Serigala Dan Hutang Luar Negeri

 

Dipublikasikan: 28/07/2004

 

Seekor serigala yang sedang berlari mengikuti aroma domba jantan tiba-tiba melambatkan langkahnya dan bergerak penuh kewaspadaan. Tak jauh dari tempatnya berdiri nampak sepuluh orang sedang duduk mengelilingi api unggun. Beberapa meter dari tenda mereka ada ratusan domba dan sapi sedang tertidur.

 

Serigala itu menempelkan tubuhnya di tanah dan bersembunyi.

Ia merasa orang-orang ini tengah merencanakan sesuatu.

“Kita harus melenyapkan Yusuf,” kata seorang dari mereka.

“Kalian tau, Yusuf lebih dicintai ayah dari pada kita semua.”

Yang lain menengahi, “Begini saja. Kita tak perlu membunuhnya. Masukkan

saja dia ke dasar sumur supaya dipungut musafir.”

“Tapi apa yang harus kita katakan pada ayah?” sambung yang lain.

“Bilang saja ia dimakan serigala!”

 

Mendengar namanya disebut-sebut, serigala sadar dirinya dalam bahaya.

Segera ia berlari, namun terlambat, kaki belakangnya terperosok ke dalam

jerat yang sangat kuat. Serigala menangis.

Udara pecah oleh suara lolongan dan jeritan.

 

Segalanya terjadi begitu cepat.

Kesepuluh orang itu memukuli dan mengikat serigala, lalu memasukkannya ke

kerangkeng. Setelah melumuri darah domba pada mulut dan cakarnya, mereka membawa

serigala ini pada Ya’qub, sambil berkata, “Ayah, serigala ini sering

memakan ternak kita. Ia juga yang menerkam Yusuf!”

Dengan hati yang pilu, Ya’qub berkata, “Hai serigala, ini pakaian Yusuf.”

 

Anak-anak membawanya padaku dan berkata kamulah yang menerkamnya.”

Serigala memandangi Ya’qub memohon belas kasihan.

Ya’qub yang bijaksana berkata, “Aku mengerti apa yang kau rasakan.

Bagaimana mungkin kau menerkam Yusuf sementara pakaiannya masih utuh. Aku

tau ini semua adalah muslihat anak-anakku sendiri.”

Serigala membatin, “Aku adalah serigala asing yang datang dari Mesir untuk

mencari adikku. Sedangkan anak-anakmu malah menghilangkan saudaranya

sendiri. Jadi siapakah sebenarnya serigala itu? Aku, ataukah anak-anakmu

wahai tuanku yang mulia?”

 

Apa yang dikatakan serigala itu benar.

Seperti dikemukakan penulis Titus Maccius Plautus, “Manusia adalah

serigala bagi manusia lain” Serigala sering dilukiskan sebagai hewan licik, tamak dan rakus.

Padahal sebenarnya tidak demikian. Serigala hanya makan sekali seminggu, kemudian berpuasa 6

hari berikutnya.

Serigala hanya makan secukup perutnya, dan tak pernah menimbun harta

seperti manusia. Serigala memakan domba dan kambing, tapi tak pernah makan serigala lain.

Mereka hidup berkasih sayang dalam komunitas yang penuh keharmonisan.

 

Kelemahan serigala adalah ketidakmampuan mereka menyembunyikan taring dan

cakarnya dengan senyuman seperti yang dilakukan manusia.

Dengan berbagai teknik impression management, manusia menyembunyikan watak

serigala yang mereka miliki dibalik safari, jas, dasi, serta saung dan

kopiah yang mereka kenakan untuk bersujud di masjid.

Fenomena ini mungkin dapat menjelaskan mengapa Indonesia yang mayoritas

Muslim terbesar juga merupakan negeri paling korup sedunia.

 

Indonesia kini tengah menempatkan diri sebagai salah satu negri termiskin

di dunia. Bayangkan 1 orang Indonesia kini menanggung beban utang lebih dari Rp. 6 juta. Tapi

kita masih menerima komitmen CGI untuk utang baru senilai US$ 3,14 Miliar! Padahal pengalaman

membuktikan 30% utang kita mengalir ke kantong para “serigala” berbaju safari. Tak heran,

Menteri Kwik Kian Gie merasa tak yakin bahwa utang kali ini dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

 

Persoalan korupsi sebenarnya berkaitan dengan 2 hal.

Pertama, dengan sistem hukum di Indonesia.

Cina yang bersama Vietnam dan Indonesia dikenal sebagai surganya koruptor,

menerapkan hukuman mati. Ini berbeda dengan kita yang menyelesaikan korupsi dengan lobby

politik. Pemerintahan kita juga menciptakan banyak dana non bujeter yang tak jelas

akuntabilitasnya seperti dana Bulog. Di Kalimantan Timur, gubernurnya memiliki dana non bujeter

1,3 M per tahun. Tapi yang lebih menggusarkan si gubernur adalah dana yang dimiliki Syaukani.

Bayangkan, Bupati Kutai ini memiliki dana taktis Rp. 100 Milyar pertahun!

 

Kedua – dan ini jauh lebih mendasar – adalah persoalan manusia.

Banyak orang yang berwatak serigala, yang memiliki mentalitas kelangkaan

(scarcity mentality). Mereka selalu merasa kekurangan.

Merekalah orang-orang kaya yang takut miskin.

Ini yang membuat rumus korupsi di Indonesia berbeda dengan negara lain.

Di Malaysia, rumus korupsi adalah : “Bagikan dulu untuk rakyat, nanti

sisanya baru kita korupsi”. Sementara rumus kita adalah, “Bagi-bagi dulu diantara pejabat,

sisanya baru buat rakyat.” Tak heran banyak pejabat yang kekayaannya melangit, sementara

kemiskinan rakyat amat menyedihkan.

 

Membenahi sistem hukum relatif lebih mudah.

Yang diperlukan cuma kemauan politik.

Membenahi SDM jauh lebih sulit, tapi akan menghasilkan perubahan yang

lebih mendasar. Akar korupsi terletak pada PARADIGMA orang tentang kekuasaan.

Selama kekuasaan masih dilihat sebagai rezeki dan bukan sebagai amanah,

selama itu pula korupsi tak mungkin dapat diberantas.

 

Pengirim Kammi-UAD jogja

(rexca)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s