Arsip untuk Islam

Hukum Memperingati Maulid Nabi

حكم الاحتفال بالمولد النبوي

( باللغة الإندونيسية )

Karya :

SYEIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL UTSAIMIN

المؤلف:

الشيخ محمد بن صالح العثيمين

Penerjemah :

Fir’adi Nasruddin, Lc.

ترجمة:

فيرعادي نصر الدين

Murajaah :

Zulfi Askar. Lc

Eko Abu Ziyad

مراجعة:

زلفي عسكر

إيكو أبو زياد

Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah

المكتب التعاوني للدعوة وتوعية الجاليات بالربوة بمدينة الرياض

1428 – 2007

الإسلام بين يدي الملايين! شعار �ملناه لنشر الإسلام الص�ي� والفقه في الدين المستمد من الكتاب والسنة بفهم سلف هذه الأمة بعشرات لغات العالم


Hukum Memperingati Maulid Nabi

 

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin rahimahullah –semoga Allah membalas jerih payahnya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan- , beliau pernah ditanya tentang hukumnya memperingati maulid Nabi ?

Maka Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjawab:

1. Malam kelahiran Rasulullah r tidak diketahui secara qath’i (pasti), bahkan sebagian ulama kontemporer menguatkan pendapat yang mengatakan bahwasannya ia terjadi pada malam ke 9 (sembilan) Rabi’ul Awwal dan bukan malam ke 12 (dua belas). Jika demikian maka peringatan maulid Nabi Muhammad r yang biasa diperingati pada malam ke 12 (dua belas) Rabi’ul Awwal tidak ada dasarnya, bila dilihat dari sisi sejarahnya.

2. Di lihat dari sisi syar’i, maka peringatan maulid Nabi r juga tidak ada dasarnya. Jika sekiranya acara peringatan maulid Nabi r disyari’atkan dalam agama kita, maka pastilah acara maulid ini telah di adakan oleh Nabi r atau sudah barang tentu telah beliau anjurkan kepada ummatnya. Dan jika sekiranya telah beliau laksanakan atau telah beliau anjurkan kepada ummatnya, niscaya ajarannya tetap terpelihara hingga hari ini, karena Allah ta’ala berfirman :

﴿ إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴾

“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. Q.S; Al Hijr : 9 .

Dikarenakan acara peringatan maulid Nabi r tidak terbukti ajarannya hingga sekarang ini, maka jelaslah bahwa ia bukan termasuk dari ajaran agama. Dan jika ia bukan termasuk dari ajaran agama, berarti kita tidak diperbolehkan untuk beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan acara peringatan maulid Nabi r tersebut.

Allah telah menentukan jalan yang harus ditempuh agar dapat sampai kepada-Nya, yaitu jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah r, maka bagaimana mungkin kita sebagai seorang hamba menempuh jalan lain dari jalan Allah, agar kita bisa sampai kepada Allah?. Hal ini jelas merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak Allah, karena kita telah membuat syari’at baru pada agama-Nya yang tidak ada perintah dari-Nya. Dan ini pun termasuk bentuk pendustaan terhadap firman Allah ta’ala :

﴿ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridha’i islam itu jadi agama bagimu“. Q.S; Al-Maidah : 3.

Maka kita perjelas lagi, jika sekiranya acara peringatan maulid Nabi r termasuk bagian dari kesempurnaan dien (agama), niscaya ia telah dirayakan sebelum Rasulullah r meninggal dunia. Dan jika ia bukan bagian dari kesempurnaan dien (agama), maka berarti ia bukan dari ajaran agama, karena Allah ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu“.

Maka barang siapa yang menganggap bahwa ia termasuk bagian dari kesempurnaan dien (agama), berarti ia telah membuat perkara baru dalam agama (bid’ah) sesudah wafatnya Rasulullah r, dan pada perkataannya terkandung pendustaan terhadap ayat Allah yang mulia ini (Q.S; Al-Maidah : 3) .

Maka tidak diragukan lagi, bahwa orang-orang yang mengadakan acara peringatan maulid Nabi r, pada hakekatnya bertujuan untuk memuliakan (mengagungkan) dan mengungkapkan kecintaan terhadap Rasulullah SAW, serta menumbuhkan ghirah (semangat) dalam beribadah yang di peroleh dari acara peringatan maulid Nabi tersebut. Dan ini semua termasuk dari ibadah. Cinta kepada Rasulullah r termasuk ibadah, dimana keimanan seseorang tidaklah sempurna hingga ia mencintai Nabi r melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri, anak-anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia. Demikian pula bahwa memuliakan (mengagungkan) Rasulullah r termasuk dari ibadah. Dan juga yang termasuk kedalam kategori ibadah adalah menumbuhkan ghirah (semangat) dalam mengamalkan syari’at Nabinya r.

Kesimpulannya adalah bahwa mengadakan peringatan maulid Nabi r dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, dan pengagungan terhadap Rasulullah r termasuk dari ibadah. Jika ia termasuk ibadah maka kita tidak diperbolehkan untuk mengadakan perkara baru pada agama Allah (bid’ah) yang bukan syari’at-Nya. Oleh karena itu peringatan maulid Nabi r termasuk bid’ah dalam agama dan termasuk yang diharamkan.

Kemudian kita mendengar informasi bahwasannya pada acara peringatan maulid Nabi r terdapat kemunkaran-kemunkaran yang besar, yang tidak dibenarkan syar’i, indera maupun akal. Dimana mereka mensenandungkan qashidah yang didalamnya mengandung pengkultusan terhadap Nabi r, hingga terjadi pengagungan yang melebihi pengagungannya kepada Allah ta’ala –kita berlindung kepada Allah dari hal ini-.

Dan juga kita mendengar informasi tentang kebodohan sebagian orang yang mengikuti acara peringatan maulid Nabi tersebut , dimana ketika dibacakan kisah maulid (kelahiran) beliau, lalu ketika sampai pada perkataan (dan lahirlah Musthafa r), maka mereka semua serentak berdiri. Mereka mengatakan bahwa ruh Rasulullah r telah datang, maka kami berdiri sebagai penghormatan terhadap kedatangan ruhnya. Dan ini jelas suatu kebodohan.

Dan bukan merupakan adab bila mereka berdiri untuk menghormati kedatangan ruh Nabi r, karena Rasulullah r merasa enggan (tidak senang) apabila ada sahabat yang berdiri untuk menghormatinya. Padahal kecintaan dan pengagungan para sahabat terhadap Rasulullah r melebihi yang lainnya, akan tetapi mereka tidak berdiri untuk memuliakan dan mengagungkannya, ketika mereka melihat keengganan Rasulullah r dengan perbuatan tersebut. Jika hal ini tidak mereka lakukan pada saat Rasulullah r masih hidup, lalu bagaimana hal tersebut bisa dilakukan oleh manusia setelah beliau meninggal dunia?.

Bid’ah ini, maksudnya adalah bid’ah maulid, terjadi setelah berlalunya 3 (tiga) kurun waktu yang terbaik (masa sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). sesungguhnya Peringatan maulid Nabi r telah menodai kesucian aqidah dan juga mengundang terjadinya ikhtilath (bercampur-baurnya antara laki-laki dan wanita) serta menimbulkan perkara-perkara munkar yang lainnya.

Rujukan: Majmu’ Fatawa dan Rasail Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin rahimahullah jilid 2 hal 298-300.

 

Komentar (1)

Benahi shaff, dan berjuanglah dalam barisan yang teratur

Oleh : agus al muhajir

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Ash Shaff 4)

Ketika kita sudah mewakafkan diri untuk Allah SWT dan telah meneguhkan diri kita untuk menjadi salah satu pejuang dakwah, maka sebuah keniscayaan akan segera kita hadapi. Keciscayaan itu adalah bernama Tantangan.Tentu kita tidak perlu takut dengan tantangan karena dengan tantanganlah kita tumbuh menjadi kuat dan berkembang . Kita hanya perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi itu semua.

Ada satu syarat utama yang harus dimiliki oleh para pejuang dakwah agar dia tegar menghadapi tantangan, modal itu adalah : “ Tahu dan mengerti tujuan perjuangan”.Inilah satu syarat pertama dan utama untuk para pejuang dakwah. Ingatlah , seorang pejuang dakwah sekaliber apapun pada akhirnya akan kehabisan ghirah tatkala dia tidak tahu tujuan perjuangannya. Tujuan adalah serupa dengan Ruh untuk jasad manusia. Tujuan juga adalah serupa dengan bahan bakar yang dengannya sebuah kendaraan akan bisa melibas segala tantangan di jalan yang berliku .

Simaklah bagaimana kedahsyatan pasukan panglima Thariq bin Ziad, saat pasukan yang gagah berani ini menyebrangi samudera yang ganas dari benua Afrika menuju Spanyol di benua Eropa dimana pasukan ini hanya berbekal satu hal yaitu keimanan yang tinggi kepada Allah swt dan keinginan agar orang lain ( bangsa spanyol ) bisa merasakan keindahan islam yang membebaskan manusia dari perbudakan manusia lainnya..Ya inilah misi terbesar dari pasukan ini, DAKWAH.

Sekarang mari kita lebih dalam lagi untuk berbicara tentang dakwah. Da’wah Secara lughawi berasal dari bahasa Arab, da’wah yang artinya seruan, panggilan, undangan. Secara istilah, kata da’wah berarti menyeru atau mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk, menyuruh berbuat kebajikan dan melarang perbuatan munkar yang dilarang oleh Allah Swt. dan rasul-Nya agar manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Syaikh Ali Mahfuzh -murid Syaikh Muhammad Abduh- sebagai pencetus gagasan dan penyusunan pola ilmiah ilmu da’wah memberi batasan mengenai da’wah sebagai: “Membangkitkan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, supaya mereka memperoleh keberuntungan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.”

1. Membangkitkan kesadaran manusia

“Hati hanya bisa disentuh oleh hati” , kata-kata ini sangat tepat kita renungkan ketika kita berbicara tentang membangun kesadaran. Hal ini menekankan perlunya prinsip keteladanan dikedepankan dalam sebuah organisasi dakwah. Tidak mungkin seorang yang tidak hanif dalam hidupnya berhasil mengajak orang lain ( mad’u ) untuk bersikap hanif dalam hidup mereka. Tidak mungkin seorang yang tidak kuat akidahnya akan berhasil menerangkan dengan baik tentang materi salimul aqidah ( akidah yang benar ) . Lisannya akan hanya mengeluarkan sebuah bunyi tanpa ruh. Hanya rangkaian kata penghias bibir saja tanpa meningalkan bekas yang mendalam pada sang objek dakwah, bahkan salah-salah bisa kemudian menimbulkan fitnah untuk gerakan dakwah dan organisasi dakwah tersebut. Bukankah kita sering mendengar ungkapan “ aktivis kok seperti itu yah, jauh sekali perbuatan dengan perkataannya.”kalau sudah terjadi seperti ini, bukankah orang itu termasuk yang menggembosi dakwah ?.

Intinya mari kita bina diri kita terlebih dahulu sebelum kita berbicara tentang pembinaan orang lain. Bukankah kita tahu bahwa amat besar kebenciaan di sisi Allah bagi orang yang mengatakan hal yang tidak diperbuatnya

2. Amar makruf, nahyi mungkar?

“ Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran: 110).”

Dari ayat ini dapat ditangkap bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan salah satu parameter yang digunakan oleh Allah dalam menilai kualitas suatu umat. Ketika mengangkat kualitas derajat suatu kaum ke dalam tingkatan yang tertinggi Allah berfirman: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia.” Kemudian Allah menjelaskan alasan kebaikan itu pada kelanjutan ayat: “Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 110). Demikian juga dalam mengklasifikasikan suatu umat ke dalam derajat yang serendah-rendahnya, Allah menggunakan eksistensi amar ma’ruf nahi munkar sebagai parameter utama. Allah Swt. berfirman: “Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Isra’il melalui lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat.” (QS. Al Maidah 78-79). Dari sinipun sebenarnya sudah bisa dipahami sejauh mana tingkat urgensitas amar ma’ruf nahi munkar.

Buya Hamka berpendapat bahwa pokok dari amar ma’ruf adalah mentauhidkan Allah, Tuhan semesta alam. Sedangkan pokok dari nahi munkar adalah mencegah syirik kepada Allah. Implementasi amar ma’ruf nahi munkar ini pada dasarnya sejalan dengan pendapat khalayak yang dalam bahasa umumnya disebut dengan public opinion, sebab al ma’ruf adalah apa-apa yang disukai dan diingini oleh khalayak, sedang al munkar adalah segala apa yang tidak diingini oleh khalayak. Namun kelalaian dalam ber-amar ma’ruf telah memberikan kesempatan bagi timbulnya opini yang salah, sehingga yang ma’ruf terlihat sebagai kemunkaran dan yang munkar tampak sebagai hal yang ma’ruf. Inilah pentingnya para pejuang dakwah untuk senantiasa melakukan amr ma’ruf. Katakanlah kebenaran itu meskipun terasa pahit di lidahmu.

Adapun mengenai tujuan da’wah, yaitu: pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam QS. Al Anfal: 24 di sana di siratkan bahwa yang menjadi maksud dari da’wah adalah menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarnya. Hidup bukanlah makan, minum dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang dijalaninya.

Kedua, mengeluarkan manusia dari gelap-gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan dalam firman Allah: “Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu untuk mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada terang-benderang dengan izin Tuhan mereka kepada jalan yang perkasa, lagi terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)

Benahi shaff untuk kemenangan dakwah

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Ash Shaff 4)

Kembali ke ayat diatas, sudah sangat gamblang Allah berfirman bahwasanya Allah mencintai shaff yang teratur dan seperti bangunan yang kuat dan bolehlah kita berkata bahwa perjuangan yang dilakukan oleh organisasi dakwah yang rapih dan termenej dengan baik lebih Allah cintai daripada organisasi yang tidak teratur. Pantaslah pula Ali r.a pernah berkata “ kebatilan yang terorganisir dengan baik akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir “.

Berbicara tentang organisasi yang baik tentu tidak lepas dari berbicara tentang manajemen organisasi yang baik. Dan untuk berbicara tentang manajemen organisasi yang baik mari kita mulai dengan berbicara tentang motivasi kita berorganisasi. Tanyalah pada diri kita “ apa yang saya cari ?, Mau apa sih kita? “. Kalau kita menjawab: “ yang saya cari adalah keridhoan Allah “atau saya mau berdakwah dengan organisasi ini “itu jawaban yang amat baik tapi jawaban yang benar-benar memilki konsekwensi yaitu : Anda tidak akan pernah kecewa kepada manusia dan organisasi apapun yang terjadi. Apabila ada ketidak cocokan dan ketidakpuasan saat berorganisasi, maka itu dijadikan sebuah ladang pembuktian kecintaan kita kepada Allah dengan terus berjuang memperbaikinya dengan penuh cinta karena kita sadar dan menyakini bahwa rekan kita adalah sama-sama hamba Allah yang sedang bersama-sama menujuNya. Buktikan bahwa motivasi anda benar-benar untuk Allah !.

Setelah kita menjawab pertanyaan pertama tadi, maka lanjutkan pertanyaannya. “Punya apa kita untuk hal itu ?”apakah kita punya modal yang cukup untuk kita berorganisasi ?. Apakah kita punya hal-hal berikut ?, seperti :

1. Kemampuan komunikasi

2 Kejujuran/Integritas

3 Kemampuan Bekerja Sama

4 Kemampuan Interpersonal

5 Beretika

6 Motivasi/Inisiatif

7 Kemampuan Beradaptasi

8 Daya Analitik

9 Kemampuan Komputer

10 Kemampuan Berorganisasi

11 Berorientasi pada Detail

12 Kepemimpinan

13 Kepercayaan Diri

14 Ramah

15 Sopan

16 Bijaksana

7 Indeks Prestasi

18 Kreatif

19 Humoris

20 Kemampuan Berwirausaha

Kompleks ?, mungkin, tapi itulah sebuah syarat yang merupakan hukum alam terutama untuk para kader dan pengurus sebuah organisasi dakwah. Bisa dikatakan organisasi dakwah ini hanya bisa digerakan oleh orang-orang terpilih yang memilki kualitas manusia –manusia terbaik.Tapi ini bukan berarti orang-orang yang belum memilki kriteria diatas kemudian tidak bisa mengurus sebuah organisasi, asalkan dia memiliki kemauan yang tinggi untuk belajar dan kerendahan hati maka dia bisa saja menjadi pengurus di sebuah organisasi dakwah . Walaupun demikian prioritas pertama tetaplah orang-orang yang terbaik yang ada didalam organisasi tersebut. Hal inilah yang seharusnya membuat seluruh aktivis / anggota organisasi dakwah untuk terus menempa dirinya menjadi yang terbaik.

Setelah kita faham bahwa organisasi dakwah ini harus dijalankan atas sebuah motivasi yang benar dan dijalankan oleh orang-orang terbaik, maka sekarang mari kita berbicara tentang manajemen organisasi. Untuk berbicara tentang hal itu mari kita mulai dengan mengingat kembali definisi organisasi dan manajemen.

Organisasi secara istilah bisa didefinisikan sebagai : Dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai sebuah sasaran / tujuan bersama. Perhatikan kata kerja sama dan tujuan bersama. Inilah sejatinya sebuah organisasi seharusnya ada. Dia adalah sebuah sistem yang dijalankan bersama oleh seluruh anggotanya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Satu saja bagian dari organisasi ini tidak mau bekerja sama, maka timpanglah organisasi itu dan akhirnya kehancuran organisasipun hanya tinggal menghitung waktu saja. Demikian pula ketika ada anggota , bagian atau divisi dalam organisasi tidak faham tentang tujuan bersama organisasi maka keruwetanpun akan menjadi menu sehari-hari sebuah organisasi yang menghabiskan energi para pengurusnya dan berimbas pada tidak terurusnya organisasi dengan baik hingga pada akhirnya membuat anggota berpaling dari organisasi dakwah tersebut.

Sedangkan Manajemen bisa diartikan : Proses merencanakan , mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan pekerja/anggota organisasi dalam menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai sasaran organisasi yang sudah ditetapkan. Dan dari sinilah aktivitas manajemen organisasi bisa kita lakukan. Aktivitas itu adalah :

1. Planning :

Planning/perencanaan adalah hal utama yang harus dilakukan dalam manajemen. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang “begin from the end”. Kita tetapkan tujuan bersama yang ingin dicapai. Tujuan adalah pelita yang menunjukkan jalan bahkan di kegelapan malam. Tetapkan visi dan misi organisasi. Jangan ragu dalam menetapkan tujuan, visi, dan misi. Seorang yang bermimpi besar dan berusaha keras mewujudkannya namun tidak bisa lebih baik daripada orang yang bermimpi kecil dan bisa mewujudkannya. Walaupun tidak dicapai, dengan bermimpi besar maka langkah kita pun akan besar Yang penting adalah penetapan tujuan, visi, dan misi organisasi ini harus dilakukan bersama-sama. Minimal tidak dilakukan sendirian. Memang pada umumnya sebuah organisasi didirikan dengan seorang/beberapa tokoh kunci sebagai pemberi konsep. Tetapi konsep itu mutlak harus diketahui oleh tiap orang dalam organisasi agar terdapat kesamaan persepsi.

2. Actuating

Actuating /pelaksanaan adalah roh dari organisasi. Hanyalah akan menjadi omong kosong jika perencanaan tidak diikuti dengan aksi yang sesuai. Implementasi adalah sama pentingnya dengan perencanaan. Tanpa pelaksanaan yang baik rencana akan hancur berantakan tanpa sempat mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu adanya pendelegasian yang tepat untuk suatu tugas tertentu. Serahkanlah suatu hal pada ahlinya. Jika ditangani ahlinya tentu suatu persoalan akan selesai lebih cepat dan hasilnya pun baik.

Ingat juga dalam sebuah action berlaku sebuah prinsip : “‘banyak jalan menuju ke Roma’.Maka ini berarti, action harus bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Bukan mengalir dengan arus bukan pula melawan arus tetapi berusaha membelokkan arus perlahan-lahan ke arah yang kita kehendaki ( tujuan bersama / tujuan organisasi )

3. Controlling

Controlling adalah kunci dalam manajemen. Walaupun pendelegasian adalah hal yang mutlak dalam organisasi, tetapi pendelegasian bukanlah berarti menyerahkan segala urusan tanpa kendali. Seorang yang buta niscaya akan dapat berjalan dengan normal jika diberitahu jalan yang harus dilewatinya. Begitupun orang-orang dalam organisasi. Ingatlah seburuk apapun sistem manajemen, jika ada kontrol dan umpan balik yang rutin dilakukan maka hasilnya masih dapat diterima.

Dalam sebuah sistem kontrol organisasi haruslah ada sistem reward and punishment dalam manajemen organisasi. Orang yang berprestasi patut diberi penghargaan dan sebaliknya orang yang melakukan kesalahan sebaiknya diingatkan untuk tidak mengulangi kesalahannya. Ini penting sebab sistem ini akan memacu orang-orang dalam organisasi untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya karena merasa dihargai. Hargai prestasi sekecil apapun dan jangan biarkan kesalahan sekecil apapun. Segala sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil. Kita harus tegas dalam hal ini. Ini semua dilakukan agar pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Tidak melenceng dari sasaran apalagi menetapkan sasaran seenaknya.

Tiga hal diatas adalah sebuah kemutlakan tatakala kita ingin menjalankan roda organisasi dakwah dengan baik, tetapi ada hal yang penting namun seringkali terlewatkan oleh banyak manajer organisasi. Yakni pentingnya menyentuh hati manusia dengan hati lagi. Ya, cinta seringkali dilupakan dalam manajemen organisasi. Ada dua hal yang bisa membuat orang total dalam suatu hal, yakni adanya keuntungan dan cinta. Orang bilang cinta itu buta. Jika orang telah merasakan cinta dia akan melupakan kelelahan, kesusahan, penderitaan yang diperoleh dan akan mencurahkan segenap waktunya untuk hal yang dicintainya. Jangan ragu-ragu bagi manajer untuk melakukan pendekatan personal untuk orang-orang dalam organisasi seperti menjenguk jika ada yang sakit, menanyakan kabar, memberi hadiah, melontarkan pujian, dan sebagainya. Perhatikan kebutuhannya dan berempatilah terhadap kesusahannya. Hal-hal ini mungkin kedengarannya remeh tetapi sebenarnya ini solusi yang jitu bagi manajemen organisasi. Cinta akan menjadi perekat yang sangat kuat bagi keutuhan organisasi.

Akhirul kalam : “ bergeraklah…berjuanglah dalam barisan yang kokoh dan sambutlah kemenangan yang Allah janjikan. Allahu Akbar…..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar

Islamnya Napoleon Bonaparte

Siapa yang tidak mengenal Napoleon Bonaparte, seorang Jendral dan Kaisar Prancis yang tenar kelahiran Ajaccio, Corsica 1769. Namanya terdapat dalam urutan ke-34 dari Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart.

Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Prancis sejak Agustus 1793, seharusnya ia merasa puas dengan segala apa yang telah diperolehnya itu.

Tapi rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya, agama yang dianutnya waktu itu ternyata tidak bisa membuat Napoleon Bonaparte merasa tenang dan damai.

Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798, 23 tahun sebelum kematiannya ditahun 1821, Napoleon Bonaparte menyatakan ke-Islamannya dihadapan dunia Internasional.

Apa yang membuat Napoleon ini lebih memilih Islam daripada agama lamanya, Kristen ?

Berikut penuturannya sendiri yang pernah dimuat dimajalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.

“I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters ?”

“The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun ! One shall see the stars falling into the sea… I say that of all the suns and planets,…”

“Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Lut beserta kedua puterinya ?” (Lihat Kejadian 19:30-38)

“Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut…. saya katakan, semua matahari dan planet-planet ….”

Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata :
“Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters.”

“Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat didalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa.”

Selanjutnya :
“Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”

“Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda disetiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam.”

Akhirnya ia berkata :
“In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner.”

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping.”

Napoleon Bonaparte mengagumi AlQuran setelah membandingkan dengan kitab sucinya, Alkitab (Injil). Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran daripada Alkitab (Injil), juga semua cerita yang melatar belakanginya.

Referensi :
1. Memoirs of Napoleon Bonaparte by Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne edited by R.W. Phipps. Vol. 1 (New York: Charles Scribner’s Sons, 1889) p. 168-169.
http://chnm.gmu.edu/revolution/d/612/
2. ‘Napoleon And Islam’ by C. Cherfils. ISBN: 967-61-0898-7
http://www.shef.ac.uk/~ics/whatis/articles/napoleon.htm
3. Satanic Voices – Ancient and Modern by David M. Pidcock, (1992 ISBN: 1-81012-03-1), it states on page 61, that the then official French Newspaper, Le Moniteur, carried the accounts of his conversion to Islam, in 1798 C.E

Tinggalkan sebuah Komentar

“Islam Ragu-ragu” versi Rektor UIN Yogya’

Rektor IAIN mengajak mahasiswa ?mencurigai? agamanya
sendiri. Metode ini bisa melahirkan sarjana yang
tadinya belajar ushuluddin menjadi ?ucul?-?din?
(agamanya lepas). Baca CAP Adian Husaini ke-120

Senin, 31 Oktober 2005
Oleh: Adian Husaini

Di kalangan akademisi muslim Indonesia, nama Prof. Dr.
M. Amin Abdullah tidak asing lagi. Selain menjabat
sebagai rektor Universitas Islam Negeri Yogyakarta
(dulunya IAIN Yogya), dia juga pernah menjabat posisi
penting di PP Muhammadiyah, sebagai Ketua Majlis
Tarjih dan Pemikiran Islam. Tetapi, dalam Muktamar
Muhammadiyah ke-45 di Malang, tahun 2005, namanya
terpental dari jajaran pimpinan pusat Muhammadiyah.

Dia berlatarbelakang pendidikan bidang filsafat Islam.
Lulus PhD dari Department of Philosophy, Faculty of
Art and Sciences, Middle East Technical University
(METU), Ankara, Turki, tahun 1990.

Sebagai akademisi dan penulis, tulisan Amin Abdullah
tersebar di berbagai buku, jurnal, dan media massa.

Bidang yang sering ditulisnya terutama masalah
filsafat dan epistemologi Islam. Tapi, karena sangat
gencar mempromosikan penggunaan hermeneutika dalam
penafsiran Al-Qur’an, dia kadang kala juga dijuluki
?Bapak Hermeneutika Indonesia?.

Komitmennya dan kegigihannya dalam mempromosikan
hermeneutika sebagai metode ?tafsir baru? pengganti
metode tafsir al-Quran yang klasik, tampak dalam
berbagai tulisannya tentang hermeneutika.

Di UIN Yogyakarta, penggunaan metodologi hermeneutika
dalam tafsir Al-Qur’anmemang sangat digalakkan,
sampai-sampai seorang mahasiswa yang bermaksud
mengritik metode ini mengaku ?akan membentur tembok?.

Disamping mempromosikan hermeneutika, Amin Abdullah
tentu saja harus melakukan kritik terhadap metode
tafsir Al-Qur’an. Ia menulis dalam sebuah pengantar
untuk buku tentang hermeneutika, bahwa ?tafsir-tafsir
klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi
yang jelas dalam kehidupan umat Islam.?

Penulis buku itu pun dengan semena-mena mengecam
tafsir-tafsir klasik, tanpa data dan analisis yang
memadai, dimana letak kekurangan dan ketidakberesan
tafsir-tafsir klasik.

Ditulis dalam buku ini: ?Apalagi sebagian besar tafsir
dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama
ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan
status quo, dan kemerosotan umat Islam secara moral,
politik, dan budaya.? (Lihat, Ilham B. Saenong,
Hermeneutika Pembebasan, 2002, hal. xxv-xxvi, 10).

Kecurigaan terhadap mufassir dan para ulama Islam juga
tak luput dari goresan tangan Abdullah. Di dalam
tulisannya yang lain, Amin Abdullah mengajak pembaca
untuk mencurigai ilmu-ilmu keagamaan, tanpa membedakan
antara ilmu keagamaan dalam Islam, dengan ilmu
keagamaan yang muncul dalam tradisi peradaban Barat
yang berlatar belakang sejarah Yahudi dan Kristen. Ia
tulis, misalnya:

?Dari studi empiris-historis terhadap fenomena
keagamaan diperoleh masukan bahwa agama sesungguhnya
juga sarat dengan berbagai ?kepentingan? yang menempel
dalam ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu
sendiri.? (Pengantar buku Metodologi Studi Agama,
2000, hal. 2)

Bagi mahasiswa baru dalam bidang studi Islam,
pernyataan-pernyataan profesor dan rektor sebuah
kampus berlabel Islam semacam itu, bisa jadi
melenakan. Sebab, kata-kata yang ditebar cukup halus.
Para ulama dan ilmuwan keagamaan, apa pun agamanya,
adalah manusia biasa. Karena itu, mereka pasti punya
kepentingan dengan ilmu-ilmu nyang disusunnya.

Sepintas, kata-kata Amin Abdullah itu logis. Padahal,
jika didalami, ada kekeliruan mendasar dalam cara
berpikir, karena metodologi ?gebyah uyah?
(serampangan) dalam menyamakan antara tradisi keilmuan
Islam dengan tradisi keilmuan Barat.

Di dalam Islam, ada tradisi penyatuan antara ilmu
dengan amal. Ada konsep ?fasiq?, dimana seorang yang
?meskipun berilmu tinggi? tetapi berbuat jahat, dapat
terkena ketegori fasiq, dan karena itu, periwayatan
dan beritanya perlu diklarifikasi. Jika dia fasiq,
maka sebagian ulama melarangnya menjadi saksi di dalam
pernikahan atau pengadilan.

Di dalam ilmu hadis, ada ilmu Jarah wa Ta?dil, yang
secara terbuka membeberkan sifat-sifat buruk perawi
hadits, seperti pembohong, dan sebagainya. Karena itu,
di dalam tradisi keilmuan Islam, kita akan menjumpai
ilmuwan-ilmuwan yang sangat tinggi ilmunya, sekaligus
juga sangat shalih dalam beragama. Itu bisa kita
jumpai pada Imam-imam mazhab, Imam Bukhari, Imam
al-Ghazali, Ibnu Taymiyah, dan sebagainya. Mereka
bukan hanya ilmuwan, tetapi juga mujahid dan ahli
ibadah.

Tradisi seperti itu tidak terjadi dalam sistem
keilmuan di Barat yang sekular. Di dalam tradisi ilmu
yang berakar pada tradisi keilmuan Yunani, ada
pemisahan antara orang pintar dan orang saleh.

Banyak ilmuwan pintar dan dihormati oleh
masyarakatnya, meskipun amalnya bejat. Seorang ilmuwan
di Barat, tetap dianggap sebagai ilmuwan yang
dihormati, meskipun tidak jelas agamanya dan
amalan-amalan agamanya.

Paul Johnson, dalam bukunya ?Intellectuals? (1988),
memaparkan kehidupan dan moralitas sejumlah ilmuwan
besar yang menjadi rujukan keilmuan di Barat dan dunia
internasional saat ini, seperti Ruosseau, Henrik
Ibsen, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx,
Bertrand Russel, Jean-Paul Sartre, dan beberapa
lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai
?manusia gila yang menarik? (an interesting madman).

Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar
agama menjadi Katolik, agar dapat menjadi peliharaan
Madame Francoise-Louise de Warens. Ernest Hemingway,
seorang ilmuwan jenius, tidak memiliki agama yang
jelas. Kedua orang tuanya adalah pengikut Kristen yang
taat. Istri pertamanya, Hadley, menyatakan, ia hanya
melihat Hemingway sembahyang selama dua kali, yaitu
saat perkawinan dan pembaptisan anaknya.

Untuk menyenangkan istri keduanya, Pauline, dia
berganti agama menjadi Katolik Roma. Kata Johnson, dia
bukan saja tidak percaya kepada Tuhan, tetapi
menganggap ?organized religion? sebagai ancaman
terhadap kebahagiaan manusia. (He not only did not
believe in God, but regarded organized religion as a
menace to human happiness).

Sebagai ilmuwan, seyogyanya Rektor UIN Yogya itu
memberikan klarifikasi dan penjelasan yang bertanggung
jawab terhadap tulisannya, bahwa ?Dari studi
empiris-historis terhadap fenomena keagamaan diperoleh
masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan
berbagai ?kepentingan? yang menempel dalam ajaran dan
batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri.?

Jika dia katakan, agama ?termasuk Islam? adalah sarat
dengan berbagai kepentingan yang menempel pada ajaran
dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan, maka dia harus
menjelaskan, apa kepentingan Sayyidina Utsman
menghimpun Mushaf Al-Qur’an, apa kepentingan Imam
Bukhari mengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits
Nabi, apa kepentingan Imam Syafii menulis Kitab
Risalah? Apakah kita harus mencurigai tindakan
keilmuan sahabat-sahabat Rasululullah dan ulama-ulama
Islam yang begitu besar jasanya terhadap pengembangan
keilmuan Islam, sehingga kita harus menyatakan, bahwa
mereka semua pasti punya kepentingan.

Apakah kita tidak bisa berprasangka baik terhadap
mereka, dan mengakui keikhlasan dan jasa mereka yang
luas biasa dalam menyusun ilmu-ilmu agama (ulumuddin)?

Metode studi Islam yang ?maaf, sok? bersikap kritis
ini bisa pada akhirnya berdampak kepada
keragu-keraguan pada para pelajar dan mahasiswa.

Mereka yang belajar Islam dengan cara-cara seperti
ini, bukan tidak mungkin akan terjebak pada keraguan
dan ketidakyakinan terhadap ajaran agamanya sendiri.

Akhirnya, dari metode ini bisa lahir sarjana-sarjana
yang justru rajin menghujat agamanya, ragu dengan
kebenaran agamanya, dan bahkan memusuhi agamanya.
Orang yang belajar ushuluddin (dasar-dasar agama),
bukannya semakin yakin dengan agamanya, tetapi bisa
jadi malah ?ucul?-?din?nya (agamanya lepas).

Tidak sedikit para sarjana syariah lulusan perguruan
tinggi Islam, yang akhirnya justru gigih menentang dan
aktif menulis artikel yang menghancurkan dan menghina
syariat Islam.

Kita sungguh tidak habis mengerti, misalnya, bagaimana
dari sebuah kampus berlabel Islam, seperti UIN Yogya,
bisa muncul tesis master yang justru menghujat
Al-Qur’an, dan menyatakan, bahwa ?Mushaf itu tidak
sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel.
Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang
terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses
pencarian.

Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main
dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun,
beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran
kita.? (Lihat buku: ?Menggugat Otentisitas Wahyu
Tuhan? (2004), hal. 123)

Penulis tesis itu dan juga para dosen serta rektor
kampus itu seolah-olah tenang-tenang saja dengan
fenomena semacam itu, dan tidak takut dengan akibat
yang ditimbulkan jika ada orang yang terpengaruh
dengan ide sesat itu.

Apakah mereka tidak takut dengan dosa jika ada yang
kemudian meragukan kebenaran Al-Qur’an, karena
membaca tesis yang sudah dibukukan itu? Jika orang
sudah meragukan kebenaran Al-Qur’an, lalu bagaimana
dia bisa beriman dan meyakini rukun iman yang
disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti Malaikat, Hari
Kiamat, dan sebagainya?

Penanaman keragu-raguan terhadap Islam bagi mahasiswa
Muslim tampaknya kini banyak dilakukan oleh para
dosen-dosennya sendiri. Dan itu bukan hal yang aneh,
jika kita menyimak tulisan lain dari Amin Abdullah,
Sang Rektor. Dalam pengantarnya untuk sebuah buku
berjudul ?Hermeneutika Al-Quran? (2005), Amin secara
gamblang menulis, bahwa:

?Dengan sangat intensif hermeneutika mencoba
membongkar kenyataan bahwa siapa pun orangnya,
kelompok apapun namanya, kalau masih pada level
manusia, pastilah ?terbatas?, ?parsial-kontekstual
pemahamannya?, serta ?bisa saja keliru?.

Cara berpikir Amin seperti itu sama saja dengan
membongkar sistem keilmuan dalam Islam. Sebab, tidak
ada lagi pemikiran yang bersifat pasti dan qath?iy.

Tidak ada tafsir yang tetap dan pasti kebenarannya.
Semua terbatas dan bisa saja keliru. Juga, tidak ada
lagi konsep ?tawatur?, berita yang dipastikan
kebenarannya. Kita bisa mempertanyakan kepada Rektor
UIN Yogya itu, bagaimana dengan konsep ?keadilan para
sahabat? dan ijma? sahabat? Pengumpulan Mushaf Utsmani
adalah berdasarkan ijma? sahabat.

Dengan cara berpikir Amin Abdullah, maka bisa saja
pengumpulan Al-Qur’an itu keliru. Sebab, para sahabat
Rasulullah itu adalah manusia dan kumpulan manusia.
Dan selama mereka pada level manusia, maka mereka
?bisa saja keliru?.

Jadi, ijma? para sahabat Rasululullah saw itu ?
menurut cara berpikir Rektor UIN Yogya ? bisa saja
keliru.

Cara berpikir semacam itu bisa kita katakan sebagai
bentuk ?Islam ragu-ragu?. Islam yang serba tidak
pasti. Tidak ada kebenaran yang pasti. Itulah tugas
hermeneutika. Malah, lanjut Sang Rektor lagi, tugas
hermeneutika itu berseberangan dengan keinginan egois
hampir semua orang untuk ?Selalu Benar?.

Tidak mengherankan, katanya, jika kemudian kehadiran
hermeneutika sebagai salah satu disiplin kajian yang
mencermati proses epistemologis-ontologis pemahaman
manusia banyak mendapat tantanan. Dan tentangan paling
keras terhadap hermeneutika muncul dari ranah
agama-agama yang harus diakui merupakan ladang paling
subur bagi lahirnya ?Klaim Kebenaran?.

Itulah kata-kata Sang Rektor UIN Yogya, yang sangat
membanggakan hermeneutika sebagai metodologi pemahaman
Al-Qur’an, yang menurutnya mampu membongkar hal-hal
yang selama ini dianggap sebagai satu bentuk
kepastian.

Dengan cara berpikir Rektor seperti itu, maka kita
tidak heran, jika dari kampus berlabel Islam itu lahir
sarjana-sarjana versi ?Islam ragu-ragu?, alias golbin
(golongan bingung) yang tidak pernah meyakini
kebenaran Islam.

Tentu kita patut kasihani manusia-manusia seperti ini.
Meskipun, kita tidak perlu risau dengan ulah mereka.

Biarlah yang bingung bangga dengan kebingungannya
sendiri. Kita ingatkan mereka, mudah-mudahan mereka
sadar. Kita yang sudah menemukan kebenaran, kewajiban
kita adalah meyakini kebenaran itu, dan berusaha
menegakkannya. Dan Allah SWT sudah mengingatkan kita:

?Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah engkau
menjadi golongan orang-orang yang ragu.? (QS Al
Baqarah:147). Wallahu a?lam. (Jakarta, 28 Oktober
2005/hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini hasil
kerjasama Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2430&Itemid=0

Tertarik masalah Ekonomi? Mari bergabung ke milis Ekonomi Nasional
Kirim email ke: ekonomi-nasional-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

Komentar (1)

SEJARAH DARUL ISLAM

Mengungkapkan sejarah perjuangan Darul Islam di Indonesia, sama pentingnya
dengan mengungkapkan kebenaran. Sebab perjalanan sejarah gerakan ini telah
banyak dimanipulasi, bahkan berusaha ditutup-tutupi oleh penguasa. Rezim
orde lama dan kemudian orde baru, mengalami sukses besar dalam membohongi
serta menyesatkan kaum muslimin khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya
dalam memahami sejarah masa lalu negeri ini.

Selama ini kita telah tertipu membaca buku-buku sejarah serta berbagai
publikasi sejarah perjuangan umat Islam di Indonesia.Sukses besar yang
diperoleh dua rezim penguasa di Indonesia dalam mendistorsi sejarah Darul
Islam, adalah munculnya trauma politik di kalangan umat Islam. Hampir
seluruh kaum muslimin di negeri ini, memiliki semangat untuk memperjuangkan
agamanya, bahkan seringkali terjadi hiruk pikuk di ruang diskusi maupun
seminar untuk hal tersebut. Tetapi begitu tiba-tiba memasuki pembicaraan
menyangkut perlunya mendirikan Negara Islam, kita akan menyaksikan segera
setelah itu mereka akan menghindar dan bungkam seribu bahasa.

Di masa akhir-akhir ini, bahkan semakin banyak tokoh–tokoh Islam yang
menampakkan ketakutannya terhadap persoalan Negara Islam. Mantan Ketua Umum
PBNU, K.H. Abdurrahman Wahid misalnya, secara terus terang bahkan
mengatakan: “Musuh utama saya adalah Islam kanan, yaitu mereka yang
menghendaki Indonesia berdasarkan Islam dan menginginkan berlakunya syari’at Islam”. (Republika, 22 September 1998, hal. 2 kolom 5). Selanjutnya ia katakan : “Kita akan menerapkan sekularisme, tanpa mengatakan hal itu sekularisme”.

Salah satu partai berasas Islam yang lahir di era reforniasi ini, malah
tidak bisa menyembunyikan ketakutannya sekalipun dibungkus dalam retorika
melalui slogan gagah: “Kita tidak memerlukan negara Islam. Yang penting
adalah negara yang Islami”. Bahkan, dalam suatu pidato politik, presiden
partai tersebut mengatakan: “Bagi kita tidak masalah, apakah pemimpin itu
muslim atau bukan, yang penting dia mampu mengaplikasikan nilai-nilai
universal seperti kejujuran dan keadilan”.

Demikian besar ketakutan kaum muslimin terhadap issu negara Islam, melebihi
ketakutan orang-orang kafir dan sekuler, sampai-sampai mereka tidak
menyadari bahwa segala isme (faham) atau pun Ideologi di dunia ini berjuang
meraih kekuasaan untuk mendirikan negara berdasarkan isme atau ideologi yang dianutnya.

Selama 32 tahun berkuasanya rezim Soeharto, sosialisasi tentang Negara Islam Indonesia seakan terhenti. Oleh karena itu adanya bedah buku atau pun
terbitnya buku–buku yang mengungkapkan manipulasi sejarah ini, merupakan
perbuatan luhur dalam meluruskan distorsi sejarah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari khazanah sejarah bangsa.

Sejak berdirinya Republik Indonesia, rakyat negeri umumnya, telah ditipu
oleh penguasa, hingga saat sekarang. Umat Islam yang menduduki jumlah
mayoritas telah disesatkan pemahaman sejarah perjuangan Islam itu sendiri.
Sudah seharusnya, di masa reformasi ini, umat Islam menyadari bahwa di
Indonesia pernah ada suatu gerakan anak bangsa yang berusaha membangun
supremasi Islam, yaitu Negara Islam Indonesia yang berhasil diproklamasikan,7 Agustus 1949, dan berhasil mempertahankan eksistensinya hingga 13 tahunlamanya (1949-1962). Namun rezim yang berkuasa telah memanipulasi sejarahterseBut dengan semau–maunya, sehingga umat Islam sendiri tidak mengenaldengan jelas sejarah masa lalunya.

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, adalah sebuah nama yang cukup problematis
dan kontroversial di negara Indonesia, dari dulu hingga saat ini. Bahwa dia
dikenal sebagai pemberontak, harus kita luruskan.Bukan saja demi membetulkan fakta sejarah yang keliru atau sengaja dikelirukan, tetapi juga supaya kezaliman sejarah tidak terus berlanjut terhadap seorang tokoh yang
seharusnya dihormati.

Semasa Orla berkuasa (1947-1949) yang merupakan puncaknya perjuangan Negara
Islam Indonesia, SM. Kartosuwiryo memang dikenal sebagai pemberontak. Tetapi fakta yang sebenamya adalah, Kartosuwiryo sesungguhnya tokoh penyelamat bagibangsa Indonesia, lebih dari apa yang dilakukan oleh Soekamo dan tokoh tokoh nasionalis lainnya. Pada waktu Soekarno bersama tentara Republik pindah ke Yogyakarta sebagai akibat dari perjanjian Renville, yang menyebutkan bahwa wilayah Indonesa hanya tinggal Yogya dan sekitamya saja, dan wilayah yang masih tersisa itu pun, dipersengketakan antara Belanda dan Indonesia,sehingga pada waktu itu nyaris Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Dan yang ada hanyalah negara- negara serikat, baik yang sudah terbentuk, atau pun yang masih dalam proses melengkapi syarat-syarat kenegaraan. Seperli Jawa Barat, ketika itu dianjurkan oleh Belanda supaya membentuk Negara Pasundan, namun belum terbentuk sama sekali, karena belum adanya kelengkapan kenegaraan.

Ketika segala peristiwa yang telah disebutkan di atas, menggelayuti
atrnosfir politik Nusantara, pada saat itu Indonesia dalam keadaan vacuum of power. Pada saat itulah, Soekarno memerintahkan semua pasukan untuk pindah ke Yogyakarta berdasarkan perjanjian Renville. Guna memberi legitimasi Islami, dan untuk rnenipu umat Islam Indonesia dalam memindahkan pasukan ke Yogya, Soekarno telah memanipuiasi terminoiogi ail-Qur’an dengan menggunakan istilah “Hijrah” untuk menyebut pindahnya pasukan Republik, sehingga nampak Islami dan tidak terkesan melarikan diri. Namun S.M. Kartosuwiryo dengan pasukannya tidak mudah tertipu, dan menolak untuk pindah ke Yogya. Bahkan bersama pasukannya, ia berusaha mempertahankan wilayah jawa Barat, dan menamakan Soekarno dan pasukannya sebagai pasukan liar yang kabur dari Medan perang.

Jauh sebelum kemerdekaan, yaitu pada tahun 1930-an, istilah”hijrah” sudah
pernah diperkenalkan, dan dipergunakan.sebagai metode perjuangan moderen
yang brillian oleh S.M. Kartosuwiryo, berdasarkan tafsirnya terhadap sirah
Nabawiyah. Ketika itu, pada tahun 1934 telah muncul dua metode perjuangan
yaitu cooperatif dan non cooperatif. Metode non cooperatif, artinya tidak
mau masuk ke dalam parlemen dan bekerja sama dengan pemerintah Belanda namun bersifat pasif, tidak berusaha menghadapi penguasa yang ada. Metode ini sebenamya dipengaruhi oleh politik SWADESI, politik Mahatma Gandhi dari
India. Lalu muncullah S.M. Kartosuwiryo dengan metode Hijrah, sebuah metode
yang berusaha membentuk komunitas sendiri, tanpa kerjasama dan aktif,
berusaha untuk melawan kekuatan penjajah.

Akan tetapi, pada waktu itu, metode ini dikecam keras oleh Agus Salim,
karena menganggap S.M. Kartosuwiryo menerapkan metode hijrah ini di dalam
suatu masyarakat yang belum melek politik. Sehingga ia kemudian berusaha
menanamkan politik dan metode hijrah itu kepada anggota PSII pada khususnya. Dengan harapan setelah memahami politik, mereka mau menggunakan metode ini,karena paham politik sangat penting. Namun, Agus Salim menolaknya, karena ia tidak setuju dengan politik tersebut. Menurutnya rakyat atau anggota partai hanyalah boleh mengetahui masalah mekanisme organisasi tanpa mengetahui konstelasi politik yang sedang berlangsung, dan hanya elit pemimpin sajayang boleh mengetahui. Sedangkan “hijrah” adalah berusaha menarik diri dari perdebatan politik, kemudian berusaha membentuk barisan tersendiri dan berusaha dengan kekuatan sendiri untuk Mengantisipasi sistem perjuangan yang tidak cukup progresif dan tidak
Islami. Faktor inilah yang menjadi awal perpecahan PSII, yaitu melahirkan
PSII Hijrah yang memakai metode hijrah dan PSII Penyadar yang dipimpin Agus
Salim.

Walaupun metode Hijrah, bagi sebagian tokoh politik saat itu, terlihat
mustahil untuk digunakan sebagai metode perjuangan, namun ternyata dapat
berjalan efeknf pada tahun 1949 dengan terbentuknya Negara Islam Indonesia
yang diproklamasikan dibawah bendera Bismillahirrahmaniirrahim. Sehingga
pantaslah, jika kita tidak memperhatikan rangkaian sejarah sebelumnya secara seksama, memunculkan anggapan bahwa berdirinya Negara Islam Indonesiaberarti adanya negara di dalam negara, karena Proklamasi RI pada tahun 1945 telah lebih dahulu dilakukan.

Namun sebenamya jika kita memahami sejarah secara benar dan adil, maka
kedudukan Negara Islam Indonesia dan RI adalah negara dengan negara. Karena
negara RI hanya tinggal wilayah Yogyakarta waktu itu, sementara Negara Islam Indonesia berada di Jawa Barat dan mengalami ekspansi (pemekarant) wilayah. Daerah Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Aceh mendukung
berdirinya Negara Islam Indonesia. Dan dukungan itu bukan hanya berupa
pernyataan atau retorika belaka, tapi ikut bergabung secara revolusional.
Barangkakali benar, bahwa Negara Islam Indonesia adalah satu-satunya gerakan rakyat yang disambut demikian meriah di beberapa daerah di indonesia.

Melihat sambutan yang demilaan hangat dari saudara muslim lainnya, maka
rezim Soekarno berusaha untuk menghambat tegaknya Negara Islam Indonesia
bersama A.H. Nasuion, seorang tokoh militer beragama Islam yang dibanggakan
hingga sekarang, tetapi ternyata mempumyai kontribusi yang negatif dalam
perkembangan Negara Islam Indonesia. Dia bersama Soekarno berusaha menutupi
segala ha1 yang memungkinkan S.M. Kartosuwiryo dan Negara lslam Indonesia
kembali terangkat dalam masyarakat, seperti penyembunyian tempat eksekusi
dan makam mujahid Islam tersebut. -

Nampaklah sekarang bahwa sebenarnya penguasa Orla dan Orba, telah melakukan
kejahatan politik dan sejarah sekaligus, yang dosanya sangat besar yang
rasanya sulit untuk dimaafkan. Mungkin bisa diumpamakan, hampir sama dengan
dosa syirik dalam pengertian agama, yang merupakan dosa terbesar dalam
Islam. Karena prilaku politik yang mereka pertontonkan, telah menyesatkan
masyarakat dalam memahami sejarah perjuangan Islam di Indonesia dengan
sebenamya. Berbagai rekayasa politik untuk memanipulasi sejarah telah
dilakukan sampai hal yang sekecil-kecilnya mengenai perjuangan serta pribadi S.M. Kartosuwiryo. Seperti pengubahan data keluarganya, tanggal dan tahun lahirnya. Semua itu ditujukan agar SMK dan Negara Islam Indonesia jauh dari ingatan masyarakat.

Sekalipun demikian, S.M. Kartosuwiryo tidak berusaha membalas tindakan
dzalim pemerintah RI. Pemah suatu ketika Mahkamah Agung (Mahadper)
menawarkan untuk mengajukan permohonan grasi (pengampunan) kepada presiden
Soekarno, supaya hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadanya dibatalkan,
namun dengan sikap ksatria ia menjawab,” Saya tidak akan pernah meminta
ampun kepada manusia yang bernama Soekarno”.

Kenyataan ini pun telah dimanipulasi. Menurut Holk H. Dengel dalam bukunya
berbahasa Jerman, dan dalam terjemahan Indonesia berjudul: “Darul Islam dan
Kartosuwiryo, Angan-angan yang gagal”, mengakui bahwa telah terjadi
manipulasi data sejarah berkenaan dengan sikap Kartosuwiryo menghadapi
tawaran grasi tersebut. Tokoh sekaliber Kartosuwiryo tidak mungkin minta
maaf, namun ketika kita baca dalam terjemahannya yang diterbitkan oleh Sinar Harapan telah diubah sebaliknya, bahwa Kartosuwiryo meminta ampun kepada Soekamo, dan kita tahu Sinar Harapan adalah bagian dari kekuatan Kristen yang bahu -membahu dengan penguasa sekuler dalam mendistorsi sejarah Islam.

Dalam majalah Tempo 1983, pernah dimuat kisah seorang petugas eksekusi S.M.
Kartosuwiryo, yang menggambarkan sikap ketidak pedulian Kartosuwiryo atas
keputusan yang ditetapkan Mahadper RI kepadanya. Ia mengatakan bahwa 3 hari
sebelum hukuman mati dilaksanakan, Kartosuwiryo tertidur nyenyak, padahal
petugas eksekusinya tidak bisa tidur sejak 3 hari sebelum pelaksanaan
hukuman mati. Dari sinilah akhimya diketahui kemudian dimana pusara
Kartosuwiryo berada, yaitu di Pulau Seribu.

Usaha untuk mengungkapkan manipulasi sejarah adalah sangat berat. Satu di
antara fakta sejarah yang dimanipulasi, adalah untuk mengungkap kebenaran
tuduhan teks proklamasi dan UUD Negara Islam Indonesia adalah jiplakan dari
proklamasi Soekarno-Hatta. Yang sebenamya terjadi justru kebalikannya.
Ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom (6 – 9 Mei 1945) S.M. Kartosuwiryo
sudah tahu melalui berita radio, sehiNgga ia berusaha memanfaatkan peluang
ini untuk sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia. Ia datang ke
Jakarta bersama pasukan Hisbullah dan mengumpulkan massa guna
mensosialisasikan kemungkinan berdirinya Negara Islam Indonesia, dan
rancangan konsep proklamasi Negara Islam lndonesia kepada masyarakat.
Sebagai seorang tokoh nasional yang pemah ditawari sebagai menteri
pertahanan muda yang kemudian ditolaknya, melakukan hal ini tentu bukan
perkara sulit. Salah satu di antara massa yang hadir dalam pertemuan
tersebut adalah Sukarni dan Ahmad Subarjo.

Mengetahui banyaknya dukungan terhadap sosialisasi ini, mereka menculik
Soekamo-Hatta ke Rengasdengklok agar mempercepat proklamasi RI sehingga
Negara Islam Indonesia tidak jadi tegak. Bahkan dalam bukunya, Holk H.
Dengel menyebutkan tanggal 14 Agustus 1945 Negara Islam Indonesia telah di
proklamirkan, tetapi yang sebenamya baru sosialisasi saja.

Ketika di Rengasdengklok Soekamo menanyakan kepada Ahmad Soebardjo,
sebagaimana ditulis Mr. Ahmad Soebardjo dalam bukunya “Lahirnya Republik
Indonesia”. Pertanyaan Soekarno itu adalah: “Masih ingatkah saudara, teks
dari bab Pembukaan Undang-Undang Dasar kita ?”

“Ya saya ingat, saya menjawab,”Tetapi tidak lengkap seluruhnya”.

“Tidak mengapa,”Soekarno bilang,”Kita hanya memerlukan kalimat-kalimat yang
menyangkut Proklamasi dan bukan seluruh teksnya”.

Soekarno kemudian mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuai dengan apa
yang saya ucapkan sebagai berikut:”Kami rakyat Indonesia dengan ini
menyatakan kemerdekaan’.

Jika kesaksian Ahmad Soebardjo ini benar, jelas tidak masuk akal, karena
kita tahu bahwa UUD 1945 baru disahkan dan disetujui tanggal 18 Agustus 1945 setelah proklamasi. Sehingga pertanyaan yang benar semestinya adalah, “Masih ingatkah saudara akan sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia?” Maka wajarlah jika naskah Proklamasi RI yang asli terdapat banyak coretan.Jelaslah bahwa ternyata Soekarno-Hatta yang menjiplak konsep naskah proklamasi Negara Islam Indonesia, dan bukan sebaliknya. Memang sedikit sejarawan yang mengetahui mengenai kebenaran sejarah ini. Di antara yang sedikit itu adalah Ahmad Mansyur Suryanegara, beliau pernah mengatakan bahwa S.M. Kartosuwiryo pernah datang ke Jakarta pada awal Agustus 1945 bersama pasukan Hizbullah dan Sabilillah.

“Sebenarnya, sebelum hari-hari menjelang proklamasi RI tanggal 17 Agustus
1945, Kartosuwiryo telah lebih dahulu menebar aroma deklarasi kemerdekaan
Islam, ketika kedatangannya pada awal bulan Agustus setelah mengetahui bahwa perseteruan antara Jepang dan Amerika memuncak dan menjadi bumerang bagi Jepang. Ia datang ke Jakarta bersama dengan beberapa orang pasukan laskar Hisbullah, dan segera bertemu dengan beberapa elit pergerakan atau kaum nasionalis untuk memperbincangkan peluang yang mesti diambil guna mengakhiri dan sekaligus mengubah determinisme sejarah rakyat Indonesia. Untuk memahami mengapa pada tanggal 16 Agustus pagi Hatta dan Soekamo tidak dapat ditemukan di Jakarta, kiranya Historical enquiry berikut ini perlu diajukan :

Mengapa Soekarno dan Hatta mesti menghindar begitu jauh ke Rengasdengklok
padahal Jepang memang sangat menyetujui persiapan kemerdekaan Indonesia ?
Mengapa ketika Soebardjo ditanya Soekarno, apakah kamu ingat pembukaan
Piagam Jakarta ? Mengapa jawaban yang diberikan dimulai dengan kami bangsa
Indonesia …? Bukankah itu sesungguhnya adalah rancangan Proklamasi yang
sudah dipersiapkan Kartosuwiryo pada tanggal 13 dan 14 Agustus 1945 kepada
mereka ? Pada malam harinya mereka telah dibawa oleh para pemimpin pemuda,
yaitu Soekarni dan Ahmad Soebardjo, ke garnisun PETA di Rengasdengklok,
sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat kota Karawang, dengan dalih melindungi mereka bilamana meletus suatu pemberontakan PETA dan HEIHO. Ternyata tidak terjadi suatu pemberontakan pun, sehingga Soekamo dan Hatta segera menyadari bahwa kejadian ini merupakan suatu usaha memaksa mereka supaya menyatakan kemerdekaan di luar rencana pihak Jepang, tujuan ini mereka tolak.

Laksamana Maida mengirim kabar bahwa jika mereka dikembalikan dengan selamat maka dia dapat mengatur agar pihak Jepang tidak menghiraukan bilamana kemerdekaan dicanangkan. Mereka mempersiapkan naskah proklamasi hanya berdasarkan ingatan tentang konsep proklamasi Islam yang dipersiapkan SM. Kartosuwiryo pada awal bulan Agustus 1945. Maka, seingat Soekami dan Ahmad Soebardjo, naskah itu didasarkan pada bayang-bayang konsep proklamasi dari S.M. Kartosuwiryo, bukan pada konsep pembukaan UUD 1945 yang dibuat oleh BPUPKI atau PPKI.” (A1 Chaidar, Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Isalam Indonesia S.M. Kartosoewirjo, hal. 65, Pen. Darul Falah, Jakarta).

Demikianlah, berbagai manipulasi sejarah yang ditimpakan kepada Darul Islam
dan pemimpinnya, sedikit demi sedikit mulai tersibak, sehingga dengan ini
diharapkan dapat membuka cakrawala berfikir dan membangun kesadaran historis

para pembaca. Lebih dari itu, upaya mengungkap manipulasi sejarah Negara
Islam Indonesia yang dilakukan semasa orla dan orba oleh para sejarawan
merupakan suatu keberanian yang patut didukung, supaya pembaca mendapatkan
informasi yang berimbang dari apa yang selama ini berkembang luas.

Kami bersyukur kepada Allah Malikurrahman atas antusiame generasi muda Islam dalam menerima informasi yang benar dan obyektif mengenai sejarah perjuangan menegakkan Negara Islam dan berlakunya syari’at Islam di negeri ini. Semoga Allah memberi hidayah dan kekuatan kepada kita semua, sehingga perjuangan menjadikan hukum Allah sebagai satu-satunya sumber dari segala sumber hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara segera terwujud di Indonesia yang, menurut sensus adalah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam.
Amin, Ya Arhamar Rahimin !

Irfan S. Awwas, Rabi’ul Ula 1420 H, (Juli 1999).
(sumber : http://groups.google.co.id/group/soc.culture.indonesia/browse_thread/thread/7bb6b34f310e7c18/5a34599ef4bcf491%235a34599ef4bcf491)
Related items

Komentar (2)

Bersabarlah Saudaraku di Gaza…

Senin, 21 Jan 08 03:55 WIB

Hari-hari seperti ini. Lemparkanlah khayalan kita saat bersama ibu dan bapak. Isteri dan anak-anak. Di sebuah malam di bawah langit yang jernih. Saat kita semua ada dalam satu rumah. Tapi rumah kita itu, sudah tak lagi berpintu, dan tak mempunyai jendela. Tak ada air. Tak ada listrik..

Anak-anak kita menangis karena lapar dan dingin. Isteri kita juga begitu menderita karena sakit namun tak bisa membeli obat. Bukan hanya karena tak ada biaya untuk membelinya, tapi juga karena tak ada obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkannya. Orang tuamu, keduanya sudah renta dan ringkih. Juga tengah dililit lapar. Tubuh mereka sudah lemah dan penyakitnya kian hari terus bertambah.

Bayangkanlah diri kita dalam kondisi seperti ini. Tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, dan obat. Lalu, ketika kondisi begitu mendesak kita pun keluar rumah untuk mencari pertolongan bersama anak dan orang tua. Kita berjalan kaki menembus dinginnya malam, menuju rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, engkau melihat pemandangan yang lebih mengiris hati. Karena ada ratusan orang yang sudah lebih dahulu tiba dan menanti pengobatan dari rumah sakit. Anak-anak, kaum perempuan, orang-orang tua. Mereka semuanya menunggu pengobatan. Tapi tak ada obat. Tidak ada sarana pengobatan, karena listrik sudah terputus dan mereka semua berada dalam gelap.

Saudaraku,

Inilah episode kepedihan yang sesungguhnya terjadi. Di Ghaza Palestina, yang telah diisolir secara keji oleh Israel selama lebih dari enam bulan. Inilah sebagian kecil pemandangan duka tentang kondisi masyarakat Muslim Ghaza. Padahal Allah swt befirman, “Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan itu satu sama lain saling bantu membantu. ” Padahal Allah swt berfirman, “Sesungguhnya kaum Mukminin itu saudara… “ Padahal, Rasulullah saw mengingatkan kita, “Perumpamaan kaum Mukmin dalam kasih sayang dan kecintaan antar mereka seperti satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, niscaya akan sakit seluruh tubuhnya dan tidak dapat tidur. ”

Pemandangan duka yang terjadi di Palestina sesungguhnya mendobrak ingatan kita tentang kelalaian selama ini. Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina adalah kenyataan yang jelas tentang ketidakpedulian kita dengan kondisi saudara sesama Muslim di Palestina. Kita, mungkin ada yang termasuk dalam hadits Rasulullah saw, “tidak pernah memerah wajahnya karena marah” akibat penistaan yang dilakukan musuh-musuh Islam terhadap saudara-saudara Muslim. Kini, jumlah korban sudah mencapai angka ratusan orang. Dan sebagian besar mereka adalah para pasien yang sakit dan anak-anak!!

Saudaraku,

Israel telah kuasai 80% aliran listrik di Ghaza

Israel telah kuasai 100% air di Ghaza

Israel telah menguasai 70% bahan bakar di Ghaza…

Saudaraku, Ikhwanku,

Apa yang terjadi di Ghaza bukanlah isolasi, bukan pengepungan, bukan embargo. Tapi pembunuhan terhadap banyak orang yang lebih memilih hidup dengan harga diri dan kemuliaan. Yang dilakukan Israel adalah pembunuhan massal bagi orang-orang yang memilih Islam sebagai jalan hidup mereka..

Ikhwanku, umat Islam

Lebih dari satu juta orang Muslim hidup di Ghaza. Mereka semuanya menghadapi pembantaian massal itu. Kenapa? Karena mereka ingin Islam menjadi aturan pemerintah mereka. Karena mereka tidak memilih sistem sekuler. Karena mereka ingin hidup mulia dan merdeka bersama Islam. Karena mereka memilih melawan menghadapi para penjajah. Karena mereka mengatakan, “Kami akan memerangi kalian wahai Zionis Israel dengan semua tulang belulang kami. Dengan seluruh janin yang ada di rahim ibu-ibu kami. Dengan seluruh jiwa yang udara ini. Dengan seluruh tetes darah dan semua aliran nafas kami.. “

Saudaraku, Ikhwanku…

Saudara-saudara kita di Ghaza hidup dengan penderitaan yang begitu menyakitkan. Lihatlah bagaimana kondisi masyarakat yang tercekik oleh tingginya harga bahan makanan pokok yang menjadi kebutuhan mereka sehari-hari. Lihatlah bagaimana banyak orang yang usahanya bangkrut. Bayangkanlah bagaiamana masyarakat selalu dihantui rasa takut. Bagaimana masyarakat yang merasakan seluruh hidupnya adalah kepahitan belaka. Upaya mencari nafkah menjadi pahit. Hidupnya menjadi pahit. Keluar rumah melihat kepahitan. Di dalam rumah mendapatkan kepahitan. Tidurnya dalam kepahitan. Bangunnya dalam kepahitan. Melihat kepahitan di mata anak-anak mereka dan orang tua mereka. Hingga kepahitan dalam matanya sendiri.

Saudaraku yang kucinta karena Allah,

Terhentinya 4000 pabrik di Ghaza. Tutupnya 3000 usaha di Ghaza benar-benar membuat kehidupan menjadi lumpuh. Tak ada lagi aktifitas ekonomi di sana. Kecuali hanya pemberian dan tukar menukar barang. Anda memberinya minyak, lalu yang diberi memberikan Anda tepung. Anda memberikan tepung, lalu yang diberi memberikan Anda telur. Begitu dominasi kenyataan hidup mereka.

Air di Ghaza, sudah terkena wabah penyakit. Bagaimanakah kondisi mereka karena air adalah kebutuhan manusia untuk bisa bertahan hidup? Tapi mereka memang benar-benar nyaris tak punya pilihan saudaraku…

Lebih dari 70% keluarga di Ghaza hidup di bawah kemiskinan. Di manakah organisasi HAM? Yang selama ini begitu konsentrasi membantu banyak manusia di Afrika dan aktif berbicara tentang kemiskinan dan kelaparan? Hari ini, kemiskinan, dan kelaparan terjadi di Palestina. Di samping Israel yang mengaku demokratis dan mengklaim di hadapan negara Barat sebagai contoh negara yang demokratis. Di manakah demokrasi, di saat banyak orang memilih pemerintahan Islam?

Ikhwanku…

Lebih dari 65 ribu pemuda Ghaza sudah putus dari bekerja. Tidak ada pabrik dan tempat usaha tempat mereka bekerja. Lebih dari 80% penghasilan kebun menjadi murah karena harga turun drastis. Para petani di Ghaza, bekerja menyirami kebun, memelihara tanaman mereka, dari pagi hingga mentari terbenarm. Lalu, saat mereka panen, dikatakan bahwa hasil panen mereka tidak bisa dijual kecuali hanya 20% saja. Sisanya terbuang begitu saja.

Jalan-jalan diblokade. Jembatan ditutup. Masyarakat hidup dalam kerugian yang terus menerus. Sejumlah pengamat menduga bahwa Ghaza di ambang krisis ekonomi paling parah dan krisis kemanusiaan sekaligus. Karena kekurangan obat, karena kekurangan pangan, karena tingginya bahan makanan, karena mereka dilarang untuk mencari alternatif di luar Ghaza..

Ikhwanku, saudaraku,

Ada lebih dari 450 orang pasien kanker di Ghaza. Lebih dari 400 orang menderita gagal ginjal. Lebih dari 450 orang mengalami sakit jantung. Mereka kini terancam meninggal karena tidak adanya pengobatan yang layak untuk menolong mereka. Terlebih dari itu, mereka tidak boleh keluar dari “kerangkeng” Ghaza. Israel telah melarang lebih dari 300 ribu orang yang meminta untuk keluar Ghaza untuk keperluan pendidikan. Kenapa? Karena mereka khawatir bila kelak orang-orang Palestina itu kembali ke negaranya menjadi tokoh dan pakar yang mampu mengatur permasalahan negaranya. Israel ingin Palestina dipenuhi oleh orang-orang bodoh dan terbelakang. Agar Ghaza hanya menjadi tempat buruh yang siap dipekerjakan dengan menggantungkan diri pada pihak lain, penjajah Israel.

Yaa Allah… Yang Maha Pengasih. Kasihilah penduduk Ghaza.. Kasihilah anak-anak mereka yang masih menyusui. Kasihilah orang-orang tua mereka yang sudah renta. Kasihilah semua pejuang-Mu di Ghaza…

Saudaraku, Ikhwanku yang dikasihi Allah…

Dalam laporan NCRP Amerika yang berbasis di Washington disebutkan bahwa besar bantuan sosial tahun 1998 adalah 175 milyar dolar. Ada 44% dari angka tersebut dialirkan untuk mendukung gereja, proyek penyebaran agama Kristen, dan berbagai lembaga agama lain seperti Yahudi. Lihatlah, jumlah 44% itu hampir sama dengan 70 juta dolar. Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa donatur-donatur besar itu berasal dari orang per orang, lembaga dan institusi. Khusus lembaga dan institusi, disebutkan menyumbang sekitar 27 milyar dollar. Itu laporan di tahun 1998.

Tahukah kita bahwa lebih dari 37600 situs internet adalah milik Institusi Yahudi yang didukung oleh dana bantuan hanya dari Amerika saja? Bayangkanlah apa yang diterima oleh Paus dan gereja Katholik di Roma. Vatikan seperti sudah maklum memiliki pesawat khusus. Kapal pesiar khusus. Bahkan pasukan khusus yang bisa dikatakan sebagai negara dalam negara di Italia.

Sabarlah wahai penduduk Ghaza…

Sabarlah wahai saudaraku di Palestina..

Sungguh meski mereka menentang dan memerangimu dengan segala cara

Meski mereka menghalangi obat, makanan dan air dari kalian

Tapi kalian takkan pernahy terkalahkan

Bersama kalian ada Yang Maha Kuat Yang Tak Mungkin Terkalahkan

Saudaraku, ikhwanku..

Apa yang bisa kita katakan untuk bencana seperti ini???

Saudaramu, Ikwan di Indonesia

“Allahummar zuqna syahadata fi sabiilik”

(M. Lili Nur Aulia)

Tinggalkan sebuah Komentar

MEKKAH SEBAGAI PUSAT IBADAH

Satu kiblat, dua Idul Adha, tiga Idul Fitri! Ya, itulah yang pernah terjadi di Indonesia. Meskipun kejadian itu telah berlalu dan tidak menimbulkan persoalan serius dalam hal kerukunan umat Islam Indonesia, tetapi tetap rnenarik untuk dicermati terutama dalam perspektif Islam sebagai kesatuan ibadah.

Islam memang memberi ruang bagi terjadinya perbedaan pendapat, tak terkecuali dalam beberapa hal yang menyangkut ibadah mahdhah. Namun, tidak pada semua hal perbedaan itu boleh terjadi. Artinya, ada batas-batas di mana kita bisa berbeda, dan ada batas-batas di mana kita tidak boleh berbeda. Ibadah haji, misalnya, adalah salah satu ibadah mahdhah penting dalam Islam (Rukun Islam).

Dalam beberapa hal, umat Islam boleh berbeda dalam tata cara pelaksanaannya (misalnya tercermin dari haji Ifrad, haji Qiran, haji Tamattu’). Tetapi dalam hal-hal mendasar, tidak boleh terjadi perbedaan dalam pelaksanaan ibadah haji, misalnya soal waktu pelaksanaannya (bulan Zulhijjah, dengan klimaks tanggal 9 Zulhijjah) atau soal tempat pelaksanannya (di Mekkah).

Idul Adha atau Idul Kurban adalah salah satu rangkaian dari ibadah haji yaitu hari pelaksanaan penyembelihan kurban (oleh jamaah haji). Rasulullah SAW bersabda, “Idul Fitri adalah hari saat berbuka dan Idul Adha adalah hari ketika umat menyembelih kurbannya” (HR Tirmizi). Sebelum Idul Adha, para jamaah haji melaksanakan tugas utamanya, yaitu wukuf di padang Arafah, sementara kaum Muslimin yang tidak sedang menjalankan ibadah haji melaksanakan puasa sunah Arafah.

Sebagai contoh kasus, pada tahun 2006 atau 1427 H pemerintah Arab Saudi menetapkan waktu wukuf di Arafah (9 Zulhijjah) pada hari Jumat, bertepatan dengan tanggal 29 Desember 2006, sehingga Idul Adha di Mekkah jatuh pada hari Sabtu, 30 Desember 2006. Sementara itu pada tahun 2000, pemerintah Arab Saudi menetapkan waktu wukuf di Arafah (9 Zulhijjah) pada hari Rabu, bertepatan dengan tanggal 15 Maret 2000, sehingga Idul Adha di Mekkah jatuh pada hari Kamis 16 Maret 2000.

Karena Idul Adha adalah satu rangkaian dengan ibadah haji, maka seharusnya waktu pelaksanaan Idul Adha yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi—sebagai khadimul haramain (pengelola dua tanah haram, Mekkah dan Madinah)—juga menjadi ketetapan bagi umat Islam di belahan bumi yang lain.

Konsep seperti itulah yang mayoritas diikuti umat Islam dunia, tetapi tidak di Indonesia. Penetapan Idul Adha di Indone­sia didasarkan pada perhitungan (hisab) atau penglihatan (rukyat) terhadap bulan (hilal) di wilayah geografis Indonesia sendiri. Oleh karena itu, sering terjadi perbedaan waktu Idul Adha di Indonesia dengan negara lainnya, khususnya dengan Idul Adha di Mekkah.

Maka pada tahun 2006 atau 1427 H, Idul Adha di Indonesia jatuh pada tanggal Ahad 31 Desember 2006, sehari setelah Idul Adha di Mekkah. Ini pula yang menyebabkan terjadinya dua Idul Adha 1420 di Indonesia.  Seperti telah kita ketahui bersama, pada tahun 1420 itu ada dua ldul Adha di Indonesia, yaitu hari Kamis 16 Maret 2000 yang didasari olah hisab dan hari Jum’at 17 Maret 2000, yang didasari oleh rukyat. Jika dalam rukyat bulan tidak tampak maka dilakukan istikmal (penyempurnaan hari = 30 hari) bulan sebelumnya (Zulqaidah).

Meskipun dari dua Idul Adha itu ada yang sama dengan Idul Adha di Mekkah, namun kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka. Artinya, sebagian besar umat Islam Indoensia yang melaksanakan Idul Adha pada Kamis 16 Maret 2000 tidak menetapkannya berdasarkan ketetapan Arab Saudi. Tak heran jika pada tahun-tahun sebelumnya, biasa terjadi perbedaan Idul Adha di Indonesia dengan ldul Adha di Mekkah. Tahun 1419 misalnya, Idul Adha yang ditetapkan pemerintah jatuh pada satu hari setelah ldul Adha di Mekkah.

Ketidaksesuaian antara Idul Adha di Indonesia—atau negara yang lain—dengan Idul Adha di Mekkah mengandung sejumlah kemusykilan. Pertama, Idul Adha yang berbeda dengan Mekkah itu, tentu saja, ahistoris dengan ibadah haji.

Kedua, ketidaksesuaian itu akan berimplikasi pada keruwetan hukum fiqh. Misalnya, puasa di hari raya (Adha atau Fitri) adalah terlarang. Jika Idul Adha di Mekkah jatuh pada Kamis 16 Maret 2000, sementara di Indonesia hari itu masih dianggap tanggal 9 Zulhijjah (karena Idul Adha jatuh pada Jum’at 17 Maret 2000) maka umat Islam Indonesia baru dalam taraf metaksanakan puasa Arafah. Bukankah hal ini (puasa di hari haram) musykil sekali?

Ketiga, ketidaksesuaian itu menunjukkan bahwa umat Islam lebih senang terhadap perbedaan dari pada kesamaan. Implikasi lebih jauh, akan muncul Islam versi Indonesia, Islam versi Mesir, Islam versi Afrika Selatan, atau Islam versi Amerika Serikat.

Sebenarnya, jika kita tidak terlalu egois dan angkuh dengan keindonesiaan (nasionalisme), persoalan penetapan hari raya (Adha dan Fitri) bagi umat Islam dunia tidakah terlalu rumit. Kuncinya, jika kita mau mengikuti penetapan hari raya di Mekkah. Ada tiga alasan yang bisa dikemukakan. Pertama, di Mekkah terdapat Baitullah (Ka’bah) sebagai kiblat shalat bagi umat Islam dunia. Dalam surat Ali Imran/3:96 dikatakan bahwa Baitullah di Mekkah itu diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manusia, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. Dalam pengertian yang lebih dalam, Baitullah adalah pusat kesatuan ibadah bagi umat Islam, termasuk di dalamnya Idul Adha atau Idul Fitri.

Kedua, ibadah haji (juga umrah) sebagai ibadah yang melibatkan secara langsung pertemuan jutaan umat Islam dunia­ bertempat di wilayah Mekkah (Masjidil Haram, Jabal Rahmah, Padang Arafah, Shafa-Marwah, Muzdalifah).

Ketiga, lebih khusus tentang Idul Adha, Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa hari Arafah adalah hari yang telah ditetapkan oleh Imam (Khalifah) dan hari berkurban adalah saat Imam menyembelih kurban (HR Tirmizi). Dalam hadits lain disebutkan bahwa pada masa Rasulullah Amir Mekkah, [beliau-lah] yang menetapkan pelaksanan haji, mulai dari wukuf, thawaf, bermalam di Muzdalifah, dan seterusnya (HR Abu Daud). Artinya penetapan wukuf, yang berefek pada Idul Adha, adalah berdasarkan ketetapan Amir Mekkah dan pelaksanaannya berlaku di seluruh pelosok dunia.

Saat ini memang tidak ada kekhalifahan Islam. Tetapi setidaknya ketetapan pelaksanaan hari raya yang dibuat pemerintah Arab Saudi—sebagai pengelola Mekkah dan Madinah—bisa menjadi jembatan pelaksaanaan Idul Adha (juga Idul Fitri) bersama. Sebab, dengan menjadikan Mekkah (juga Madinah) sebagai pusat ibadah umat Islam, insyaallah akan terbentuk kesatuan ibadah dan kemudian kesatuan umat Islam.

Jadi, satu umat, satu kiblat, satu Idul Adha, satu Idul Fitri! Semoga!

Mohammad Nurfatoni

Tinggalkan sebuah Komentar

Kejadian Manusia Pertama (Adam) Menurut Al-Qur’an Dan Pentateuch (taurat dan injil)

Oleh: Khairul Nizam Abdul Karim
PENDAHULUAN

Islam merupakan al-Din yang lengkap dan paling sempurna mengatasi agama-agama samawi yang lain, dan ia mendapat pengiktirafan daripada Allah secara langsung dan diturunkan melalui Kitab Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad S.A.W sebagai agama samawi yang terakhir. Manakala Pentateuch pula adalah istilah yang digunapakai terhadap kitab-kitab samawi yang diturunkan sebelum al-Qur’an. Ia merangkumi Kitab Zabur, Taurat dan juga Injil. Dalam kertas kerja ini, penulis melihat bahawa persoalan penciptaan manusia pertama merupakan suatu kajian yang amat menarik untuk diselidiki di dalam al-Qur’an dan dibandingkan dengan kandungan Pentateuch.

Ini kerana, terdapat persamaan terhadap beberapa peristiwa penting yang berlaku ketika berlangsungnya proses pencipaan manusia tersebut. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana kebenaran yang terkandung di dalam Pentateuch itu sama ada ia masih asli ataupun sudah diselewengkan. Selain dari itu juga penulis cuba untuk melihat perbezaan-perbezaan maklumat yang terkandung di antara Pentateuch dan juga al-Qur’an, seterusnya bakal merungkai bagaimana atau siapakah manusia pertama yang telah “diciptakan” itu.
KEJADIAN MANUSIA PERTAMA (ADAM) MENURUT AL-QUR’AN

Pendahuluan

Di peringkat awal sebelum penciptaan manusia bermula Allah S.W.T telah berfirman kepada malaikat bahawa akan menjadikan seorang khalifah di bumi ini. Sebagaimana firmanNya yang bermaksud:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”…..
Surah al-Baqarah (2): 30

Merujuk kepada ayat di atas falsafah kejadian manusia iaitu sebagai khalifah merupakan satu penganugerahan sebagai ciptaan terbaik di antara ciptaanNya. Selian itu sebagai khalifah manusia juga mempunyai tanggungjawab yang tinggi untuk mentadbir alam ini.
Falsafah Penciptaan Manusia daripada Tanah

Berkenaan penciptaan manusia pertama di dalam Al-Quran terdapat di dalam beberapa surah yang kebanyakan ayat menyatakan bahawa manusia adalah dicipta daripada tanah. Sudah tentu penciptaan ini mempunyai intisari dan falsafahnya yang tesendiri.

Manusia telah dipaparkan di dalam Al-Quran sebagai ciptaan yang dihubungkan dengan tanah. Sebagaimana firman Allah:

“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sabaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu(daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya” Surah Nuh (71): 17 –18

“Dari bumi(tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain” Suran Thaha (20): 55

Merujuk kepada ayat-ayat di atas ianya menunjukkan bahawa aspek spiritual mengenai asal-usul kejadian manusia daripada tanah ialah menekankan bahawa manusia akan kembali kepada tanah selepas mati. Selain itu ia juga merujuk kepada kebangkitan manusia di hari penghisaban atau hari perhitungan.

Manakala Dr. Maurice Bucaille di dalam bukunya iaitu What Is The Origin Of Man?, mengatakan bahawa perkataan khalaqa yang biasanya diberi pengertian sebagai menjadikan atau “ to create” adalah kurang besesuaian. Beliau menafsirkan perkataan yang paling sesuai ialah “ to give porpotion to the a thing, atau “to make it of a certain propotion or quantity” atau to bring into existence a thing which did not formerly exist . Beliau juga menekankan bahawa perkataan di atas adalah hampir kepada perkataan asal yang digunakan di dalam Bahasa Arab .
Kompenen dan Proses Kejadian Manusia

Terdapat banyak surah di dalam al-Quran yang menghuraikan tentang penciptaan manusia. Didapati kebanyakan ayat menerangkan bahawa kejadian manusia adalah daripada tanah ( turab ). Di antara firman Allah itu ialah :

“ …maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu daripada tanah,….”
Surah al-Hajj (22): 5

Maka dalam huraian seterusnya penulis akan menghuraikan proses kejadian manusia ini melalui beberapa peringkat dengan merujuk kepada beberapa ayat yang bersesuaian.
Pertama: Peringkat Saripati Tanah( سلالة من طين )

Pada peringkat ini didapati bahawa Allah S.W.T melakukan beberapa penyaringan debu tanah. Firman Allah:

“ Kemudian Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati(berasal) dari tanah”Surah al-Mu’minun (23): 12

Proses ini bertujuan untuk mendapatkan saripati tanah (sulālat min ţīn) yang bersih dan amat sesuai untuk dijadikan bahan sebagai salah satu unsur daripada penciptaan manusia. Ini menunjukkan bahawa tanah yang digunakan ini telah melalui proses penyaringan dan bukan daripada tanah biasa sebagaimana yang manausia pada hari ini fikirkan. Ini amat bersesuaian dengan kemuliaan yang diberikan oleh Allah S.W.T kepada manusia. Dari aspek lain dipaparkan juga adalah kebesaran Allah S.W.T dalam penciptaan makhluqnya dan Dia sebagai Khāliqnya.

Manakala Dr. Maurice Bucaille menghuraikan dengan merujuk kepada Surah al-Furqan: 54 bahawa keturunan manusia juga berasal daripada air iaitu saripati sperma atau yang dipanggil secara sciencetific sebagai spermatozoon . Oleh itu beliau melihat saripati tanah yang dikemukakan di atas hendaklah dirujuk bersama pelbagai kompenen lain yang merangkumi saripati tanah dan saripati air yang menjadi elemen terpenting dalam penciptaan manusia.
Kedua: Peringkat Tanah Melakat (طين لازب )

Pada peringkat ini dikenali sebagai peringkat tanah melekat. Sebagaimana firman Allah:
“…Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat”
Surah As-Shaffat (37): 11
Sebagaimana diketahui tanah liat pada dasarnya mempunyai sifat melekat. Al-Qurtubiyy menghuraikan bahawa pada peringkat ini keadaan tanah melakat atau menempel di antara satu sama lain. Manalaka selepas itu tanah ini akan menjadi tanah yang keras .

Pada peringkat ini Al-Qurtubiyy juga menerangkan di dalam tafsirnya bahawa manusia pertama iaitu yang dikaitkan dengan Adam dikatakan kekal sebagai satu lembaga yang berbentuk tanah liat. Selain itu tempuh ia berada dalam keadaan ini adalah selama empat puluh tahun sehingga sifat fizikalnya berubah menjadi keras dan kering .
Ketiga: Peringkat Tanah Berbau (حماء مسنون)

Peringkat ini adalah dengan merujuk kepada firman Allah yang bermaksud:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”
Surah al-Hijr (15): 26

Mengikut tafsiran Dr. Maurice Bucaille حماء مسنون diertikan juga sebagai lumpur atau tanah berorganik dan tidak tertumpu kepada pengertian lain seperti lumpur yang berubah-ubah yang berwarna hitam serta mempunyai bau tersendiri . Ini adalah disebabkan proses penyebatian di anatara tanah dan air telah berlaku.
Keempat: Peringkat Tanah Keras ( الصلصال)

Perkataan ini tidak sempurna jika perumpamaannya tidak dijelaskan bersama iaitu كاالفخار yang membawa erti seperti tembikar. Maka jelas bahawa pada peringkat ini dari aspek fizikalnya manusia yang ingin diciptakan oleh Allah S.W.T berada dalam keadaan yang keras seperti sifat tembikar. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:
“Dia mencipta manusia dari tanah kering seperti tembikar”
Surah Ar-Rahman (55): 14

Manakala Abū Hasan al-Tibrisī menerangkan bahawa dengan fizikal yang keras, ia dapat mengeluarkan dentingan bunyi yang gemerincing serta berulang-ulang di udara seperti suara besi yang dipukul angin . Pada peringkat ini menunjukkan bahawa masa untuk Adam menjadi lembaga manusia yang lengkap sudah tiba. Pada peringkat ini juga ianya dilihat sebagai peringkat terakhir penciptaan manusia dari aspek fizikalnya termasuk tiga peringkat yang terawal sebagaimana yang diterangkan sebelum ini.
Kelima: Peringkat Peniupan Roh

Peringkat yang kelima ini menunjukkan proses penciptaan manusia pertama(Adam) dari aspek spiritual, setelah aspek fizikalnya telah lengkap hingga ke tahap menjadi satu lembaga. Di dalam kitab Qisās al-Ambiyā’ penerangan tentang proses penciptaan manusia yang seterusnya dipaparkan dengan amat jelas. Dikatakan Allah S.W.T meniup roh ke dalam diri Adam melalui kepala dan selepas itu malaikat dengan perintah Allah telah mengajar Adam untuk memuji Allah iaitu (الحمد لله ) lalu dia menyebut. Apabila roh memasuki bahagian matanya, Adam telah dapat melihat denga jelas buah-buah yang terdapat di dalam syurga. Selepas itu apabila sampai roh ke bahagi kerongkong Adam ingin makan. Dan sebelum roh sampai kebahagian kaki, maka Adam segera ingin menjankau buah tersebut .

Di sini terdapat dua persoalan yang dapat dijelaskan. Pertama, jika merujuk kepada huraian di atas bahawa proses peniupan roh ke dalam jasad Adam berlaku di dalam syurga maka boleh dibuat kesimpulan bahawa tempat penciptaan manusia pertama(Adam) adalah berlaku di dalam syurga. Ini adalah bertepatan dengan pendapat yang menyatakan Adam dicipta di syurga Ma’wa iaitu tempat kediaman kepada orang-orang sāleh sepertimana yang dihuraikan di dalam kitab Hayāt Ādam .

Persoalan kedua adalah berkenaan dengan sikap gopoh Adam dam proses penyempurnaan penciptaannya. Ia dapat dilihat dalam sikap manusia pada hari ini yang suka melaksanakan sesuatu perkara dalam keadaan yang tergesa-gesa atau inginkan sesuatu itu dalam kadar yang segera. Sebagaimana pepatah Melayu:
“ Belum duduk sudah nak melunjur”.

Dalam hal ini Allah S.W.T telah menerangkan sikap ini di dalam al-Quran sebagaimana firmannya yang bermaksud:
“Manusia telah dijadikan(bertabiat) tergesa-gesa…” Surah Al-Anbiya’(21): 37

Maka dengan berakhir proses peniupan roh ini sempurnalah kejadian Adam iaitu sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah S.W.T. Jika dilihat dengan teliti proses penciptaan manusia pertama yang dipaparkan di dalam al-Quran amat teliti dan huraiannya adalah bersifat kronologi.
KEJADIAN MANUSIA PERTAMA (ADAM) MENURUT PENTATEUCH(TORAH)M

Pendahuluan

Kejadian manusia pertama yang dihuraikan di dalam Pentateuch adalah amat ringkas. Kebanyakan huraian terdapat di dalam Kitab Genesis iaitu di dalam chapter 1 – 2. Jika dirujuk secara teliti di dalam Kitab Genesis didapati manusia bukan cipataan Tuhan yang pertama.

Secara umum proses kejadian makhluk sebagaimana yang dihuraikan di dalam Kitab Genesis merangkumi 6 hari. Setiap hari terdapat ciptaan yang dijadikan oleh Tuhan sepertimana pada hari pertama siang mendahulu ciptaan-ciptaan yang lain. Manakala pada hari kedua Ia menciptakan air dan tumbuhan diciptakan pada hari ketiga. Selain itu matahari, bulan dan bintang turut diciptakan pada hari tersebut. Seterusnya pada hari keempat diciptakan makhluk-makhluk di daratan dan juga makhluk di lautan. Manakala pada hari kelima binatang berkepak pula dicipta sebagai makhluk di angkasa .

Maka pada hari keenam bermula penciptaan manusia sebagaimana yang diungkapkan di dalam Genesis ( 1:26):

“ The God said, “Let Us make humankind in our image, occording to our likeness and let them have dominion over the fish of the seaand over the birds of the air and over the cattle and over all the wild animals of the earth and over every creeping things that creeps upon earth”

Penulis melihat bahawa tidak terdapat banyak ayat atau ungkapan di dalam Kitab Genesis yang menghuraikan secara terperinci berkenaan proses penciptaan manusia pertama. Didapati hanya terdapat satu ayat sahaja iaitu di dalam Genesis (2 : 7). Walaubagaimanapun penulis melihat ayat tersebut dapat dibahagikan huraiannya kepada dua aspek iaitu darisegi fizikal dan spiritual. Maka dalam huraian seterusnya penulis akan menumpukan perbincangan kepada dua aspek tersebut.
Kejadian manusia dari aspek fizikal

Kitab Suci Bibble iaitu di dalam Genesis telah menerangkan bahawa manusia pertama yang dicipatakan oleh Tuhan adalah daripada debu tanah. Sebagaimana yang diungkapkan di dalam Genesis ( 2:7 ):
“ then the LORD God formed man from the dust of the ground…”

Dengan jelas pada pandangan penulis fakta kejadian manusia daripada tanah ini harus dipegang oleh penganut Kristian. Walaubagaimanapun terdapat pelbagai pandangan yang diutarakan berkenaan fakta tanah ini.

Di dalam Evolution and Theology terdapat ahli agama yang menafsirkan penciptaan manusia daripada tanah itu harus difahami dalam bentuk metafora semata-mata dan bukan dalam bentuk tanah yang sebenar. Ini adalah kerana dari segi pandangan kasar tidak mungkin tanah akan dapat membentuk sehingga menjadi manusia yang lengkap seperti pembentukan Adam.

Selain itu mereka juga berpendapat bahawa jika ia berlaku, maka akan wujud proses-proses pembentukan tanah sehingga lengkap menjadi seorang manusia. Tetapi pada hakikatnya mereka tidak dapat menghuraikan pandangan tersebut dan bagaimanakah proses-proses pembentukan itu berlaku. Pada pandangan mereka, dalam hal ini seharusnya kepatuhan untuk menerima sebarang huraian daripada Kitab Suci iaitu Bibile harus diutamakan .

Penulis juga menemui bahawa ada terdapat huraian lain berkenaan persoalan tanah atau dust sebagaimana yang diungkapkan oleh Bibile. Di antaranya sebagaimana huraian di dalam Creation Revealed karangan Fredk A. Filby, perkataan tanah atau dust adalah dirujuk kepada particles atau butir-butir . Selain itu ia juga telah rujuk kepada unsur atom . Pada pandangan penulis huraian ini adalah mengambil kira aspek atom di mana dari segi fizikalnya terdiri daripada unsur-unsur yang kecil sepertimana unsur yang terdapat di dalam debu tanah.

Dengan melihat kepada huraian dan sumber yang terhad dan masa yang terbatas penulis dapati bahawa tidak terdapat huraian yang kukuh atau tepat tentang penciptaan manusia pertama iaitu Adam, begitu juga mengenai proses-proses pembentukannya. Ini dikuatkan lagi dengan hujah yang dikemukakan di dalam buku I Belileve in the Creator karangan James M. Houstan yang mengatakan bahawa kejadian manusia dari segi fizikal tidak banyak dihuraikan di dalam Old Testament mahupun New Testament. Oleh itu beliau membuat kesimpulan bahawa tidak terdapat seorang pun yang menghuraikan dengan kapasiti yang tepat berkenaan asal-usul manusia sepertimana penciptaan Adam .
Kejadian manusia dari aspek spiritual

Penulis telah menegaskan sebelum ini bahawa hanya terdapat satu ayat sahaja yang menghuraikan kejadian manusia pertama iaitu Adam di dalam Genesis. Bahagian pertama ayat tersebut telah dikategorikan sebagai huraian kepada pembentukan manusia secara fizikal. Manakala sebahagian yang lain telah menghuraikan dari aspek spiritual. Sebagaimana yang diungkap di dalam Genesis ( 2: 7 ):

“…and breathed into his nostril the breath of life; and the man became a living being.”

Dengan melihat kepada ungkapan di atas penulis mendapati terdapat dua komponen utama dalam penyempurnaan penciptaan manusia, iaitu nostril mewakili badan atau body dan breath of life mewakil roh atau spirit. Penjelasan ini amat ketara sebagaimana huraian yang terdapat di dalam The Nature and Destiny of Man .

Dengan meneliti ayat di atas penulis tidak jelas dan tidak pasti sama ada ayat tersebut merupakan huraian kepada proses terakhir penciptaan manusia atau sebaliknya. Ia amat berbeza sebagaimana huraian yang dijelaskan dalam pendangan Islam terhadap peniupan roh ke dalam jasad Adam. Di sini penulis membuat kesimpulan dengan berdasarkan huraian dalam Islam sebagaimana huraian di perigkat peniupan roh bahawa, pada peringkat ini adalah peringkat terakhir kejadian penciptaan Adam.

Di dalam menafsir ayat di atas didapati bahawa terdapat unsur anthropomorphic . Di dalam The Genesis Record didapati seakan-akan Tuhan mempunyai pipi sehingga dapat mengembungkannya dan seterusnya meniupkan roh (breath of life) ke dalam jasad Adam melalui lubang hidung (nostril ). Ini menunjukkan bahawa Tuhan mempunyai jasad sepertimana manusia.

Berkenaan dengan jangkamasa penciptaan manusia pertama iaitu Adam, Genesis memaparkan bahawa proses ini hanya berlaku dalam tempoh masa yang singkat iaitu satu hari. Ini dapat dirujuk kepada Genesis ( 1:27 ). Penciptaan ini terjadi pada hari keenam sebelum Tuhan beristirehat pada hari seterusnya. Walaubagaimanapun al-Quran memaparkan bahawa proses penciptaan manusia mengambil masa yang panjang.
Persamaan dan perbezaan al-Quran dan Pentetuech dalam penciptaan manusia pertama

Dalam perbincangnan sebelum ini dengan jelas didapati bahawa terdapat hanya satu persamaaan di antara al-Quran dan Pentatuech dalam penciptaan manusia. Kedua-duanya menyatakan penciptaan manusia adalah daripada tanah. Walaubagaimanapun dalam perbincangan al-Quran unsur tanah ini mempunyai falsafahnya yang tersendiri. Di antaranya sebagaimana yang dihuraikan sebelum ini manusia dicipta oleh Allah S.W.T daripada tanah dan ia akan kembali ke tanah selepas mati. Selain itu Ibn Kathir menyatakan unsur tanah ini adalah bermaksud tetap pendirian dan ia juga adalah alternatif Allah ke atas zat tanah yang pada dasarnya tanah mempunyai manfaat dan lebih baik daripada unsur lain yang wujud seperti api dan sebagainya .

Di dalam Evolution and Theologi, St. Augustine menerangkan bahawa perbincangan penciptaan manusia adalah suatu yang tidak memberi manfaat. Ini adalah kerana mereka lebih mengutamakan persoalan dari aspek Theologi yang membicarakan persoalan manusia dengan Tuhannya .

Manakala dari segi perbezaan, penulis mendapati terdapat beberapa perbezaan yang amat ketara. Di antaranya berkenaan proses keseluruhan penciptaan manusia. Di dalam al-Quran proses penciptaan manusia ini dihurai dengan cara yang tersusun dan mempunyai peringkat-peringkat tertentu. Dengan ini ia akan lebih mudah difahami dan diyakini.

Manakala huraian yang terdapat di dalam Pentatuech agak ringkas dengan penggunaan satu ayat sahaja iaitu di dalam Genesis ( 2:7 ). Pada pandangan penulis ia sukar difahami dengan jelas bukan sahaja kepada penganut agama lain malah penganut agama Kristian sendiri termasuk ahli-ahli Theologi mereka. Selain itu ia juga akan mengundang salah interpretasi terutama dalam persoalan unsur tanah.

Perbezaan seterusnya adalah berkenaan dengan tempoh masa kejadian manusia. Walaupun penulis masih belum dapat memastikan tempoh masa sebenar penciptaan manusia di dalam al-Quran disebabkan masa yang terhad, tetapi yang pasti tempohnya mengambil masa yang panjang iaitu 40 tahun sebagaimana yang diterangkan sebelum ini.

Ini adalah berdasarkan huraian di peringkat sebelum peniupan roh ke dalam jasad Adam sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas dengan merujuk kepada kalimah “الدهر ” yang membawa maksud waktu daripada masa. Manakala di dalam Genesis dengan jelas menunjukkan penciptaan manusia ini hanya mengambil masa yang singkat iaitu selama satu hari sahaja iaitu pada hari keenam. Ini dengan merujuk kepada Genesis ( 1: 27-31 ).

Penulis melihat bahawa adalah benar jika untuk mengatakan bahawa perbincangan mengenai penciptaan manusia di dalam Bibble bukan suatu yang penting dan utama bagi masyarakat Kristian. Ini adalah kerana ia tidak termasuk salah satu doktrin agama Kristian seperti Konsep Triniti, Dosa Warisan, Salvation dan beberapa yang lain. Dalam Islam walaupun ia bukan termasuk dalam perbincangan doktrin utama sekalipun, tetapi persoalan ini bersangkut paut dengan kepercayaan dan keimanan terhadap kekuasaan Allah yang berkuasa untuk menentukan apa sahaja yang diinginiNya.
AL-QURAN: KEASLIAN KALAM TUHAN

Pendahuluan

Al-Quran telah diturunkan ke atas Nabi Muhammad S.A.W secara beransur-ansur sekitar dua puluh tahun, dan ia masih lagi belum sempurna sebagai satu kitab. Sebagaimana yang diketahui bahawa al-Quran atau wahyu diturunkan melalui pelbagai cara kepada Nabi Muhammad dan juga kepada Nabi-nabi terdahulu . Di antaranya perantaraan malaikat Jibril , mimpi yang benar dan ilham. Dalam proses penurunan ini Allah S.W.T memelihara dan menjamin supaya tidak berlaku sebarang penyelewengan atau sesuatu unsur yang dapat mengggugat keaslian dan kemurnian kalamNya selama-lamanhya. Sebagaimana fimanNya yang bermasksud:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” Surah Al-Hijr(15):9

Dari perspektif al-Quran amat jelas bahawa tidak akan berlaku sebarang penyelewengan terhadap wahyu atau al-Quran yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul. Ini adalah kerana ia dipelihara oleh Allah S.WT. Dalam huraian yang seterusnya penulis akan cuba melihat secara ringkas dari aspek peralihan ayat-ayat al-Quran melalui cara penghafalan, pengumpulan dan seterusnya proses pembukuan al-Quran. Di mana semua ini akan dapat membuktikan bahawa kalam Tuhan yang diturunkan ini tetap asli dan terpelihara kemurniannya.
Proses Penghafalan dan Peralihan secara lisan

Peralihan ayat-ayat al-Quran secara lisan adalah berasaskan konsep hifz atau penghafalan. Pada peringkat ini Nabi Muhammad S.A.W adalah orang yang pertama menghafal ayat-ayat al-Quran atau wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui perantaraan Maikat Jibril. Penulis merujuk penjelasan ini sebagai mana yang telah dijelaskan oleh Allah di dalam beberapa ayt-ayat al-Quran .

Pada peringkat seterusnya Nabi Muhammad S.A.W menerangkan tentang penurunan wahyu dan mengarahkan para sahabat untuk menghafalnya. Pelbagai langkah dan usaha telah di ambil oleh Rasulullah S.A.W untuk memastikan setiap ayat yang dihafal oleh para sahabat terus terpelihara. Sebagaimana Hadith yang diriwayatkan oleh Uthman bin ‘Affan yang bermaksud:

“Uthman bin ‘Affan meriwayatkan bahawa, Rasulullah S.A.W telah bersabda: Orang yang paling tinggi kedudukannya di antara kamu(Muslim) adalah mereka yang mempelajari al-Quran dan mengajkarnya”

Di samping itu para sahabat juga menggunakan ayat-ayat tersebut sebagai ayat bacaan di dalam sembahyang. Pada peringkat ini para sahabat mendengar dengan tekun ayat yang dibaca oleh Rasulullah S.A.W berulang kali dan kemudian mereka menghafalnya. Untuk memastikan mereka tidak lupa, ia digunakan sebagai ayat bacaan di dalam sembahyang seharin. Selain membacanya di dalam sembahyang Rasulullah S.A.W juga mendengar secara terus ayat-ayat yang telah dihafal oleh para sahabat . Ini adalah untuk memastuikan ia tidak silap dan peralihan daripadaNya melaui hafalan akan terus terpelihara.

Pada hakaikatnya lebih daripada dua puluh orang daripada kalangan mereka yang terkenal di dalam Islam yang telah menghafal ayat-ayat al-Quran . Di anatara mereka ialah Abu Bakr, ‘Umar , ‘Uthman, ‘Ali, Ibn Mas’ud, Abu Huraira, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al’As, ‘Aisha, Hafsa Umm Salam dan lain lagi.

Pada peringkat ini penulis membuat kesimpulan awal bahawa proses penghafalan yang dilakukan pada zaman awal penurunan al-Quran menunjukkan kepada kita bahawa ianya amat terpelihara daripada sebarang unsur penyelewengan atau perubahan. Ini adalah kerana proses ini telah diteliti oleh Rasulullah satu persatu serta menyemak dari bacaan penghafal sendiri. Tradisi ini telah berlarutan di kalangan sahabat selepas kamatian Rasulullah, dan selepas itu di kalangan tabi’un dan ke semua generasi Muslim hingalah ke hari ini.
Proses Peralihan dalam bentuk Penulisan dan Dokumentasi

Suyuti di dalam Itqan telah menyatakan bahawa proses penulisan al-Quran telah dilakukan pada zaman Rasulullah lagi tetapi proses pembukuan atau dokumentasi masih belum berjalan dengan baik . Manakala proses seterusnya berlaku dengan sempurna ketika zaman Abu Bakr dan ‘Uthman.

Secara umum maksud pengumpulan al-Quran ini ialah (i) Mengumpulkan ayat-ayat al-Quran secara lisan daripada penghafal al-Quran. (ii) Mengumpulkan ayat-ayat al-Quran dalam bentuk penulisan di atas kertas mahupun buku.

Proses yang terakhir dilihat dalam sejarah pembukuan al-Quran adalah pada zaman ‘Uthman yang diketahui umum sebagai Mashaf ‘Uthmani. Walaupun pada permulaannya terdapat sedikit perbezaan dari segi pembacaan terutama mashaf yang terdapat di zaman Abu Bakr. Selepas perbincangan dengan para sahabat mereka bersetuju untuk menyemek kembali Mashaf Abu Bakr yang disimpan oleh Hafsa sebagaimana yang diriwayatkan Anas bin Malik di dalam Hadith . Maka selepas itu ‘Uthman meminta para sahabat seperti Zaid bin Thabit untuk menulis semula ayar-ayat ini dalam keadaan yang sempurna dan dikenali sebagai Mashaf ‘Uthmani.

Oleh yang demikian adalah amat jelas proses yang dipaparkan di atas menunjukkan bahawa bagaimana ayat-ayat al-Quran it terus dipelihara dan dijaga daripada sebarang perubahan dan penyelewengan bermula daripada penurunannya sehingalah dibukukan sebagaimana yang digunakan olek seluruh umat islam di dunia. Pada hakikatnya keasl;ian dan kesahihan ayat-ayat al-Quran sebagai kalam Allah yang asal tidak dapat dipertikikan lagi.

Keagungan dan keaslian kalam Allah ini bukan sahaja diakui oleh seluruh umat Islam tetapi terdapat juga tokoh-tokoh Kristian yang mengakuinya, Sebagai contoh sebagaiman di dalam buku Keagungan Dunia Terhadap Islam, seorang tokoh Kristian iaitu Paul Cassanova mengatakan:
“bilamana saja Muhammad diminta sesuatu mukjizat sebagai bukti kebenaran ajarannya, dia mengutip ayat-ayat al-Quran dengan keistimewaan sasteranya yang tiada tandingan, sebagi bukti al-Quran itu datang dari Ilahi .
PENTATEUCH(TORAH) BUKAN KALAM TUHAN

Perspektif al-Quran

Pada bahagia ini penulis akan cuba mengemukakan hujah-hujah yang mengatakan bahawa Pentateuch atau Torah adalah bukan kalam Allah yang asal sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Musa.Ini adalah keran telah berlaku banyak penyelewengan terhadap sumber asal tesebut. Penulis hanya akan merujuk kepada sumber utama iaitu al-Quran untuk menghuraikan persoalan tersebut.

Allah telah berfirman di dalam al-Quran yang bermaksud:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya(ada) petunjuk dan cahaya(yang meneranngi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya”
Surah al-Maidah (5): 44

Merujuk kepada ayat di atas al-Quran telah menerangkan bahawa Taurat ialah kitab yang diturunkan(diwahyukan) Tuhan kepada Nabi Musa. Pada dasarnya kitab ini mengandungi petunjuk, penerangan, hukum-hukum, peringatan dan juga nasihat bukan hanya untuk Nabi Musa tetapi untuk seluruh bangsa Yahudi.

Manakala dalam ayat lain Allah berfirman yang bermaksud:
“ Sesungguhnya Kami telah memberi petunjuk kepada Musa dan Kami wariskan kepada Bani Israil kitab petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai fikiran” Surah al-Ghafir(40):53-54.

Dengan merujuk kepada ayat di atas maka dengan jelas menunjukkan bahawa pada hakikatnya Taurat itu telah sempurna diwahyukan kepada Nabi Musa ebagai kalam Allah dan telah diwariskan serta diajarkan kepada seluruh Bani Israil pada ketika Beliau masih hidup di dunia.

Tetapi dalam firman Allah yang seterusnya, telah dinyatakan pula sikap Bani Israil yang telah dan berpaling daripada ajaran yang di bawa oleh Nabi Musa sehingakan mereka mengubah perkataan yang terdapat di dalam Taurat seterusnya melupakan sebahagian peringatan Allah kepada mereka. Allah berfirman yang bermaksud:

” Maka dengan sebab mereka( Bani Israil) membatalkan janjinya, Kami laknat mereka dan Kami jadikan hatinya keras; mereka mengubah-ubah perkataan dari tempatnya dan mereka melupakan sebahagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka dan engkau sentiasa melihat pengkhianatan mereka kecuali sedikit di antaranya” al-Maidah (5): 13

Terdapat juga beberapa ayat lain yang menerangkan bahawa Bani Israil ini telah melakukan banyak perubahan di dalam Kitab Taurat asal sebagaimana yang telah diturunkan kepada Nabi Musa. Di anataranya di dalam Surah al-Baqarah(2): 75, Surah an-Nisa’(4): 46 dan Surah al-Maidah(5): 41.

Selain daripada mengubah ayat-ayat yang terdapat di dalam Taurat, Bani Israil juga telah mengarang kitab dengan tangan mereka dan seterusnya mengatakan bahawa kitab itu adalah diutuskan oleh Allah. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:

” Maka celakalah bagi mereka yang menulis kitab dengan tangannya kemudian katanya: “Ini dari sisi Allah”. Supaya dengan demikian mereka dapat menukarnya dengan harga yang sedikit. Maka celakalah bagi mereka dari(sebab) apa yang telah ditulis tangannya dan celakalah bagi mereka dari(sebab) apa yang diusahakannya” Surah al-Baqarah(2): 79.

Penulis juga dapat menegaskan lagi bahawa Taurat kini adalah bukan kalam Allah sebagaimana yang asal. Ini adalah kerana Bani Israil juga bukan sekadar mengubah dan mengarang tetapi telah menyembunyikan sebahagian ayat-ayat di dalam Taurat. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:
” Hai ahli kitab! Sesungguhya telah datang kepadamu Rasul Kami menerangkan kepada kamu banyak di antara kitab yang telah kamui sembunyikan dan banyak yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kamu daripada Allah penerangan dan kitab yang terang”
Surah al-Maidah(5): 15.

Di dapati juga sebahagian cerdik pandai Yahudi melakukan pembohongan atau cuba memutarbelitkan lidah mereka ketika membaca Taurat supaya orang akan menganggap apa yang dibaca itu adalah dari kalam Tuhan. Tetapi pada hakikatnya mereka membaca atau mengemukakan pandangan mereka sendiri. Allah telah menerangkan hal ini di dalam al-Quran yang bermaksud:

“Dan sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutarbelitkan lidahnya dengan kitab supaya kamu kira dia darikitab sedang dia bukan dari kitab; dan kata mereka dia dari sisi Allah sedang dia bukan dari sisi Allah dan mereka berkata dusta atas Allah sedang mereka mengetahui”. Surah al-’Imran(3):78)

Pada bahagian ini penulis ingin membuat kesimpulan awal bahawa dengan merujuk kepada sumber utama iaitu al-Quran di dapati terdapat penerangan yang jelas bahawa Kitab Taurat yang dipegang oleh Bangsa Yahudi kini adalah bukan kalam Allah dan hal ini bukan perkara baru tetapi telah berlaku pada zaman Nabi Musa lagi. Ianya bermula dengan pengingkaran terhadap ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa. Maka seterusnya berlaku beberapa penyelewengan lain seperti melakukan perubahan pada Taurat, mengarang kitab dengan tangan mereka sendiri, menyembunyikan sebahagian ayat-ayat Taurat, memutarbelitkan ketika membaca Taurat, menyamakan kebenaran dengan kabatilan dan mereka juga telah menyembunyikan kebenaran mengenai kenabian Nabi Muhammad S.A.W .

Oleh yang demikian kitab yang terdapat pada orang-orang yahudi mahupun Kristain kini yang dianggap sebagai kitab suci tidak dapat diyakini lagi keaslian dan kesuciannya sebagai kala m yang berasal dari Allah.
Perspektif Sarjana Kristian

Di dalam bukunya yang bertajuk Perbandingan Agama Kristen dan Islam, H.M. Arsyad Talib Lubis telah mengemukakan bahawa terdapat pengakuan dari pihak Sarjana Kristian yang mengatakan bahawa Taurat yang ada kini bukan Taurat yang asli sebagaimana yang mereka dakwa. Beliau telah merujuk kepada huraian dua tokoh Kristian iaitu Dr. Mr. D.C.Mulder dan Dr.H.Rosin.

Beliau menulis, Dr. Mr. D.C.Mulder mengatakan bahawa sebelum abad ke 19 ahli-ahli fikir masih belum mampu berfikir kritis terhadap Alkitab dan tentang tradisi-tradisi mengenai terjadinya Alkitab itu. Tetapi dengan tersebarnya konsep rasionalism pada abad ke 19 mereka telah mula berubah dan mula menyelidiki tradisi-tradisi Alkitab secara kritis. Maka dengan kajian yang telah dijalankan akhirnya mereka mendapati bukti-bukti yang lengkap yang tidak boleh diragui kebenarannya bahawa Alkitab tidak dikarang pada zaman Nabi Musa. Walhal ia dikarang pada zaman selepasnya. Walaubagaimanapun terdapat satu persoalan yang tidak dapat jiwab oleh pengkaji-pengkaji tersebut iaitu berkenaan dengan siapakah pengarang asal kitan tersebut. Sehingga kini persoalan itu masih belum terungkai . Walaubagaimanapun penulis tidak mendapat informasi yang lengkap adakah sehingga abad ini persoalan tersebut masih belum terjawab ataupun sebaliknya.

Manakala pandangan kedua iaitu daraipada Dr.H.Rosin, beliau mengatakan bahawa Taurat bukan dikarang oleh Nabi Musa. Pada hakikatnya ia dikarang adalah sebagai hasil perkembangan yang lama dan selesai sesudah masa pembuangan di Babel. Menurut beliau lagi orang Yahudi dibuang ke Babel pada tahun 606 sebelum Jesus. Maka antara Nabi Musa dengan pembuangan ke Babel lebih kurang 900 tahun kerana Nabi Musa hidup kira-kira 1500 tahun sebelum Jesus. Maka kejadian-kejadian yang telah berlaku sesudah zaman Nabi Musa amat mustahil ditulis ketika zaman atau ketika Nabi Musa masih hidup .
Perspektif kandungan: Keraguan di dalam Torah

Penulis kembali merujuk hujah yang dikemukakan oleh penulis buku yang sama iaitu H.M.Arsyad Thalib Lubis. Pada kali ini beliau melihat dengan lebih mendalam ke dalam salah satu kitab Taurat iaitu Deuteronomy (31: 24 – 26). Dalam huraian ini beliau merujuk kepada ungkapan “ sudah habis disuratkan Musa segala firman torat ini dalam sebuah kitab sampai tamatnya”. Beliau mengatakan bahawa perkataan yang sedemikian tidak mungkin dijumpai di dalam kitab yang ditulis oleh Nabi Musa. Ayat itu pada hakikatnya menunjukan seorang penulis lain yang ingin menegaskan proses penulisan Kitab Taurat itu telah dilakukan oleh Nabi Musa. Beliau menambah, dengan merujuk kepada ayat di atas didapati bilangan kitab Turat hanya satu berdasarkan perkataan “….sebuah kitab sampai tamatnya” dan bukan lima buah sebagaimana yang diketahui umum .

Maka di sini jelas bahawa terdapat hujah-hujah yang kukuh untuk mengatakan bahawa Kitab Taurat yang ada kini bukan kalam Tuhan sebagaimana yang diwahyukan kepada Nabi Musa pada peringkat awalnya. Penulis tidak menafikan bahawa terdapat banyak lagi hujah-hujah yang dapat membuktikan di mana Kitab Taurat ini bukan kalam Tuhan. Di sini penulis hanya mengemukan dari sumber-sumber yang ditemui dalam masa yang terhad.
Kesimpulan

Setelah dikaji dan diteliti, penulis melihat bahawa terdapat perbezaan yang amat ketara mengenai isi kandungan al-Qur’an dan Pentateuch berhubung dengan isu penciptaan manusia pertama ini. Pelbagai andaian telah ditemui di dalam Pentateuch dan ia berbeza dengan kupasan al-Qur’an yang lebih detail dan teratur apabila berbicara mengenai sesuatu benda. Ini membuktikan kebenaran al- Qur’an itu sebagai kalam Allah yang asli dan Pentateuch itu telah pun dirubah dan diselewengkan.

Secara keseluruhannya, penulis melihat bahawa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah dan sememangnya terdapat makhluk lain yang mendiami alam ini sebelum Adam diutuskan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Jelasnya proses kejadian manusia merupakan antara topik yang terkandung di dalam al-Qur’an dan juga Pentateuch, cuma ia berbeza mengenai beberapa kriteria yang telah pun diselewengkan. Penulis berharap dengan penjelasan yang ringkas ini akan memberi sedikit input kepada para pembaca sebagai jalan permulaan untuk mengkaji dengan lebih mendalam lagi tentang persoalan penciptaan manusia ini.
——————-
Rujukan:

Dr. Maurice Bucaille ialah seorang sarjana berbangsa Perancis yang telah menghabiskan sebahagian besar masanya membuat kajian perbandingan kitab suci al-Quran, Injil dan Taurat sebagai sumber ramalan ilmu sains dan ilmu pengetahuan moden lain.

Maurice Bucaille (1982), What Is The Origin of Man? The Answers of Science and The Holy Scriptures. c. 8, Paris: Seghers, h.171.

Ibid.

al-Baqarah: 264, Ali ‘Imran, an-Nahl: 59, al-Kahfi: 37, al-Ghafir:67, al-Rum:20, al-Fathir:11 dan al-Ra’d.

“ Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu(punya) keturunan dan masyaharah dan adalah Tuhan maha kuasa”

Maurice Bucaille, “What Is The Origin of Man?:”, h.174.

Ibid.

Al-Qurtubiyy (t.t), Tafsir al-Qurtubiyy. j.1, Qāhirah: Dār al-Sya’b, h. 86.
Ibid., h.240.

Maurice Bucaille, “What Is The Origin of Man?:”, h.173.

Butrus al-Bustami (1983), Munkit al-Munhit. Beirut: Maktabah Lubnān, h. 515.
Abū Hasan al-Tibrisī , Majma’ al-Bayān fī Tafsir al-Qurān. , h.234.

Untuk maklumat lanjut lihat Muhammad al-Faqīy (1979), Qisās al-Ambiyā’ Ahdāthuha wa

΄Ibāruha. Maktabah Wahbah, h. 18.

Mahmūd Syalabiyy (1987), Hayāt Ādam. Beirut: Dār al-Jayl, h. 18.

Untuk maklumat lanjut lihat Genesis (1:1 – 25)

Ernest C. Messenger , Evolution and Theology. h. 108.

Ibid., h. 112.

Fredk A. Filby Creation Revealed. h. 118.

Ibid.

James M. Houstan (1980), I Believe in the Creator. Grand Rapids: Eermans Publishing Company, h. 73.

Kebanyakan masyarakay Kristian mempercayai bahawa manusia adalah dicipta dari dua aspek utama iaitu badan dan roh. Untuk maklumat lanjut lihat Reinhold Neibhnur (1941), The Nature and Destiny of Man. j. 1, New York: Charles Scribner’s Son, h. 13.

Anthropomorphic bermaksud memperlakukan Tuhan sebagai manusia sama ada dari segi rupa bentuk dan personaliti.

Lihat Hanry M. Morris, The Genesis Record. h. 85.

Ibn Kathir al-Bidayah wa al-Nihayah. j.1, h. 72.

Beliau adalah salah seorang ahli Theologi Kristian yang terkenal yang berusaha untuk mengungkap dan mengupas kembali doktrin-doktrin Agama Kristian yang dibawa oleh St. Paul terutama kepada kumpulan Gentile. Ini adalah kerana doktrin-doktri yang diajar oleh St.Paul sukar difahami terutama dalam persoalan konsep Triniti.

Ernest C. Messenger, Evolution and Theology. h. 170.

Sebagaimana yang di firmankan oleh Allah dalam Surah al-Insan (76: 1) yang bermaksud “Bukankah telah dating atas manusiasatu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”

Lihat Surah An-Nisa’(4):163-165

Lihat Surah al-Baqarah(2):97

Lihat Surah As-Shaffat(37):102

Lihat Surah al-Qiyamah(75):16-19; Surah al-Bayyinah(98):2
Bukhari, VI, No.546.

Lihat Bukhari,VI, No.106.

Suyuti (1973), al-Itqan fi ‘ulum al-quran.j. 2, Beirut: Maktab al-thaqafiyya, h. 124.

Ibid., h.41.

Lihat Bukhari, VI, No. 510.

M. Hashem, KeagunganDunia Terhadap Islam ,h.48.

Lihat Surah al-’Imran(3): 78.

Lihat Surah al-’Imran(3): 71.

Lihat Syrah al-Baqarah(2): 146.

H.M.Arsyad Thalib Lubis (1969), Perbandingan Agama Kristen dan Islam. Medan, h.333. Ibid. Ibid., h.333 – 334.

sumber

Komentar (5)

Pemindahan Kiblat : Tamparan buat Yahudi

oleh : Oky W.

Sesungguhnya Yahudi banyak mencemooh Rasulullah, baik ketika beliau hidup maupun sampai hari ini. Isu yang banyak disebarkan adalah Muhammad sesungguhnya hanya nabi palsu yang menjiplak Taurat dan agama yang dibawanya adalah Yahudi juga dengan mengatakan bahwa kiblat muslim sebenarnya adalah ke Yerusalem dan bukan di kota Makkah. Tetapi sesungguhnya tiap-tiap umat mempunyai syariat yang berbeda demikianlah Allah berfirman :

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

[5:48] Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian421 terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu422, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Dengan perbedaan syariat itu maka muslim tidak sama dengan Yahudi maupun Nasrani sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Adil bagaimana ketika Yerusalem dijadikan Kiblat bagi umat Yahudi maka Muslimpun diberi Kiblat yang baru seperti firmannya :

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

[2:148] Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dan semua orang akan tahu kiblat muslim sebenarnya bukan ke Yerusalem tetapi ke Masjidil Haram di Kota Makkah , hal ini mematahkan anggapan orang-orang Yahudi bahwa Yerusalemlah atau Al-Quds adalah satu-satunya kiblat yang ditetapkan oleh Allah.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

[2:144] Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit96, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Yahudi sebenarnya tahu kiblat muslim memang dari Tuhannya tetapi memang karena kebusukan hatinya mereka tidak mau menerima kebenaran tersebut. Tetapi begitulah itu merupakan tamparan dari yang Maha Kuasa buat mereka bahwa ada umat yang berbeda dan umat itu adalah pilihan Tuhan sendiri seperti dalam firmannya,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

[3:110] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang yang fasik.

Tinggalkan sebuah Komentar

Menjawab Tuduhan Miring Tentang ka’bah

kabah.jpg

Kalau ada seorang Muslim menyembah Ka’bah atau menjadikan Ka’bah sebagai sesembahannya, berarti Ia sudah murtad dan menjadi kafir. Di manapun, seorang Muslim harus menghadirkan Allah dalam hati sanubarinya.

Forum Arimatea menggelar suatu forum dialog antara teolog Muslim dan Kristiani di Gedung Kampus STEKPI, Kalibata, Jakarta Selatan, 19 Maret lalu. Hadir sebagai pembicara dalam orasi ilmiah dan dialog tersebut, antara lain: Habib Mohammad Rizieq Syihab, Lc, Ustadz Dr. Muslin Abdul Karim MA, dan Ustadz Solehan MC. Panitia penyelenggara mengatur tempat duduk peserta sedemikian rupa, di mana kelompok Nasrani duduk di bagian tengah, sedangkan kelompok Muslim ditempatkan pada sisi kiri dan kanan. Hal itu karena, mayoritas yang hadir kebanyakan dari kelompok Islam.

Yang menarik dari dialog tersebut adalah rasa kebersamaan kedua pemeluk agama (Islam-Kristen), di mana mereka sepakat untuk tidak mewarnai forum ini dengan sikap emosi atau sating menghujat satu sama lain. Peserta yang hadir, baik yang Muslim maupun Kristen / Katolik, sejak pagi hingga sore hari, duduk bersama, menjernihkan hati, akal dan pikiran untuk sama-sama mencari jalan kebenaran objektif, hakiki, dan sejati. Terlihat dari wajah yang hadir, antusiasme untuk saling mengkritisi pemahaman konsep ketuhanan dan ajaran kedua agama yang selama ini sering ditengarai menjadi salah satu pemicu konflik sosial di tataran grassroot penganut kedua agama.

Betapapun beberapa pertanyaan terdengar keras dilontarkan oleh beberapa peserta, baik Muslim maupun Kristen, terutama mengenai nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, suasana persaudaraan masih tetap terjaga. Melalui dialog, pembicara maupun peserta dapat menyampaikan argumentasinya, atas dasar pendapatnya sendiri maupun referensi dari sejumlah buku yang dibacanya. Inti dari dialog tersebut, adalah mengajak peserta untuk menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah, yang secara jelas tercaritum di dalam kitab suci ketiga agama: Yahudi, Nasrani dan Islam, serta tidak membuat tuhan-tuhan tandingan yang memiliki kedudukan yang sama dengan kcdudukan Allah dalam kehidupan ini.

Bukankah dalam Injil, Yesus berkata: “Hukum yang terutama ialah: Dengarkanlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.” (Injil Markus 12:29). Atau “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budi.” (Matius 22:37). Sedangkan di dalam Al Quran jelas disebutkan, “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNyasegalasesuatu…” (QS Al Ikhlas : 1-2)
Ka’bah = Berhala?

Yang menarik dari dialog ini adalah rasa ingin tahu para teolog Kristen yang besar untuk bertanya atau sekedar menguji pembicara untuk menjelaskan hal-hal yang menurutnya sangat bertentangan dan tak logis menurut konsep ketuhanan umat Nasrani. Misalnya saja, mereka mempertanyakan, kenapa umat Islam menyembah Ka’bah? Bukankah menyembah Ka’bah sama dengan menyembah batu? Atau kenapa Islam disimbolkan dengan bulan sabit? Apakah ini bentuk paganisme (keberhalaan) terhadap kebendaan? Meski ruang kebebasan berpikir dan berpendapat dalam forum ini diberikan kelonggaran, namun para penanya dari umat Nasrani tetap merasa tidak enak hati. Itulah sebabnya, mereka lebih dulu mohon maaf, bila pertanyaan yang dilontarkan dapat menyinggung perasaan umat Islam yang hadir.

Beberapa pertanyaan kritis itu dijawab oleh Habib Rizieq Syihab dengan tenang. lugas, dan tentu dengan bahasayang santun. Soai pertanyaan, kenapa Ka’bah yang dibuat dari batu dijadikan kiblat kaum Muslim” sehingga muncul tuduhan seolah-olah umat Islam menyembah batu? HabifrRizieq menjelaskan, bahwa umat Islam, kapan dan di mana pun berada, terutama saat munajat kepada Allah, makaselama hati mereka ikhlas untuk mencari Allah, tentu mereka akan mendapatkan Allah. Yang jelas, Allah tidak pernah memerintahkan kepada umat Islam ujituk menyembah Ka’bah.

“Sekali lagi, Ka’bah yang terbuat dari batu satna sekali tidak disembah oleh umat Islam. Karena itu, kalau ada seorang Muslim menyembah Ka’bah dan menjadikan Ka’bah sebagai sesembahannya, demi Allah, si Muslim tadi sudah murtad, kafir, keluar dari agamanya (Islam). Karenanya sebagai Muslim, ia harus menghadirkan Allah dalam hati sanubarinya. Jadi, sekalipun menghadap Ka’bah, dia sesungguhnya hanya menyembah Allah semata, bukan kepada Ka’bah yang terbuat dari batu,” jelas Habib.

Tapi kenapa harus menghadap Ka’bah? Jawabnya sekali lagi, “karena Allah yang memerintahkan umat Islam untuk menghadap ke Ka’bah, Perludicatat, sebelum umatlslam menghadap ke Ka’bah, tidak kurang dari 16 bulan, umat Islam menghadap ke Al Baitul Maqdis, yaitu menghadap ke Masjidil Aqsa, yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Karena perintah Allah untuk menghadap Baitul Maqdis, umat Islam pun menghadap ke Baitul Maqdis. Tapi 16 bulan kemudian, umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk berpindah arah, menghadap ke Ka’bah, Kenapa tidak ke tempat lainnya?

“Nah, inilah yang perlu diketahui,” kata Habib Rizieq, “bahwa di dalam sejarah umat manusia dan para nabi, Ka’bah yang ada saat ini dan yang disaksikan oleh umat manusia seluruh dunia, tidak lain adalah satu tempat yang dulu dibangun oleh Bapak para nabi, seorang manusia yang begitu muliadan dihormati oleh pelbagai umat beragama. Beliau adala’h Khaliluilah Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim membangun Ka’bah, karena memang diperintahkan oleh Allah. Lalu, Ka’bah dilestarikan oleh putranya Ismail a.s hingga ke zaman Nabi Muhammad SAW, Pada saat Nabi Ibrahim, Ka’bah merupakan suatu tempat yang suci, bersih dari kemusyrikan.”

“Begitu roda sejarah berputar,” lanjut Habib Rizieq, “kemudian muncullah orang yang menyimpangkan ajaran Nabi Ibrahim yang hanif. Akhirnya mereka meletakkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. SampSi tiba masanya.Jahirlah Muhammad SAW sebagai keturunan dari Ismail as, untuk mengemban tugas dari Allah: membersihkan Ka’bah dari segala berhala dan kemusyrikan. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW membawa hasil yang menggembirakan, di mana seluruh berhala, baikyang ada di dalam Ka’bah maupun di luar Ka’bah, bahkan yang ada di seluruh kota suci Makkah, berhasil dihancurkan. Sampai kemudian, Ka’bah kembali pada kesuciannya dari kemusyrikan, sebagaimana permulaan Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s.”

“Yang ingin saya tekankan, kenapa harus Ka’bah yang dipilih? Karena Ka’bah memiliki nilai historis yang luar biasa, yakni nilai historis seorang Bapak para Nabi, Ibrahim a.s yang diakui kenabiannya, kerasulannya, keutamaannya, dan keistimewaanya, baik oleh umat Yahudi maupun umat Nasrani, terlebih oleh umat Islam itu sendiri. Jadi, kenapa Ka’bah yang dipilih. Itu tak lain, karena keta’ziman wa taqriman, yaitu sebagai penghormatan yang diberikan oleh Allah SWT, terhadap hasil kerja Nabi Ibrahim dengan kedua tangan sucinya, juga dari hasil kerja Nabi Ismail yang menjaga dan melestarikan Ka’bah. Dan Allah menginginkan agar Ka’bah tetap suci, dan tetap bersih dari kemusyrikan sampai hari kiamat nanti.”

Jawaban tak kalah penting tentang kenapa umat Islam diperintahkan untuk menghadap Ka’bah? Menurut Ketua Front Pembela Islam ini, “Itu, agar umat Islam setiap harinya, dan setiap detik hidupnya terus memperhatikan kelestarian Ka’bah. Tegasnya, segala waktunya, tenaga dan kemampuannya dicurahkan untuk menjaga Ka’bah, sehingga tidak lagi dikotori, dan dicampuri oleh kebatilan dan kemusyrikan. Alhamdulillah 15 abad berlalu, dari zaman Nabi Muhammad SAW, sampai saat ini, tak satu pun tangan kotor yang mengisi Ka’bah dan kota Makkah dengan berhala.”

Andai Ka’bah bukan menjadi Kiblat umat Islam, apa yang terjadi? Bisa Jadi umat Islam akan kurang pengorbanan dan perhatiannya terhadap Ka’bah. “Saya bisa buktikan, dulu saat Baitul Maqdis menjadi kiblat umat Islam, maka keberadaannya selalu diperhatikan, dijaga dan dipelihara. Tapi manakala Baitul Maqdis, sudah tidak menjadi kiblat umat Islam, kenyataaan yang terjadi, perhatian umat Islam terhadap Baitul Maqdis sudah mulai berkurang. Hingga Baitul Maqdis dikuasai oleh orang lain, orang Islam sepertinya tidak punya perhatian dalam menyatukan potensi dan kekuatannya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari intimidasi dan terror yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam,”papar Habib.
Bulan Sabit = Paganisme?

Salah satu hikmah yang bisa dipetik, kenapa umat Islam menyembah Ka’bah adalah adanya sarana edukasi luar biasa dari Allah, di mana umat Islam diajarkan untuk menyatukan visi dan misi, serta langkah perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah setiap saat. Dalam langkah itulah, ada satu tujuan yang sama, yakni: mencari keridhaan Allah semata. Ibadah haji yang dilakukan umat Islam dengan mengelilingi Ka’bah, bukan dimaksudkan untuk menyembah Ka’bah, tapi sebagai isyarat kepada hamba-Nya, bahwa apa pun suku dan bangsanya, kedudukan dan jabatannya, umat Islam dididik untuk rela menanggalkan pakaian dan perbedaan di antara mereka, juga menanggalkan pertikaian dan permusuhan di antara sesamanya. Intinya, mereka menuju titikyang sama, yakni keridhaan Allah. Maka tidak pernah ada ritual dalam Islam yang mengajarkan umatnya untuk menyembah Kab’ah.

Adapun yang berkaitan dengan bulan Sabit, Islam seolah mengelu-elukan bulan, dan terkontaminasi dengan faham mereka yang menyembah bulan. Habib Rizieq menjelaskan lebih jauh. Pada dasarnya Islam mengajarkan umatnya utuk memuliakan seluruh makhluk ciptaan Allah, apakah matahari, bulan, bumi ataupun bintang. Jadi tidak ada yang mewajibkan umat Islam menggunakan lambang berbentuk bulan. “Buktinya, anda bisa lihat sendiri, salah satu organisasi terbesar di Indonesia, seperti Muhammdiyah lambangnya tidak menggunakan bulan, tapi matahari. Begitu juga identitas FPl yang saya pimpin, tidak menggunakan bulan, tapi bintang dan tasbih. NU pun demikian, yang dipakarbukan bulan, tapi bumi dan bintang sembilan.”

Jadi tidak ada dalil yang mengkhususkan bahwa umat Islam selalu identik dengan bulan. Artinya, kalau ada masjid tanpa ada sentuhan bulan dan bintang pun tetap berfungsi sebagai masjid, “Islam sendiri, tidak terpaku dengan lambang-lambang ataupun simbol-simbol. Kalaupun diperlukan, itu hanya sebatas identitas diri, bukan tujuan untuk mengkultus, menyembah, apalagi sampai mengkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran dan peng ajaran-pengajaran paganisme (keberhalaan).”

“Nah, kalau saja ada umat Islam menyembah bulan, demi Allah orang itu sudah mempersekutukan Allah dengan bulan. Itu artinya, orang itu sudah murtad, kafir dan keluar dari Islam,” tandas Habib tegas. (Amanah)
 

Komentar (11)

Tulisan yang Lebih Tua »