Menjawab Tuduhan Miring Tentang ka’bah

kabah.jpg

Kalau ada seorang Muslim menyembah Ka’bah atau menjadikan Ka’bah sebagai sesembahannya, berarti Ia sudah murtad dan menjadi kafir. Di manapun, seorang Muslim harus menghadirkan Allah dalam hati sanubarinya.

Forum Arimatea menggelar suatu forum dialog antara teolog Muslim dan Kristiani di Gedung Kampus STEKPI, Kalibata, Jakarta Selatan, 19 Maret lalu. Hadir sebagai pembicara dalam orasi ilmiah dan dialog tersebut, antara lain: Habib Mohammad Rizieq Syihab, Lc, Ustadz Dr. Muslin Abdul Karim MA, dan Ustadz Solehan MC. Panitia penyelenggara mengatur tempat duduk peserta sedemikian rupa, di mana kelompok Nasrani duduk di bagian tengah, sedangkan kelompok Muslim ditempatkan pada sisi kiri dan kanan. Hal itu karena, mayoritas yang hadir kebanyakan dari kelompok Islam.

Yang menarik dari dialog tersebut adalah rasa kebersamaan kedua pemeluk agama (Islam-Kristen), di mana mereka sepakat untuk tidak mewarnai forum ini dengan sikap emosi atau sating menghujat satu sama lain. Peserta yang hadir, baik yang Muslim maupun Kristen / Katolik, sejak pagi hingga sore hari, duduk bersama, menjernihkan hati, akal dan pikiran untuk sama-sama mencari jalan kebenaran objektif, hakiki, dan sejati. Terlihat dari wajah yang hadir, antusiasme untuk saling mengkritisi pemahaman konsep ketuhanan dan ajaran kedua agama yang selama ini sering ditengarai menjadi salah satu pemicu konflik sosial di tataran grassroot penganut kedua agama.

Betapapun beberapa pertanyaan terdengar keras dilontarkan oleh beberapa peserta, baik Muslim maupun Kristen, terutama mengenai nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, suasana persaudaraan masih tetap terjaga. Melalui dialog, pembicara maupun peserta dapat menyampaikan argumentasinya, atas dasar pendapatnya sendiri maupun referensi dari sejumlah buku yang dibacanya. Inti dari dialog tersebut, adalah mengajak peserta untuk menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah, yang secara jelas tercaritum di dalam kitab suci ketiga agama: Yahudi, Nasrani dan Islam, serta tidak membuat tuhan-tuhan tandingan yang memiliki kedudukan yang sama dengan kcdudukan Allah dalam kehidupan ini.

Bukankah dalam Injil, Yesus berkata: “Hukum yang terutama ialah: Dengarkanlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.” (Injil Markus 12:29). Atau “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budi.” (Matius 22:37). Sedangkan di dalam Al Quran jelas disebutkan, “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNyasegalasesuatu…” (QS Al Ikhlas : 1-2)
Ka’bah = Berhala?

Yang menarik dari dialog ini adalah rasa ingin tahu para teolog Kristen yang besar untuk bertanya atau sekedar menguji pembicara untuk menjelaskan hal-hal yang menurutnya sangat bertentangan dan tak logis menurut konsep ketuhanan umat Nasrani. Misalnya saja, mereka mempertanyakan, kenapa umat Islam menyembah Ka’bah? Bukankah menyembah Ka’bah sama dengan menyembah batu? Atau kenapa Islam disimbolkan dengan bulan sabit? Apakah ini bentuk paganisme (keberhalaan) terhadap kebendaan? Meski ruang kebebasan berpikir dan berpendapat dalam forum ini diberikan kelonggaran, namun para penanya dari umat Nasrani tetap merasa tidak enak hati. Itulah sebabnya, mereka lebih dulu mohon maaf, bila pertanyaan yang dilontarkan dapat menyinggung perasaan umat Islam yang hadir.

Beberapa pertanyaan kritis itu dijawab oleh Habib Rizieq Syihab dengan tenang. lugas, dan tentu dengan bahasayang santun. Soai pertanyaan, kenapa Ka’bah yang dibuat dari batu dijadikan kiblat kaum Muslim” sehingga muncul tuduhan seolah-olah umat Islam menyembah batu? HabifrRizieq menjelaskan, bahwa umat Islam, kapan dan di mana pun berada, terutama saat munajat kepada Allah, makaselama hati mereka ikhlas untuk mencari Allah, tentu mereka akan mendapatkan Allah. Yang jelas, Allah tidak pernah memerintahkan kepada umat Islam ujituk menyembah Ka’bah.

“Sekali lagi, Ka’bah yang terbuat dari batu satna sekali tidak disembah oleh umat Islam. Karena itu, kalau ada seorang Muslim menyembah Ka’bah dan menjadikan Ka’bah sebagai sesembahannya, demi Allah, si Muslim tadi sudah murtad, kafir, keluar dari agamanya (Islam). Karenanya sebagai Muslim, ia harus menghadirkan Allah dalam hati sanubarinya. Jadi, sekalipun menghadap Ka’bah, dia sesungguhnya hanya menyembah Allah semata, bukan kepada Ka’bah yang terbuat dari batu,” jelas Habib.

Tapi kenapa harus menghadap Ka’bah? Jawabnya sekali lagi, “karena Allah yang memerintahkan umat Islam untuk menghadap ke Ka’bah, Perludicatat, sebelum umatlslam menghadap ke Ka’bah, tidak kurang dari 16 bulan, umat Islam menghadap ke Al Baitul Maqdis, yaitu menghadap ke Masjidil Aqsa, yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Karena perintah Allah untuk menghadap Baitul Maqdis, umat Islam pun menghadap ke Baitul Maqdis. Tapi 16 bulan kemudian, umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk berpindah arah, menghadap ke Ka’bah, Kenapa tidak ke tempat lainnya?

“Nah, inilah yang perlu diketahui,” kata Habib Rizieq, “bahwa di dalam sejarah umat manusia dan para nabi, Ka’bah yang ada saat ini dan yang disaksikan oleh umat manusia seluruh dunia, tidak lain adalah satu tempat yang dulu dibangun oleh Bapak para nabi, seorang manusia yang begitu muliadan dihormati oleh pelbagai umat beragama. Beliau adala’h Khaliluilah Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim membangun Ka’bah, karena memang diperintahkan oleh Allah. Lalu, Ka’bah dilestarikan oleh putranya Ismail a.s hingga ke zaman Nabi Muhammad SAW, Pada saat Nabi Ibrahim, Ka’bah merupakan suatu tempat yang suci, bersih dari kemusyrikan.”

“Begitu roda sejarah berputar,” lanjut Habib Rizieq, “kemudian muncullah orang yang menyimpangkan ajaran Nabi Ibrahim yang hanif. Akhirnya mereka meletakkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. SampSi tiba masanya.Jahirlah Muhammad SAW sebagai keturunan dari Ismail as, untuk mengemban tugas dari Allah: membersihkan Ka’bah dari segala berhala dan kemusyrikan. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW membawa hasil yang menggembirakan, di mana seluruh berhala, baikyang ada di dalam Ka’bah maupun di luar Ka’bah, bahkan yang ada di seluruh kota suci Makkah, berhasil dihancurkan. Sampai kemudian, Ka’bah kembali pada kesuciannya dari kemusyrikan, sebagaimana permulaan Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s.”

“Yang ingin saya tekankan, kenapa harus Ka’bah yang dipilih? Karena Ka’bah memiliki nilai historis yang luar biasa, yakni nilai historis seorang Bapak para Nabi, Ibrahim a.s yang diakui kenabiannya, kerasulannya, keutamaannya, dan keistimewaanya, baik oleh umat Yahudi maupun umat Nasrani, terlebih oleh umat Islam itu sendiri. Jadi, kenapa Ka’bah yang dipilih. Itu tak lain, karena keta’ziman wa taqriman, yaitu sebagai penghormatan yang diberikan oleh Allah SWT, terhadap hasil kerja Nabi Ibrahim dengan kedua tangan sucinya, juga dari hasil kerja Nabi Ismail yang menjaga dan melestarikan Ka’bah. Dan Allah menginginkan agar Ka’bah tetap suci, dan tetap bersih dari kemusyrikan sampai hari kiamat nanti.”

Jawaban tak kalah penting tentang kenapa umat Islam diperintahkan untuk menghadap Ka’bah? Menurut Ketua Front Pembela Islam ini, “Itu, agar umat Islam setiap harinya, dan setiap detik hidupnya terus memperhatikan kelestarian Ka’bah. Tegasnya, segala waktunya, tenaga dan kemampuannya dicurahkan untuk menjaga Ka’bah, sehingga tidak lagi dikotori, dan dicampuri oleh kebatilan dan kemusyrikan. Alhamdulillah 15 abad berlalu, dari zaman Nabi Muhammad SAW, sampai saat ini, tak satu pun tangan kotor yang mengisi Ka’bah dan kota Makkah dengan berhala.”

Andai Ka’bah bukan menjadi Kiblat umat Islam, apa yang terjadi? Bisa Jadi umat Islam akan kurang pengorbanan dan perhatiannya terhadap Ka’bah. “Saya bisa buktikan, dulu saat Baitul Maqdis menjadi kiblat umat Islam, maka keberadaannya selalu diperhatikan, dijaga dan dipelihara. Tapi manakala Baitul Maqdis, sudah tidak menjadi kiblat umat Islam, kenyataaan yang terjadi, perhatian umat Islam terhadap Baitul Maqdis sudah mulai berkurang. Hingga Baitul Maqdis dikuasai oleh orang lain, orang Islam sepertinya tidak punya perhatian dalam menyatukan potensi dan kekuatannya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari intimidasi dan terror yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam,”papar Habib.
Bulan Sabit = Paganisme?

Salah satu hikmah yang bisa dipetik, kenapa umat Islam menyembah Ka’bah adalah adanya sarana edukasi luar biasa dari Allah, di mana umat Islam diajarkan untuk menyatukan visi dan misi, serta langkah perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah setiap saat. Dalam langkah itulah, ada satu tujuan yang sama, yakni: mencari keridhaan Allah semata. Ibadah haji yang dilakukan umat Islam dengan mengelilingi Ka’bah, bukan dimaksudkan untuk menyembah Ka’bah, tapi sebagai isyarat kepada hamba-Nya, bahwa apa pun suku dan bangsanya, kedudukan dan jabatannya, umat Islam dididik untuk rela menanggalkan pakaian dan perbedaan di antara mereka, juga menanggalkan pertikaian dan permusuhan di antara sesamanya. Intinya, mereka menuju titikyang sama, yakni keridhaan Allah. Maka tidak pernah ada ritual dalam Islam yang mengajarkan umatnya untuk menyembah Kab’ah.

Adapun yang berkaitan dengan bulan Sabit, Islam seolah mengelu-elukan bulan, dan terkontaminasi dengan faham mereka yang menyembah bulan. Habib Rizieq menjelaskan lebih jauh. Pada dasarnya Islam mengajarkan umatnya utuk memuliakan seluruh makhluk ciptaan Allah, apakah matahari, bulan, bumi ataupun bintang. Jadi tidak ada yang mewajibkan umat Islam menggunakan lambang berbentuk bulan. “Buktinya, anda bisa lihat sendiri, salah satu organisasi terbesar di Indonesia, seperti Muhammdiyah lambangnya tidak menggunakan bulan, tapi matahari. Begitu juga identitas FPl yang saya pimpin, tidak menggunakan bulan, tapi bintang dan tasbih. NU pun demikian, yang dipakarbukan bulan, tapi bumi dan bintang sembilan.”

Jadi tidak ada dalil yang mengkhususkan bahwa umat Islam selalu identik dengan bulan. Artinya, kalau ada masjid tanpa ada sentuhan bulan dan bintang pun tetap berfungsi sebagai masjid, “Islam sendiri, tidak terpaku dengan lambang-lambang ataupun simbol-simbol. Kalaupun diperlukan, itu hanya sebatas identitas diri, bukan tujuan untuk mengkultus, menyembah, apalagi sampai mengkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran dan peng ajaran-pengajaran paganisme (keberhalaan).”

“Nah, kalau saja ada umat Islam menyembah bulan, demi Allah orang itu sudah mempersekutukan Allah dengan bulan. Itu artinya, orang itu sudah murtad, kafir dan keluar dari Islam,” tandas Habib tegas. (Amanah)
 

12 responses to “Menjawab Tuduhan Miring Tentang ka’bah

  1. Saya senang juga baca tentang tulisan Mas Agus ini tentang Ka’bah. Cuma masih ada yang mengganjal dalam pikiran saya mas.

    Maaf ya, dalam pertemuan itu, ada ndak yang bertanya seperti ini: Jika ada umat Islam yang jadi astronot, katakanlah mendarat di bulan. Sholatnya menghadap ke mana ya? Ada ndak alat untuk menentukan kiblat (Ka’bah) itu untuk dipakai di luar angkasa?

    Sekali lagi maaf Mas Agus. Saya betul-betul tidak tahu, karena saya bukan muslim. Kalau ada jawaban yang Mas rumuskan atau temukan, reply ke darmayasa@sctvnews.com ya. Matur nuwun.

    Salam hangat.

    Dar

  2. Alhamdulillah,

    Terima kasih atas artikelnya🙂

  3. @yassuka

    kalau mereka ke bulan, ya tentu saja mereka masih menyembah ke arah ka’bah. Dalam hal ini karena ka’bah berada di permukaan bumi, maka sholat dengan mengarah ke bumi saja sudah cukup. Tak perlu ditentukan berapa sudut yang harus ia buat agar benar-benar presisi menghadap ke Ka’bah.

    Karena yang terpenting sebenarnya adalah hati hamba yang menyembah Allah, Salah satu Firman-Nya,
    “….. Di mana saja kamu menghadapkan mukamu, maka disitulah wajah Tuhanmu….., (maaf saya bukan ulama jadi tak hapal benar surat dan ayat berapa firman tersebut berada)

    Yang jelas ayat tersebut turun berkaitan dengan peristiwa orang-orang muslim yang bepergian dan mau melaksanakan Sholat, namun karena diantara mereka sama-sama tidak tahu dimanakah arah Ka’bah yang sebenarnya akibat cuaca yang buruk ,akhirnya terdapatlah beberapa golongan yang shalat dengan arah yang berbeda-beda.

    Dan paginya, saat cuaca cerah kembali ternyata mereka menemukan diri mereka telah shalat dengan tidak menghadap Ka’bah, Tidak satu golongan pun.
    Jadi jelas khan kalau sebenarnya umat islam itu tidaklah menyembah Ka’bah, karena Allah sendiri sudah berfirman seperti itu, andaikata sebelum Nabi SAW wafat datang perintah untuk shalat menghadap kota Kairo, Damaskus, Bagdad atau bahkan Jakarta sekalipun maka itulah kiblatnya. Karena yang dicari oleh umat islam dalam beribadah adalah wajah Allah, keridhoan-Nya. Sekali lagi bukan Ka’bah tujuan umat islam shalat.

    Ditambah lagi, jika kita masih dibulan, dan harus mengukur sudut dan kemiringan kita untuk menghadap Ka’bah tanpa salah satu derajatpun dalam shalat bukankah hal itu akan memakan waktu ? Bisa-bisa waktu shalat sudah habis sebelum arahnya ditemukan. Dan untuk menghitungya bukankah suatu hal yang sia-sia dan mempersulit diri jika kejadiannya justru seperti itu. Islam bukanlah seperti itu, islam adalah agama yang memberikan kemudahan dan keringanan bagi para pemeluknya dalam beribadah asal masih tetap terikat dengan hukum pokok yang mengaturnya.

    Terima kasih.

    @yang punya blog (siapa sih belum baca profilnya😀 )
    Salam kenal
    blognya bagus bisa membuka wahana berpikir secara mudah dan ringan.

  4. @ Yassaku: Sederhana saja Mas Darma. Ka’bah terletak dibumi. Tentunya cukup menghadap ke bumi. Bila diketahui arah jazirah arab (mekkah), tentunya menghadap kesana. Krn itu dalam Islam setiap orang shalat ada niat “Mustaqbilal qiblati” Artinya menghadap kiblat. Hal ini menyempurnakan shalatnya sekalipun ia tidak tahu dimana arah kiblat.

    Tidak usah jauh2 jadi astronot. Anda pernah lihat orang shalat didalam kereta api? Saya sering melakukannya. Menurut anda apakah orang tersebut harus mencari kiblat dulu? Tidak perlu. Cukup dia duduk dimana dia duduk dan menghadap kemanapun dia duduk. Mau barat atau timur yg penting niatnya mustaqbilal kiblat. Maka selesai. Shalatnya tetap diterima Allah. Catatan: kondisi ini berlaku sesuai yg anda bayangkan. jd astronot, di bis, kereta atau pesawat. Diluar itu, kami melakukannya secara normal. Ini yg dinamakan Ruqshah atau keringanan. Beginilah cara kami shalat. semoga jelas. salam!

  5. Ping-balik: FOR COMMUNITY INSTALATION ELECTRICAL

  6. Kalau mencium batu Hajr Aswad itu namanya apa mas ? Kenapa batu mesti dicium segala…bukankah itu juga musyrik…

  7. yeah…kita semua, disadari atau tidak, memang memerlukan sebuah simbol untuk identitas

  8. Alhamdulillah saya bisa bertemu dengan tulisan ini.Saya bersyukur dengar ada forum Aritmatia atau sejenisnya yang berusaha menempatkan semacam dialog, diskusi, dengar pendapat, duduk bersama antar keperbedaan pendapat,keperbedaan keyakinan,keperbedaan agama antar pribadi, golongan, umat dan aliran.Selama ini saya melihat umat beragama tsb identik dengan umat yang berada pada medan peperangan.Antara golongan satu bermusuhan dengan golongan lain.Antara sekte satu berperang dengan sekte lain. Antara pribadi satu bertinju dengan pribadi lain;di lingkungan Rt, suku bangsa, negara bahkan lingkup dunia. Antara umat beragama jenis agama satu dengan jenis agama lain,antara keyakinan umat kepercayaan satu dengan keyakinan umat kepercayaan lain.Pada hal neraka percaya bahwa tidak ada dua orangpun yang sama persis mengenai bentuk, karakter, kepribadian, phisik,psikis,situasi kondisi riel materiel moril materiel, fungsi,visi, misi-misi suatu pribadi yang diciptakan berbentuk keragaman (bukan kesepahaman). Saya kok rindu persatuan, persaudaraan, kekasihsayangan antara pribadi satu dengan pribadi lainnya,antara golongan satu dengan golongan lainnya,antara sekte satu dengan sekte lainnya, antara umat beragama satu dengan umat beragama lainnya. Agama ini sebenarnya diturunkan untuk kedamaian, kepersatuan, keperbaikan-keperbaikan. Akal dan keinginan manusiawi yang berkehendak mengatur menuju kedamaian, kepersatuan,keperbuatan baik antar umat manusia,sebenarnya tidak harus dilakukan dengan kekerasan,penekanan engan kekuasaan pribadi yang mencerminkan otoriter menggilas hak-hak mahluk lain dengan tanpa asas demokratis berkerelaan berkesadaran yang direkomendasikan Tuhan. Sebagai manusia yang bermartabat, berperasaan hendaknya bisa duduk bersama, bernegosiasi, bermusyawarah, bersolusijalan keluar, bersipunsium dengar pendapat,paling memahami, saling mengarti, saling toleransi. Dengan kondisi sekarang ini saya kok jadi pesimis, skeptis berkembang jadi hampir jadi apatis;sekaligus tidak percaya terhadap tokoh -tokoh di yang di depan bahkan muncul tuduhan bahwa orang-orang di depan itu sebenarnya orang biasa (tidak saya sebut remehan) yang sebenarnya tidak mampu merekut,menciptakan situasi kondisi yang sebenarnya sudah sama-sama kita inginkan. Bagaimana menurut anda jika kita berusaha menggalang struktur kepengurusan ;keorganisasian,struktur dewan pimpinan umat beragama dari pusat sampai daerah hingga tingkat Desa misalnya lengkap dengan departemen-departemennya yang menyeluruh di setiap bidang masalah kehidupan menjadi semacam pemerintahan sipil organisatoris universal antar lintas agama, suku,bangsa dan negara agar yang rindu eksistensi agama,Tuhan, kasihsayang ini bisa terwadahkan terorganisasi, terlindungi, terdratkan dalam satu ukhuwah kemanusiaan sebagai umat Tuhan yang Esa;walaupun kita tahu Tuhan Itu Punya sejuta nama Asmaul husna dalam ujud aslinya yaitu Ia bisa tanpa nama tapi berujud. Pleass review for this said.

  9. salam untuk semua….

    Senang sekali ternyata tulisan ini banyak yang menanggapi.

    # Yasa
    Salam hangat juga mas yasa..insya Allah saya kirim via e mail jawaban saya tentang pertanyaan mas. Tapi garis besarnya islam adalah agama yang penuh kemudahan. Jawabannya hampir mirip dengan jawaban ben bego yang sudah kasih komen juga : Dikendaraan saja kita tidak perlu menghadap kiblat apalagi di luar angkasa.

    mas bisa bayangkan kalau memang arah kiblat sholat itu harus tepat ke ka’bah, berapa banyak orang indonesia yang benar-benar mengukur arah kiblatnya, padahal indonesia jauh dari mekkah yang konsekwensinya melenceng satu derajat saja bisa jadi kiblat kita akhirnya menghadap ke ISRAEL.

    Prinsipnya bukan menghadap ke timur atau ke barat tapi adalah bagaimana kepatuhan seorang muslim kepada Allah SWT. Andai Allah meminta kami berkiblat ke TOKYO atau ke PARIS kami akan mengikutinya . sama seperti ketika Allah menyuruh umat islam memindahkan kiblat dari mesjidil AQSA ke mesjidil haram tempat dimana ka’bah berada maka umat islam yang baik akidahnya serta merta mengikutinya dalam rangka ketaatan kepada Allah sebagai sang pengatur kehidupan.

    # anas..makasih mas untuk jwabannya..hampir sama lah kira-kira.Profil saya bisa dibaca . tinggal klik aja yah

    # Benbego ..sipp mas..tapi kok namamu aneh yah ..hi hi hi

    # Shellingford..wah selamat datang joe…akhirnya mampir juga ke salah satu blogku..thnk u brother..tapi tentang simbol itu saya tidak sepenuhnya setuju. Khawatir kalau salah menyikapi simbol itu maka akan terjebak pada sebuah kemusrikan. Maka untuk hal ini saya masih berfikiran sama dari dulu : dakwah belum selesai..dan pendewasaan umat harus terus dilakukan melalui revitalisasi semangat IQRO.

    # agus …tentang mencium hajar aswad…umar bin khatab pernah berkata : ” andai tidak diperintahkan oleh Allah..aku tidak akan menciummmu hai batu ..” ini artinya apa… bahwa yang kita lakukan itu adalah bentuk ketaatan pada Allah saja. Inilah inti keimanan..bukan mencium batunya yang jadi inti ibadah ..tapi mentaati perintahnya..sama seperti kenapa kita harus ruku’..harus sujud…harus menyimpan dua tangan kita ketika kita sholat ..mengangkat tangan kita ketika takbir ….

    #agung aditya…betul mas kita beruntung ada arimatea..tapi untuk meyatukan agama-agama seperti yang diinginkan mas..menurut saya susah mas. Apalagi ada perbedaan akidah..menurut saya semua agama yang ada di Indonesia itu BEDA…tapi tetap kita bisa hidup berdampingan. sama seperti masyarakat madinah dulu ..tetap satu dalam perbedaan.

    pada Akhirnya satu prinsip yang bisa menjembatani itu semua ” untukmu agamamu dan untukku agamaku…salam hangat untuk mas yah …

  10. ahahaha, kalo perkara khawatir, apapun yg berlebihan tentunya nggak baik, kan? termasuk juga berlebihan dalam menyikapi simbol😀

  11. # shelling ford
    thats right brother ….( kayak jarwo kwat aje…he he he )

  12. Assalaamu ‘alaykum🙂
    Salam Ukhuwah & salam kenal.
    Ikhwanii fillah, Ana mw minta bantuan nya nih, Ana ditanya sama teman Ana: kenapa dalam niat sholat ada kalimat “mustaqbilal Qiblati”, knp tidak “Mustaqbilal Ka’bati”?
    Ana tunggu pencerahan dari Ikhwaanii smua nya.
    Wassalaamu ‘alaykum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s