MEKKAH SEBAGAI PUSAT IBADAH

Satu kiblat, dua Idul Adha, tiga Idul Fitri! Ya, itulah yang pernah terjadi di Indonesia. Meskipun kejadian itu telah berlalu dan tidak menimbulkan persoalan serius dalam hal kerukunan umat Islam Indonesia, tetapi tetap rnenarik untuk dicermati terutama dalam perspektif Islam sebagai kesatuan ibadah.

Islam memang memberi ruang bagi terjadinya perbedaan pendapat, tak terkecuali dalam beberapa hal yang menyangkut ibadah mahdhah. Namun, tidak pada semua hal perbedaan itu boleh terjadi. Artinya, ada batas-batas di mana kita bisa berbeda, dan ada batas-batas di mana kita tidak boleh berbeda. Ibadah haji, misalnya, adalah salah satu ibadah mahdhah penting dalam Islam (Rukun Islam).

Dalam beberapa hal, umat Islam boleh berbeda dalam tata cara pelaksanaannya (misalnya tercermin dari haji Ifrad, haji Qiran, haji Tamattu’). Tetapi dalam hal-hal mendasar, tidak boleh terjadi perbedaan dalam pelaksanaan ibadah haji, misalnya soal waktu pelaksanaannya (bulan Zulhijjah, dengan klimaks tanggal 9 Zulhijjah) atau soal tempat pelaksanannya (di Mekkah).

Idul Adha atau Idul Kurban adalah salah satu rangkaian dari ibadah haji yaitu hari pelaksanaan penyembelihan kurban (oleh jamaah haji). Rasulullah SAW bersabda, “Idul Fitri adalah hari saat berbuka dan Idul Adha adalah hari ketika umat menyembelih kurbannya” (HR Tirmizi). Sebelum Idul Adha, para jamaah haji melaksanakan tugas utamanya, yaitu wukuf di padang Arafah, sementara kaum Muslimin yang tidak sedang menjalankan ibadah haji melaksanakan puasa sunah Arafah.

Sebagai contoh kasus, pada tahun 2006 atau 1427 H pemerintah Arab Saudi menetapkan waktu wukuf di Arafah (9 Zulhijjah) pada hari Jumat, bertepatan dengan tanggal 29 Desember 2006, sehingga Idul Adha di Mekkah jatuh pada hari Sabtu, 30 Desember 2006. Sementara itu pada tahun 2000, pemerintah Arab Saudi menetapkan waktu wukuf di Arafah (9 Zulhijjah) pada hari Rabu, bertepatan dengan tanggal 15 Maret 2000, sehingga Idul Adha di Mekkah jatuh pada hari Kamis 16 Maret 2000.

Karena Idul Adha adalah satu rangkaian dengan ibadah haji, maka seharusnya waktu pelaksanaan Idul Adha yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi—sebagai khadimul haramain (pengelola dua tanah haram, Mekkah dan Madinah)—juga menjadi ketetapan bagi umat Islam di belahan bumi yang lain.

Konsep seperti itulah yang mayoritas diikuti umat Islam dunia, tetapi tidak di Indonesia. Penetapan Idul Adha di Indone­sia didasarkan pada perhitungan (hisab) atau penglihatan (rukyat) terhadap bulan (hilal) di wilayah geografis Indonesia sendiri. Oleh karena itu, sering terjadi perbedaan waktu Idul Adha di Indonesia dengan negara lainnya, khususnya dengan Idul Adha di Mekkah.

Maka pada tahun 2006 atau 1427 H, Idul Adha di Indonesia jatuh pada tanggal Ahad 31 Desember 2006, sehari setelah Idul Adha di Mekkah. Ini pula yang menyebabkan terjadinya dua Idul Adha 1420 di Indonesia.  Seperti telah kita ketahui bersama, pada tahun 1420 itu ada dua ldul Adha di Indonesia, yaitu hari Kamis 16 Maret 2000 yang didasari olah hisab dan hari Jum’at 17 Maret 2000, yang didasari oleh rukyat. Jika dalam rukyat bulan tidak tampak maka dilakukan istikmal (penyempurnaan hari = 30 hari) bulan sebelumnya (Zulqaidah).

Meskipun dari dua Idul Adha itu ada yang sama dengan Idul Adha di Mekkah, namun kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka. Artinya, sebagian besar umat Islam Indoensia yang melaksanakan Idul Adha pada Kamis 16 Maret 2000 tidak menetapkannya berdasarkan ketetapan Arab Saudi. Tak heran jika pada tahun-tahun sebelumnya, biasa terjadi perbedaan Idul Adha di Indonesia dengan ldul Adha di Mekkah. Tahun 1419 misalnya, Idul Adha yang ditetapkan pemerintah jatuh pada satu hari setelah ldul Adha di Mekkah.

Ketidaksesuaian antara Idul Adha di Indonesia—atau negara yang lain—dengan Idul Adha di Mekkah mengandung sejumlah kemusykilan. Pertama, Idul Adha yang berbeda dengan Mekkah itu, tentu saja, ahistoris dengan ibadah haji.

Kedua, ketidaksesuaian itu akan berimplikasi pada keruwetan hukum fiqh. Misalnya, puasa di hari raya (Adha atau Fitri) adalah terlarang. Jika Idul Adha di Mekkah jatuh pada Kamis 16 Maret 2000, sementara di Indonesia hari itu masih dianggap tanggal 9 Zulhijjah (karena Idul Adha jatuh pada Jum’at 17 Maret 2000) maka umat Islam Indonesia baru dalam taraf metaksanakan puasa Arafah. Bukankah hal ini (puasa di hari haram) musykil sekali?

Ketiga, ketidaksesuaian itu menunjukkan bahwa umat Islam lebih senang terhadap perbedaan dari pada kesamaan. Implikasi lebih jauh, akan muncul Islam versi Indonesia, Islam versi Mesir, Islam versi Afrika Selatan, atau Islam versi Amerika Serikat.

Sebenarnya, jika kita tidak terlalu egois dan angkuh dengan keindonesiaan (nasionalisme), persoalan penetapan hari raya (Adha dan Fitri) bagi umat Islam dunia tidakah terlalu rumit. Kuncinya, jika kita mau mengikuti penetapan hari raya di Mekkah. Ada tiga alasan yang bisa dikemukakan. Pertama, di Mekkah terdapat Baitullah (Ka’bah) sebagai kiblat shalat bagi umat Islam dunia. Dalam surat Ali Imran/3:96 dikatakan bahwa Baitullah di Mekkah itu diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manusia, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. Dalam pengertian yang lebih dalam, Baitullah adalah pusat kesatuan ibadah bagi umat Islam, termasuk di dalamnya Idul Adha atau Idul Fitri.

Kedua, ibadah haji (juga umrah) sebagai ibadah yang melibatkan secara langsung pertemuan jutaan umat Islam dunia­ bertempat di wilayah Mekkah (Masjidil Haram, Jabal Rahmah, Padang Arafah, Shafa-Marwah, Muzdalifah).

Ketiga, lebih khusus tentang Idul Adha, Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa hari Arafah adalah hari yang telah ditetapkan oleh Imam (Khalifah) dan hari berkurban adalah saat Imam menyembelih kurban (HR Tirmizi). Dalam hadits lain disebutkan bahwa pada masa Rasulullah Amir Mekkah, [beliau-lah] yang menetapkan pelaksanan haji, mulai dari wukuf, thawaf, bermalam di Muzdalifah, dan seterusnya (HR Abu Daud). Artinya penetapan wukuf, yang berefek pada Idul Adha, adalah berdasarkan ketetapan Amir Mekkah dan pelaksanaannya berlaku di seluruh pelosok dunia.

Saat ini memang tidak ada kekhalifahan Islam. Tetapi setidaknya ketetapan pelaksanaan hari raya yang dibuat pemerintah Arab Saudi—sebagai pengelola Mekkah dan Madinah—bisa menjadi jembatan pelaksaanaan Idul Adha (juga Idul Fitri) bersama. Sebab, dengan menjadikan Mekkah (juga Madinah) sebagai pusat ibadah umat Islam, insyaallah akan terbentuk kesatuan ibadah dan kemudian kesatuan umat Islam.

Jadi, satu umat, satu kiblat, satu Idul Adha, satu Idul Fitri! Semoga!

Mohammad Nurfatoni

One response to “MEKKAH SEBAGAI PUSAT IBADAH

  1. Jadi, satu umat, satu kiblat, satu Idul Adha, satu Idul Fitri! Semoga!
    satu khilafah juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s