lahir. Ini menandakan salah satu keberhasilan pendidikan, yaitu berpikir kritis. Saya melihat, dalam opini dan komentar di blog ini, nada-nada kritis terlontar, meski dengan cara pandang dan pemikiran yg variatif.

    Pada intinya, apa yang ingin saya sampaikan adalah, mari kita terus belajar dan bekerja keras untuk mencari ilmu,,, terlepas apa dan bagaimana kurikulum tersebut…

    Kita hargai kurikulum yang formal/resmi, tapi kita tidak boleh menutup mata dengan informasi dan Ipteks yang berkembang secara cepat.

    Sukses untuk Pendidikan Indonesia…
    Sukses Untuk semua….

    Wassalam,,,

  20. riz munand berkata

    statis ga selamanya berarti positiv. . .
    kemajuan teknologi dan sebagainya hendaknya dapat dimanfaatkan guna memberikan pelayanan pendidikan yang baik.

    bebaskan anak anak untuk bertanya. . .
    jangan batasi kreatifitas mereka.

    apapun kurikulum yang dianut oleh indonesia,
    usaha saja yang terbaik,,,
    belajar tak hanya di bangku sekolah, yang hanya menghapalkan konsep dan kesimpulan tanpa aplikasi.
    apa gunanya mereka sekolah jika hanya untuk, duduk di kelas,mengerjakan LKS,mengumpulkan tugas dan pulang tanpa membekas apaapa.

    buat seluruh pengajar di negeri ini biarkan para pelajar berkreatifitas da pertanyan2 mereka. . .

    berilah mereka bekal hidup yang nyata.
    bukan hanya sekedar hapalan kesimpulan dan se lembar kertas ijazah yang akhirnya mengombang ambingkan mereka di kota-kota besar sebagai pencari kerja yang tak punya modal apaapa. . .

    bless us then. . .
    waslm

  21. abu berkata

    Perubahan!!! initinya bukan masalah kelinci percobaan, tetapi manusia harus berusaha dan berikhtirar bagaimana caranya agar sesuatu itu menjadi lebih baik dan menghasilkan yang terbaik.

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar