Ketika Bantuan Langsung Tunai Jadi Petaka

Andreas A Yewangoe

 LIE Wiesel, salah seorang dari sedikit yang luput dari neraka pemusnahan total (holocaust) Hitler di Kamar Gas Auschwitch, menulis sebuah buku kecil berjudul Nacht. Ada bagian dari buku itu yang menceritakan pengalamannya ketika orang-orang Yahudi diangkut dengan kereta api tertutup ke tempat pemusnahan total mereka.

Mereka didesakdesakkan laksana hewan di dalam kereta yang sangat minim ventilasi. Selain hampir tidak bisa bernapas, mereka juga kehausan dan kelaparan. Sekali-sekali tentara Jerman membuka jendela kereta sekadar memasukkan udara segar, dan sesudah itu ditutup lagi.

 

Pada suatu saat, seorang tentara Nazi Jerman iseng-iseng melemparkan seketul roti ke tengah-tengah mereka. Maka terjadilah pemandangan yang mengejutkan. Didorong oleh kelaparan yang amat-sangat, mereka saling sikut, dorong-mendorong, injak-menginjak, bahkan berbunuh-bunuhan memperebutkan roti seketul itu.

 

Tentara Nazi Jerman menyaksikan pemandangan liar itu dengan kenikmatan luar biasa. Naluri kebinatangan mereka pun ikut digairahkan ketika manusia yang telah berubah menjadi binatang itu mempertontonkan naluri keliaran mereka yang paling asli. Peristiwa tersebut sangat mengesankan Elie Wiesel. Ia tidak pernah mampu melupakannya.

 

Bertahun-tahun kemudian, dalam salah satu pelayarannya ke Timur Jauh, ia menyaksikan lagi peristiwa serupa. Ketika kapal yang ia tumpangi berlabuh di salah satu pelabuhan di Kepulauan Maladewa, ia melihat begitu banyak anak berenang mengitari kapal sambil menadahkan tangan meminta sedekah. Biasanya mereka dengan tangkas menangkap apa saja yang dilemparkan para penumpang.

 

Seorang nyonya dengan asyiknya melemparkan uang recehan ke tengah-tengah kerumunan anak-anak itu. Anak-anak itu memperebutkan uang recehan itu sambil berkelahi satu sama lain. Nyonya itu begitu asyik menikmati pemandangan langka itu, sehingga ia terus-menerus melemparkan uang recehan ke arah mereka. Terus-menerus pula anak-anak itu berkelahi.

 

Dibayang-bayangi oleh peristiwa kereta api tertutup Nazi Jerman, Elie Wiesel tidak tahan melihat pemandangan mengerikan itu. “Jangan dilakukan lagi,” ia menegur sang nyonya. Sang nyonya tidak menerima baik teguran tersebut. Sambil merengut ia berkata: “Mengapa saya dilarang untuk berbuat baik?”

 Demikianlah, suatu perbuatan yang disangka baik belum tentu menghasilkan yang baik. Bahkan bukan tidak mungkin justru berakibat sebaliknya. Apalagi, seperti dalam peristiwa Nazi-Jerman itu, tentu bukan niat baik yang ditonjolkan. Yang ada di sana adalah keisengan menyaksikan reaksi orang kelaparan, yang saling bunuh. * APAKAH yang terpikir di dalam hati kita ketika menyaksikan kejadian serupa di negeri kita justru ketika ada niat pemerintah membantu mereka yang paling miskin dengan bantuan 100 ribu rupiah per kepala? Ketika kita menyaksikan Waginem (80), Wadiman (70), dan Kasipah (80) menghembuskan napas terakhir secara mengenaskan saat antre untuk mendapatkan dana bantuan langsung tunai? Atau ketika seorang Ketua RT ditikam mati oleh massa yang tidak puas dengan cara pembayaran bantuan langsung tunai?

O ya, tentu saja kita tidak mengatakan, pemerintah kita sama dengan tentara Nazi Jerman yang ingin menikmati kemelaratan orang lain. Atau, seperti sang nyonya yang merasa nikmat dengan perkelahian di antara anak-anak manusia. Pemerintah kita pasti mempunyai niat baik. Tetapi, ujung-ujungnya, tetap saja penderitaan lebih menikam di kalangan kaum duafa.

 Ketika Waginem, Wadiman, dan Kasipah mendengar kabar mereka akan dibantu, rasanya mereka seperti mendengarkan berita malaikat penolong yang membawa kabar baik bagi mereka. Maka, mereka mempersiapkan diri, bahkan untuk antre kendati sudah uzur. Mereka dipenuhi oleh harapan meluap-luap, semoga tertolonglah hidup mereka, paling tidak untuk sementara di tengah impitan krisis ekonomi yang makin menampar.

Mereka membayang-bayangkan bagaimana memanfaatkan uang itu sebaik-baiknya. Bagi mereka, uang itu cukup banyak, kendati bagi anggota DPR kita yang baru saja menerima tambahan tunjangan 10 juta per bulan, hampir tidak ada artinya.

 

Namun, apa daya. Harapan tinggal harapan. Asa itu menjadi buyar. Bahkan berakhir tragis, ketika otot-otot yang kuat, di dalam ketidaklaziman melaksanakan budaya antre yang beradab menghantam mereka. Mereka luluh-lantak membawa harapan-harapan yang tidak kesampaian.

 Dan, kita semua hanya menyesal. Berdoa kiranya Tuhan menyediakan tempat yang lebih layak bagi mereka di “sana”. Dan seperti lazimnya, kita baru mengambil tindakan-tindakan pengamanan ketika malapetaka sudah menimpa. Kita adalah bangsa yang sangat tumpul kemampuan antisipasinya. Menko Kesra mengumumkan agar kepada orang-orang tua disediakan loket lain. Hanya itu. Tetapi, kejadian tetap berulang. *

KITA berusaha untuk mengerti argumentasi pemerintah menaikkan harga BBM. Kita mau memahami tindakan menyakitkan ini, yang menurut pemerintah harus diambil guna menyehatkan perekonomian kita. Bahkan Presiden mengumumkan kemajuan perekonomian kita tahun ini yang konon mencapai 5,7 persen.

 

Tetapi, masalah kita bukan sekadar menghitung-hitung angka-angka statistik. Penderitaan konkret yang dialami masyarakat miskin, adalah tantangan yang harus diselesaikan secara bersama pula. Maka, kita mengharapkan adanya solidaritas penuh di dalam penderitaan bersama ini.

 

Yang menyakitkan hati rakyat adalah, ketika mereka berada dalam perjuangan mati-hidup mempertahankan kehidupan, para pejabat dengan enaknya menaikkan gaji-gaji mereka. Sungguh-sungguhkah sense of crisis dan sense of common suffering itu ada pada semua pihak, ataukah hanya rakyat kecil saja yang terus-menerus dipertaruhkan, demikian ungkapan-ungkapan ketidakpuasan rakyat kita.

 

Kita bisa menarik banyak sekali pelajaran dari peristiwa Waginem, Wadiman, dan Kasipah yang mengenaskan itu. Setidak-tidaknya kita sekarang menyadari apa yang disebut subsidi yang dialihkan itu tidak bisa dilaksanakan tanpa persiapan-persiapan memadai.

 Bahkan, bukan sekadar memadai, melainkan sebaik-baiknya. Ketika pemerintah memutuskan untuk mengalihkan subsidi BBM kepada kaum miskin, terpikirkah mereka betapa rumit pelaksanaannya apabila tidak diatur dengan baik sebelumnya?

Dari berbagai informasi kita mendengar, untuk menentukan kriteria miskin saja, tidaklah sederhana. Lalu terjadilah ironi ini, ketika yang sungguh-sungguh miskin tidak didaftarkan sebagai orang miskin, sementara yang tidak miskin, tanpa malu-malu ikut antre memperebutkan jatah yang tidak diperuntukkan bagi mereka.

 

Lebih mendalam dari itu, cara pembagian bantuan langsung yang terkesan tanpa persiapan matang itu, makin tidak mendidik masyarakat kita memecahkan persoalan secara strategis dan substansial. Sebaliknya hanyalah pemecahan parsial belaka. Kalau kita ingin menjadi bangsa besar yang disegani di mana-mana, maka kemampuan memecahkan masalah secara mendasar mestilah nyata dari sekarang. *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s