Cina Pelajari Ki Hadjar Dewantara

ORANG Islam tentu mengenal hadis riwayat Ibnu Uda, Uthlubuull ilma walau biishshiin(i); yang artinya tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina. Makna hadis itu menganjurkan umat Islam untuk belajar menambah ilmu meskipun sampai jauh tempatnya dan bukan pada orang Islam. Mengapa Cina? Pada zaman Nabi Muhammad saw, 14 abad silam, negeri Cina yang berpenduduk non-Muslim amat terkenal peradabannya, apalagi mereka punya “nabi” seperti Lao Tse, Kung Fu Tse, dan sebagainya.

Hadis yang sarat dengan makna tersebut seringkali hanya ditafsirkan secara harafiah, yaitu supaya kita pergi ke Cina untuk mencari ilmu. Tidak mengapa karena hal itu sekarang benar-benar terjadi.

Baru-baru ini belasan “pendekar” dari berbagai perguruan tinggi yang ternama di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengunjungi Kota Nanjing, Cina dalam rangka menjalin kerja sama pendidikan dengan Jiangsu Provincial Department of Education (JPDE), khususnya di bidang bahasa dan kebudayaan. Inilah contoh konkret wujud dari penafsiran harafiah tersebut.

Ki Hadjar Dewantara

Belajar mencari ilmu ke Cina yang etnis penduduknya sangat beragam tentu tidak salah karena negeri tersebut sejak dulu terkenal dengan filsafat dan kebudayaannya. Namun, hal itu tidak berarti kita sama sekali tak memiliki “kekayaan” yang dapat dipelajari orang Cina; adapun salah satu di antaranya adalah konsep-konsep yang dikembangkan Ki Hadjar Dewantara.

Pada beberapa perguruan tinggi Cina, setidaknya Huazhong Normal University (HNU), ternyata banyak dokumen mengenai konsep Ki Hadjar yang didiskusikan. HNU sendiri bukan universitas “sembarangan”; menurut SJTU dalam ‘Top 40 General and Science Universities in Cina’ (2006); berada pada ranking ke-16 dari 40 universitas terbaik di Cina.

Suatu saat saya menerima email dari seorang mahasiswa Indonesia yang mengambil program S-2 di HNU. Ia minta izin mempresentasi makalah pendidikan saya tentang konsep Ki Hadjar yang ada di perpustakaan HNU dalam diskusi dengan mahasiswa lokal dan internasional.

Terus terang saya sempat terkejut. Berkunjung ke HNU sama sekali belum, tetapi di Kementerian Pendidikan Cina (Beijing) pernah saya lakukan. Begitu pula di beberapa perguruan tinggi seperti Renmin University of Cina (Beijing) dan The Chinese University of Hong Kong (Hong Kong). Pada kunjungan tersebut saya sempat membagi software makalah-makalah pendidikan saya utamanya mengenai Konsep Ki Hadjar (Taman Siswa) dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Kalau dalam kenyataannya di HNU terdapat dokumen makalah pendidikan saya, khususnya tentang konsep Ki Hadjar, itu berarti orang Cina memang mau belajar dari Indonesia. Hal ini diperkuat oleh pernyataan duta besar Indonesia di Cina, waktu itu Pak Kustio, bahwa orang Cina mau belajar filsafat dan budaya dari “Bangsa Timur” termasuk Indonesia.

Kelebihan Indonesia

Perkembangan teknologi dalam dua tiga dasawarsa terakhir ini adalah sangat pesat dan tidak dapat dimungkiri bangsa Barat sebagai panglimanya. Namun dari sisi filsafat, bangsa Indonesia memiliki kelebihan dibanding bangsa Barat dan bangsa-bangsa lain pada umumnya.

Ki Hadjar pernah mengembangkan (bukan menciptakan) Konsep Trihayu yang terdiri dari tiga tataran, yaitu pertama hamemayu hayuning sarira, kedua hamemayu hayuning bangsa, dan ketiga hamemayu hayuning manungsa (bawana). Adapun maknanya, dalam menjalani hidup ini hendaknya kita berusaha keras yang hasilnya bermanfaat untuk diri sendiri (sarira), selanjutnya bermanfaat bagi bangsa (bangsa), dan bermanfaat bagi manusia sedunia (manungsa/bawana).

Filsafat tersebut kelihatannya sangat sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Orang Barat umumnya tidak menjangkau tataran ketiga, dan mereka umumnya hanya pada tataran pertama dan kedua. Hidup mereka umumnya untuk diri sendiri (dan bangsanya), tidak untuk manusia atau bangsa lain di dunia ini. Oleh karena itu, mereka yang lebih “super” tidak enggan untuk menjajah bangsa lain secara ekonomi, teknologi, sosial, dan sebagainya.

Ki Hadjar juga mengembangkan filsafat “sugih tanpa bandha” yang maknanya kaya sahabat, ilmu, dan amal yang semua itu bisa mendatangkan “kecukupan” hidup; “ngluruk tanpa bala” yang maknanya mendatangi kesulitan, tantangan, dan rintangan hidup untuk diatasi; dan “menang tanpa hangasorake” yang maknanya memenangkan persaingan tanpa membuat lawan bersaing menjadi malu atas kekalahannya. Dalam filsafat Barat kita selalu dituntut menjadi pemenang kompetisi tanpa memedulikan perasaan pesaing kita. Munculnya konsep “win-win competition” itu setelah ada kombinasi dengan filsafat Timur.

Itu semua hanya sekadar ilustrasi tentang berbagai konsep pendidikan, filsafat, dan budaya yang dikembangkan oleh Ki Hadjar. Masyarakat Cina sendiri sebenarnya kaya filsafat seperti Tao, Laozi, Zhengyi, Zhuangzi, Quanzhen, Shamanisme, Wuisme, Confucius, dsb. Di samping itu banyak tokoh seperti Lao Tse, Kung Fu Tse, Kong Hu Cu, Zhou, dsb. Ajaran yang dikembangkan pada dasarnya sama seperti kesederhanaan, pengorbanan, kesetiaan, penghormatan kepada sesama, dsb. Meski demikian, mereka masih mau mempelajari ilmu dari orang lain, khususnya konsep-konsep Ki Hadjar yang sangat filosofis.

Kalau orang Cina saja mau mempelajari konsep-konsep Ki Hadjar, apakah tidak malu kalau kita melupakannya?***

Penulis : Oleh KI SUPRIYOKO, mantan Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN); Pembina Sekolah Unggulan “Insan Cendekia” Yogyakarta; dan Pengasuh Pesantren “Ar-Raudhah” Yogyakarta.
http://www.pikiran-rakyat.co.id/ceta…07/24/0901.htm

—————-

Sementara Indonesia kini, menjiplak habis semua model pendidikan ala Amerika. Mulai sistem program strata di PT dan kini model berbasis kompetensi, dari SD s/d PT. Model pendidikan AS ini sangat mekanis, menempatkan manusia tak lebih bagaikan ‘mesin’ pelayan dunia industri sehingga banyak nilai-nilai kemanusiaannya terkikis habis.
Sementara inti ajaran Ki Hadjar sederhana saja: ajarkan anak didik yang masih muda usia itu dengan pendekatan kasih-sayang dan budi luhur, nanti intelektualitas mereka akan berkembang sendiri menjelajah dunia keilmuan yang luas tak berbatas

3 responses to “Cina Pelajari Ki Hadjar Dewantara

  1. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://pendidikan.infogue.com/cina_pelajari_ki_hadjar_dewantara

  2. Dari bangsa/negara manapun yg telah berhasil dalam suatu segi kita bisa mengambil model pembelajaran untuk kita adaptasi bagi kemajuan bangsa kita, dan kita pilah2 sendiri apa yg positif dan apa yg negatif. Tidak semua yang dr barat buruk tp ada jg yg baik, demikian pula kl kita baca buku China Inc. ternyata tdk jg semua hasil pembangunan china membawa kebaikan. Kita jg hrs mau intropeksi bhw sampai saat ini kita sendiri blm bisa menggali nilai2 kita sendiri yg membawa kita pada kesejahteraan. Jd kita hrs mau belajar dr manapun yg punya model kesuksesan untuk kita rumuskan ulang menjadi model kita sendiri spt Gubernur Gorontalo misalnya dia kagum pada ekonomi jagung amerika ‘maizeconomic’ dan ternyata visi jagungnya yg sederhana tdk muluk2 tp confident dia perjuangkan telah membawa bukti peningkatan kesejahteraan bagi rakyat Gorontalo

  3. Pertanyaan selanjutnya : sampai seberapa kita mampu melawan arus “barat” yang terus menggerus kesadaran kesederhaan kita ??
    Mas ada info email/FB Ki supriyoko..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s