Budaya Malu sebagai Obat Bangsa

  

            Belum lama berselang dis alah satu harina nasional terdapat sebuah artikel feature yang menggambarkan bahwa saat ini bangsa Indonesia, notabene ummat muslim juga, tengah terjebak dalam pusaran arus involutif. Dimana ciri-ciri kemunduran akhlaq sudah menggejala dan dapat disimak di hampir setiap proses kehidupan. Perilaku dan budaya instan menggejala tidak hanya di lembaga-lembaga formal saja melainkan sudah menjalar ke dalam institusi rumah tangga dan keluarga.

            Di sebuah jalan sunyi yang menghubungkan antara ibu kota sebuah propinsi dengan daerah kabupaten penunjangnya sering dilakukan operasi lalu-lintas. Banyak yang menilai positif, akan tetapi banyak juga yang menilai dengan perspektif agak negatif. Beredar prasangka bahwa kegiatan tersebut tidak dinaungi aspek legal yang mencukupi. Pada suatu hari muncul sebuah kehebohan, di tembok rendah pembatas jalan dengan saluran air dan jalan raya serta di sebuah baliho iklan real estate yang berukuran cukup besar, terlihat grafiti yang berbunyi: “Bawa pulang uang haram tidak malu, tanya kenapa ?” Kalimat di grafiti tersebut memang agak mitrip dengan script salah satu iklan produk rokok yang tengah naik daun. Tetapi grafiti tersebut ternyata cukup efektif, semenjak grafiti itu terpampang di tembok dan baliho, tidak ada lagi operasi lalu-lintas yang digelar di sana.

            Fenomena ini sungguh menggelitik akal sehat untuk diperdebatkan, apakah budaya malu masih bisa mendapatkan tempat dalam sebuah proses penyembuhan  akhlaq bangsa. Bukankah dalam Islam malu adalah sebagian dari iman ? Sebagai makhluk sosial manusia telah dikaruniakan oleh Allah SWT ebrbagai kemampuan untuk menjalin dan memabngun komunikasi serta interaksi. Dalam kedua proses tersebut terjalin suatu mekanisme pendistribusian tanggung jawab. Ada hal-hal yang secara aklamasi disepakati menajdi bagian dari tanggung jawab bersama (sosial), dalam konteks agama disebut sebagai kewajiban fardhlu kifayah. Social obligation ini merupakan sebuah keniscayaan yang dikaruniakan Allah dalam rangka fastabikhul qoirot, atau berlomba-lomba mengkontribusikan kebajikan bersama. Rasa malu merupakan salah satu parameter untuk mengukur seberapa besar kontribusi seseorang dalam menjalankan kwajiban sosialnya. Secara umum peran seseorang dalam ummat atau masyarakat dapat ditentukan melalui tingkat asertifitas, atentifitas, dan empatifitasnya. Budaya malu yang bersifat intar dan transpersonal akan menempatkan seorang manusia muntuk senantiasa berkontemplasi dan melakukan introspeksi diri, apakah dirinya sudah cukup berkontribusi ? Apakah dirinya sudah cukup kooperatif dan tidak menjadi ganjlan dalam perputaran roda-roda kehidupan ummat ? Apakah dirinya sudah berada dalam posisi yang tidak mempermalukan dirinya sendiri melalui pengaburan dan pembonsaian potensi diri ?

            Efektifitas budaya malu dan penanaman benih rasa malu sebagai bagian dari iman kiranya tepat dipilih sebagai salah satu obat bagi pemberangusan budaya korupsi, baik yang bersifat sistemik-struktural-kultural, maupun yang bersifat legal-formal. Apakah ada korupsi yang legal dan formal ? Ada, yaitu korupsi yang secara syariat benar tetapi diinisiasi oleh niat yang keliru (tidak lurus). Misalnya pada kondisi dimana sekelompok eksekutif berkolaborasi dengan sekelompok legislator menghasilkan sebuah regulasi yang bersifat menguntungkan secara sementara. Keuntungan atau benefit yang diperoleh sudah ditaksir, diprakirakan, serta diperhitungkan hanya akan mendatangkan keuntungan bagi daerah dan kelompoknya di waktu mereka masih ada dan berkuasa serta beberapa waktu sesudahnya. Hanya itu saja. Niat ini jelas sedari awal sudah mengeliminir kemungkinan terciptanya multiplier effect yang akan bergulir secara perlahan tetapi pasti dan mungkin akan dapat menajmin kesejahteraan banyak orang secara berkesinambungan (continuity and sustainable). Upaya konstruktif untuk menghilangkan kesempatan munculnya multiplier effect yang menguntungkn ini tentu akan dihisab Allah SWT sebagai suatu proses yang tergolong dalam penyakit hati (serakah, rakus, atau tamak). Banyak kebijakan yang bisa menjadi contoh kasus, pengenaan biaya yang tinggi dan proses birokrasi perizinan yang rumit misalnya, lalu pengenaan pungutan dan pajak daerah yang berorientasi semata pada peningkatan pendapatan daerah yang disertai dengan tidak adanya regulasi tata ruang, peruntukan wilayah, dan penyediaan infrastruktur penunjang lainnya. Kondisi ini bila terakumulasi akan menjadikan iklim bisnis tidak kondusif. Banyak perusahaan akan buka-tutup, dan tidak langgeng dalam menjalankan poses bisnisnya karena overhead cost yang tinggi. Dampak lanjutannya adalah tidak terserapnya tenaga kerja lokal dan juga tidak bergulirnya efek dan dampak mutual benefit dari sebuah lingkungan usaha (business environment). Pendapatan Asli Daerah memang akan berkontraksi sesaat, dimana pendapatan yang berasal dari sektor pungutan, bea, dan pajak akan meningkat, tetapi setelah itu akan terjadi deselerasi atau perlambatan dalam proses investasi.

            Bila kita memiliki budaya malu di dalam hati kita, maka kebijakan dan pengkondisian instan seperti ini akan jauh-jauh kita hindari. Megapa ? Karena kita akan maluakrena tidak mensyukuri nikmat Allah berupa akal budi, dan kita juag akan malu bila dieknal anak cucu sebagai generasi perompak yang menguras habis harta negara yang seharusnya menajdi milik bersama dan dioptimalkan pemanfaatannya secra berkesinambungan. Dalam kondisi kita asertif, atentif, dan empatif, maaliyah ijtima’iyah (harta karun sosial) ini akan menjadi kunci pembuka gerbang Makhroja, gerbang yang mengawali sebuah jalan keluar dari berbagai macam kebuntuan dalam hidup.  Wallahu’alam bissawab. Tauhid Nur Azhar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s